"Dari hasil pemeriksaan di lokasi, korban dinyatakan meninggal dunia di tempat akibat hantaman yang sangat keras di kepala serta kondisi tubuh yang terjepit di dalam mobil."
Rose nyaris jatuh jika saja Jeff tak segera menahannya, "Tidak, Jaemin..."
"M-mungkin kau salah, putra ku ada di kursi penumpang--"
"Semua yang terlibat dalam kecelakaan meninggal, satu korban sempat berusaha di selamatkan namun meninggal di rumah sakit, dia adalah supir taxi. Putra anda yang berada di kursi penumpang taxi, bukan?"
Hati Rose berdenyut nyeri, ia mendadak kesulitan menarik nafas, seluruh tubuhnya terasa kehilangan tenaga, "Jaemin..."
Dan tak jauh dari keduanya, Jeno juga merasa nyaris kehilangan pijakan. Ia berlari dari depan ruang operasi ke ruang jenazah setelah mendapat kabar ini dari sang ayah.
Otaknya tak bisa percaya sedikitpun, tadi ia masih melihat Jaemin, tadi tangannya masih bisa menyentuh kembarannya itu, tak mungkin, apa Jeno bermimpi buruk karena terlalu khawatir soal masalah ini?
"Jaemin!" Rose meraung keras dalam pelukan Jeff, wajah wanita itu basah dengan air mata, isak tangisnya terdengar menyakitkan.
Ia tetap disana, tak punya keberanian untuk melangkah masuk dan melihat jenazah putra bungsunya.
Tidak, Rose tak mau melihatnya, Rose tak mau percaya, ini hanya mimpi, ini tak nyata, putranya masih ada, Jaemin nya masih hidup!
Dan di tengah isak tangis menyedihkan tersebut, langkah kaki mendekat terdengar. Disana, Eric melangkah mendekat dengan sisa tenaganya, tampak begitu shock dan ling lung. Bahkan melewati Jeno begitu saja.
BRUKK
Tepat di hadapan Rose dan Jeff, Eric berlutut, lelaki itu berusaha meredam tangisnya walau usahanya sia sia. Tangisnya terdengar bersahutan dengan tangis pilu Rose.
"Aku minta maaf, aku menjebak Jaemin, aku--sungguh minta maaf," Eric berlutut dengan tangis keras.
Langkah Jeno yang hendak mendekat seketika terhenti, di depan ruang mayat yang amat sepi, detak jantungnya sendiri terdengar begitu keras, netra kelamnya menatap Eric yang masih menangis serata berlutut di hadapan Rose dan Jeff.
"Aku menjebaknya, aku--menyuruh teman untuk menghubungi Jaemin seolah perawat dan menyuruhnya datang saat aku masih di tangani, yang mencuri hp Jaemin juga teman ku, aku minta maaf," Eric terisak keras, menangis dengan raungan pilu penuh penyesalan.
Jeno gemetar, langkahnya termundur begitu saja.
Jaemin--di jebak?
"Aku tak akan pernah menerima mu, lebih baik kau mati!"
"Kau--sungguh berkata seperti itu?"
Jaemin--tak melakukan semua itu?
"Dari hasil pemeriksaan di lokasi, korban dinyatakan meninggal dunia di tempat akibat hantaman yang sangat keras di kepala serta kondisi tubuh yang terjepit di dalam mobil."
Jaemin--sudah meninggal?
"Kau--apa kau masih bisa menganggap diri mu manusia?! APA SALAH PUTRA KU PADA MU?!" Rose berteriak, nyaris memukul Eric jika saja Jeff tak memeluknya erat.
"Rose--"
"Dasar iblis! Kenapa iblis seperti mu dibiarkan lahir dan membunuh putra ku?! Kenapa bisa Tuhan menurunkan iblis seperti mu dalam bentuk manusia?!"
"AKU TAK AKAN MELEPASKAN MU! DASAR IBLIS PEMBUNUH!" Rose memberontak kuat, terus berteriak dan mengumpati Eric yang hanya menunduk dan menangis.
Bahkan saat Rose menendangnya dan kepalanya terhantam heels wanita tersebut, Eric tetap diam disana, seolah menerima semuanya dengan pasrah dan penuh rasa bersalah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Iridescent ; Na Jaemin
Ficção Adolescente"Aku tak akan pernah menerima mu, lebih baik kau mati!" "Kau--sungguh berkata seperti itu?" ____________________ Jeno tak pernah menyangka, 17 tahun hidup ia malah menerima fakta bahwa ia mempunyai kembaran. Bertolak belakang, amat berbeda dengannya!
