"Jeno, bisa--bantu aku?"
Jeno yang sedang memakai jaket kulitnya menoleh dengan malas, "Apa? Aku harus pergi sekarang, ini sudah jam setengah 12, nanti aku telat ke arena balapan."
"Ini, bisa tuliskan warna apa saja yang di coret ini? Setiap kata katanya di coret pakai spidol berwarna, tapi--aku tak bisa mengenalinya."
"Itu penting?"
Jaemin mengangguk, "Ya, aku perlu, untuk mengerjakan sesuatu."
Decakan Jeno terdengar, walau tak urung tetap mendekat dan meraih buku yang di sodorkan Jaemin, ia mengernyit melihat rumus rumus dan beberapa baris kalimat yang di coret dengan spidol berbeda beda warna. Ia meraih pena di meja, lantas dengan raut wajah malas mulai menulis nama nama warna di atas rumus dan baris kalimat tersebut. Jaemin yang duduk di samping nya tersenyum.
"Ini dari teman ku, tapi--dia tak tau terlalu banyak soal ku, jadi karena itu dia mewarnai setiap garisnya seperti ini," jelas Jaemin tanpa mengalihkan pandangan dari Jeno.
"Beritahu saja dia, lagipula itu bukan kekurangan ataupun dosa. Kalau seperti ini kan merepotkan ku," sahut Jeno tanpa membalas tatapan saudara kembarnya itu.
"Memang ini apasih?" sambung nya lagi, terlalu malas membaca banyak nya rumus yang memusingkan.
"Sesuatu yang harus ku pelajari, dia membantu ku, yaa kecuali bagian warna, ini sedikit merepotkan."
"Untuk olimpiade?"
"Aku tak ikut olimpiade di sekolah baru."
"Ikut saja kalau mau, bilang pada papa, dia akan menggunakan segala cara agar kau bisa ikut, itu hal mudah."
Jaemin melotot, "Aku tak mau curang begitu!"
Jeno memutar kedua bola matanya malas, "Hanya menggunakan kekuasaan yang kita punya, apanya yang curang? Memang salah mu punya papa yang kaya?"
Jaemin hanya menggeleng, tak mau menyahuti lagi ucapan Jeno, benar sih, tapi salah juga.
"Memang kalau ikut olimpiade--tak bisa melihat warna pun tak masalah?" tanya Jeno penasaran.
Jaemin menggeleng, "Tak ada peraturan kalau yang buta warna tak bisa ikut, bahkan di olimpiade Geografi juga tak masalah kalau buta warna."
"Kubilang juga apa, itu bukan kekurangan, kenapa harus di sembunyikan."
Tak ada jawaban, membuat Jeno menoleh, menatap kembarannya yang kini pura pura sibuk merapikan buku buku di atas meja belajar, "Dasar keras kepala," gumam Jeno pelan.
"Kau merasa itu memalukan dan tak boleh di ketahui orang lain, itu yang di sebut kekurangan, itu dilihat dari sudut pandang kita sendiri, bukan dari sudut pandang orang lain, Jeno."
__________________
Rose tersenyum, mengusap lembut rambut Jaemin yang nyaris terlelap.
"Aku bisa tidur sendiri, mama tak perlu menemani ku," bisik nya pelan di ambang kesadarannya, benar benar nyaris tidur.
"Mama yang tak bisa, mama ingin menemani putra mama yang tampan ini," jawab Rose lembut, netranya terus menyorot wajah Jaemin dengan lembut. Tak membiarkan apapun mengambil alih pandangannya, ia ingin terus menatap putra bungsu nya ini.
"Jaemin sudah tidur?"
Rose menoleh, menemukan Jeff yang bersandar di pintu kamar putranya, ia mengangguk, "Mungkin?"
"Aku juga ingun tidur disini saja malam ini," ucap Jeff seraya melangkah masuk, berbaring di sisi kiri Jaemin walau sedikit sempit.
"Kalau aku memeluknya, dia akan terjaga tidak?" tanya Jeff berbisik pada sang istri.
"Sepertinya tidak, coba saja," jawab Rose lembut.
Jeff dengan hati hati memeluk Jaemin, anak itu sempat bergerak pelan, sebelum akhirnya memegang tangan Jeff yang berada di atas dadanya, kembali terlelap dengan nyaman begitu saja, membuat kedua orang tuanya tersenyum gemas.
"Menggemaskan sekali, bagaimana ya tingkahnya saat kecil?" gumam Rose pelan, tangannya masih setia mengelus rambut Jaemin dengan lembut, duduk seraya bersandar ke kepala kasur dengan senyum manis yang tak luntur sejak tadi. Ah, putra nya...Jaemin nya...putra bungsu nya...
Tawa pelan Rose menguar, membayangkan bagaimana menggemaskannya Jaemin saat kecil, mungkin seperti Jeno?
"Dia pasti menggemaskan, seperti papa nya," ucap Jeff pelan, menaik turunkan alisnya kala Rose meliriknya.
Rose mendengus dengan senyum geli, "Iya iya, mereka menggemaskan seperti papa nya."
__________________________
BUGHH
"Kau kan yang memukuli saudara ku?!"
Jeno menggeram kesal, "KAU SIAPA SIALAN?! AKU BAHKAN TAK MENGENALMU! BAGAIMANA BISA AKU MEMUKUL SAUDARA MU?! APA AKU JUGA MEMBUNUH NENEK MU?! APA AKU JUGA MENGUBUR KAKEK MU?!"
Jisung dengan cepat menahan Jeno yang tampak begitu kesal, mereka tiba tiba datang dan memukul Jeno begitu saja, padahal Jeno sedang duduk santai bersama yang lain di atas motor masing masing begitu balapan selesai.
Lelaki itu berdecih, "Siapa? Kau memukul Eric! Kau masih berlagak tak tau apa apa?! Dasar bajingan tak tau diri!"
Ah, semua paham sekarang...
Jeno menyugar rambutnya kesal, berusaha mengatur deru nafasnya sendiri yang memburu karena emosi, "Sialan, apa dia sekarat atau sekarang jadi pengecut sampai harus mengirim orang lain seperti ini?"
"Kenapa? Mau ku remukkan juga tulang mu?" tanya Jeno, melangkah mendekat dengan raut wajah arogan.
Lelaki tersebut kian tersulut amarah, nyaris melayangkan pukulan jika saja tak di tahan.
"Ajak duel, harus adil agar semua selesai dengan mudah," bisik temannya.
Jeno terkekeh sinis, "Teman mu benar juga, ayo duel, biar aku bisa mematahkan leher mu dengan mudah dan di dukung penonton."
Mark dan yang lain saling melirik, apa ini aman? Jeno--tak dalam keadaan yang terlalu baik.
"Jeno, jangan gegabah--"
"Tak perlu khawatir, aku akan mematahkan lehernya, ini akan selesai dengan cepat."
Jeno akan menghancurkan semua yang berhubungan dengan Eric, lihat saja.
_________________________
"Astaga, Jeno, kenapa bisa begini?"
Tidur Jaemin terganggu, memilih membuka mata kala mendengar suara panik Rose dan erangan pelan Jeno. Ia mendudukkan diri perlahan, mendadak panik kala melihat Jeno yang kini tertidur di kasur dengan wajah penuh luka dan bercak darah di tangan.
"Ma, pa, apa yang terjadi?" tanya Jaemin dengam suara serak.
Rose menoleh, "J-jaemin, astaga, apa kami terlalu ribut? Tidur saja, tak apa, tak ada masalah serius."
Jaemin mendekat, meringis melihat keadaan Jeno, lantas melirik Jeff yang kini menghubungi dokter.
Jeno mengerang pelan, memegang lengannya yang terkena luka sayatan, sial, Jeno tak akan membiarkan mereka semua, lihat saja, Jeno juga akan memakai cara curang!
"Jeno, sudah berapa kali papa katakan berhenti berkelahi--"
"Astaga diam dulu, putra ku sedang kesakitan, nanti saja mengomeli nya," sela Rose cepat.
Jeff mendengus, Jeno saja yang terlalu keras kepala, sudah berulang kali mengingatkan soal ini tapi tak pernah di dengar.
"Jaemin, lanjutkan saja tidur mu. Jeno akan baik baik saja, dokter akan datang sebentar lagi."
Jaemin menggeleng, "Aku akan menunggu."
Jeno mendengus, "Tidur saja, jangan sampai besok kau pingsan karena kurang istirahat, merepotkan."
Jeff dengan geram menepuk pelan bibir putranya, "Bilang saja khawatir."
"Siapa? Aku? Tidak mungkin! Jangan berkhayal!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Iridescent ; Na Jaemin
Teen Fiction"Aku tak akan pernah menerima mu, lebih baik kau mati!" "Kau--sungguh berkata seperti itu?" ____________________ Jeno tak pernah menyangka, 17 tahun hidup ia malah menerima fakta bahwa ia mempunyai kembaran. Bertolak belakang, amat berbeda dengannya!
