baru inget soal ulang tahun, ngga ada yang mau ucapin selamat? yaa walaupun udah lewat sih...
kalian muak ngga sii akhir akhir ini aku up terus?
jangan lupa komen yang banyaakkkkkkkk
________________________
"Jaemin belum kembali?"
Rose yang sedang menuang jus ke gelas menatap Jeno, senyum tipis terukir di bibir wanita itu, "Kenapa tanya mama? coba tanya sendiri pada Jaemin."
"Aku tak penasaran, aku hanya bertanya," jawab Jeno cepat.
Jeff yang duduk di hadapan Jeno tersenyum menggoda, "Kenapa? Kurang ya sarapan tanpa Jaemin? Kesepian?"
Jeno melotot kesal, "Aku hanya bertanya! Memang di rumah ini tak boleh bertanya?"
"Katanya Jaemin kembali nanti malam," ucap Rose bohong.
Raut wajah Jeno seketika berubah tak terima, "Apa apaan, memang Jay siapa sampai harus di rawat sampai nanti malam? Kenapa tak sekalian menjadikan Jaemin asistennya?"
"Bukannya kau tak suka dekat dengan Jaemin? Jadi ini pasti menguntungkan mu, dia pulang nanti malam," timpal Jeff lagi, "Atau kau tak mau jauh jauh dengan Jaemin?"
"Tidak! Aku--maksud ku--Jay membuat Jaemin seperti pembantu, memang tak ada yang bisa merawatnya selain Jaemin? Aku tak bilang aku keberatan Jaemin pulang nanti malam," Jeno menatap kedua orang tuanya bergantian sebelum kembali menatap sarapannya yang nyaris habis setengah.
"Padahal ini hari libur, mama kan ingin menghabiskan waktu dengan keluarga mama. Jeno, mau tidak menjemput Jaemin?"
Rose tersenyum lebar, "Jaemin bilang dia minta di jemput jam 9 nanti, bisa tolong jemput Jaemin, tidak?"
________________________
Jaemin membuka sedikit tirai kamar, menatap seisi kamar yang sudah ia rapikan, barulah ia memilih keluar dan menutup pintu dengan hati hati agar Jay yang terlelap tak terbangun.
"Aku pesan taksi saja," gumamnya kala sudah keluar dari unit Jay dan menuju lift. Ia membalas pesan dari yang lain juga dari sang ibu, sibuk dengan hp bahkan hingga keluar dari lift dan gedung tersebut.
"Jaemin?"
Dan panggilan tersebut berhasil menarik atensi Jaemin dari hp nya, lelaki itu mengerjap pelan, "Eric?"
"Ya, kau--tinggal disini?"
Jaemin menggeleng, "Hanya mengunjungi teman."
"Oh, sama, aku juga baru saja mau mengunjungi teman. Kau mau pulang ya? Mau ku antar?"
Senyum tipis Jaemin terukir, menggeleng dengan sopan, "Tak perlu--"
TINN TINNN
Keduanya menoleh, Jaemin terdiam tak percaya melihat Jeno yang kini menatap keduanya dari dalam mobil.
"Masuk, kau tak mau pulang?"
Jaemin menoleh kembali pada Eric, "Aku duluan, terimakasih tawarannya."
"Tentu, hati hati di jalan," balas Eric dengan suara pelan yang hanya bisa di dengar Jaemin.
Tatapan Jeno dan Eric beradu kesal, bahkan hingga Jaemin masuk ke mobil, Jeno masih melayangkan tatapan tajam dengan kesal.
"Jeno, ayo," ucap Jaemin seraya menepuk pelan lengan kembarannya itu.
Jeno hanya berdehem, melirik Jaemin sekilas dengan pandangan rumit.
'Tadi terlalu ramah untuk di sebut musuh, apa apaan?"
______________________
"Mama mau nonton film horor saja."
"Film action saja, bulan lalu juga film horor," jawab Jeno tak setuju.
Rose merengut, beralih pada Jaemin yang duduk di sampingnya, di sofa yang sama, "Jaemin, bujuk kembaran kamu itu supaya mau nonton film pilihan mama."
Jeno tak mau kalah, menggoyang pelan lengan Jeff yang hanya menyaksikan keributan keduanya, "Papa, bujuk istri papa untuk nonton film lain."
"Lagipula kalau film horor mama tak menonton, malah sibuk menutup muka dengan bantal, sama saja tak menonton," ejek Jeno.
Rose memasang wajah dramatis, "Jaemin, kenapa diam saja? Ayo bela mama."
Jaemin terkekeh canggung, mendadak teringat Jay dan yang lain saat mengambil keputusan, "Suit saja, biar lebih adil."
Jeno merengut, "Masa mama tak mau mengalah, aku kan anak mama."
"Masa kamu tak mau mengalah? Mama kan ibu mu," balas Rose ikut ikutan pada Jeno.
"Bagaimana kalau kita nonton film komedi saja, keputusan yang tepat, kan?" Jeff menengahi dengan cepat.
"Aku setuju," Jaemin ikutan menjawab, memilih jalan paling aman.
"Baiklah, karena suami mama bilang begitu, kita nonton itu saja."
"Giliran ide papa saja setuju! Padahal aku anak mama," Jeno merengut tak terima, sok sokan meringsut menjauh dari Rose yang duduk di atas sofa.
Rose dengan cepat menarik kerah sweater anak itu, "Astaga, anak mama yang ini merajuk lagi. Memang Jeno nya mama mau nonton apa?"
"Action," jawab Jeno masih sambil merengut.
"Yasudah, nonton film action saja, biar Jeno yang pilih film nya," ucap Rose sambil terkekeh, gemas dengan tingkah putra sulung nya tersebut.
"Kenapa tak daritadi? Mama memang lebih sayang papa daripada aku."
Jeff yang duduk di bawah bersama Jeno dengan gemas memiting leher anak tersebut, "Memang harus begitu! Kalian ada karena papa, ya!"
"Papa sadar diri! Aku ini anak, harusnya lebih sayang pada ku daripada papa, papa kan sudah tua, harus lebih sayang pada anak anak."
"Sudah bicaranya? Pokoknya papa nomor satu, kalian nanti dulu."
Jeno memberontak tak terima, sebelah tangannya memukul kaki Jaemin pelan, "Jaemin! Ayo lawan ucapan papa! Kita yang harusnya nomor satu!"
Jaemin tersenyum geli, "Iya, kita nomor nol."
"Berarti kalian tak di hitung, lagian mama itu istri papa, kalian kalau mau di sayang sana cari orang lain."
"Jadi maksud papa kita harus di sayang istri orang lain saja?"
Rose dan Jeff kompak melotot, "Hey! Sembarangan sekali!"
_________________________
"Tadi kau sedang apa dengan Eric? Dia mengganggu mu?"
Jaemin yang sedang memilih es krim di kulkas menoleh, "O-oh, tak sengaja bertemu, tak ada masalah, kau tak perlu ribut dengannya."
Jeno mengernyit, bersandar pada pantry, "Dia mengancam mu?"
"Tidak, dia--hanya meminta maaf," jawab Jaemin asal, tak ingin Jeno kembali bertengkar dan terluka lagi karena Eric. Berkata bahwa baikan pun tak mungkin, Jeno terlihat amat tak menyukai lelaki itu.
"Jauhi dia, jika dia mengganggu atau mengancam mu bilang saja, tak perlu dekat dekat dengannya, aku tak suka, kau mengerti?"
"Bagaimana jika dia berniat minta maaf--"
"Itu tak mungkin, jangan terlalu mudah percaya, kau tak perlu memaafkannya, aku tak bercanda saat bilang jangan dekat dekat dengannya," sela Jeno begitu saja, dahinya mengernyit, menandakan seberapa tak suka ia dengan ucapan Jaemin.
Jaemin menarik nafas dalam, "Baiklah, aku mengerti."
"Jaemin, cukup kau berada di antara Jay dan yang lain. Jangan sampai kau berada di antara Eric dan teman temannya juga, apa kau ingin berada di tengah para musuh ku?"
"Tidak, aku tak bermaksud begitu."
Apa sesulit ini mengatakan bahwa Eric sudah meminta maaf dan Jaemin memaafkan? Baiklah, tak perlu di katakan. Jaemin cukup diam saja dan tak membuat keributan, dan semua akan baik baik saja.
Benar, sebaiknya begitu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Iridescent ; Na Jaemin
Teen Fiction"Aku tak akan pernah menerima mu, lebih baik kau mati!" "Kau--sungguh berkata seperti itu?" ____________________ Jeno tak pernah menyangka, 17 tahun hidup ia malah menerima fakta bahwa ia mempunyai kembaran. Bertolak belakang, amat berbeda dengannya!
