"Kau pulang dengan siapa?"
Jaemin yang baru masuk ke kamar mengerjap, menatap Jeno yang bertanya, bahkan sebelum Jaemin sempat menutup kembali pintu kamar, "Aku? Tentu saja dengan Jay?"
"Kau berbohong sekarang?"
Ada keheningan panjang yang mengisi, sampai akhirnya Jaemin menyadari sesuatu, "Ah, teman mu menceritakan soal tadi, ya? Aku hanya tak sengaja berpas pasan dengan Eric, Jay sedang menemui temannya sebentar, jadi aku menunggu di luar mobil dan Eric ada disana, tak ada hal buruk, hanya kebetulan."
Jeno beranjak bangun, menatap Jaemin datar seperti biasa, "Jauhi dia, jangan dekat dekat, aku tak mau repot kalau dia memukul mu atau mengganggu mu."
Bahkan Jaemin belum sempat memberi jawaban, Jeno langsung berlalu pergi keluar dari kamar begitu saja, seolah tak butuh jawaban dari Jaemin.
"Apa aku salah?" gumam Jaemin kebingungan, menatap pintu kamar yang sudah tertutup seraya berpikir keras.
Yah, apapun yang Jaemin lakukan memang selalu terlihat salah di Jeno, sih.
________________________
Rose mengernyit, raut wajahnya yang mengantuk terlihat kebingungan kini, menatap Jeno yang masih duduk di sofa ruang keluarga seraya bermain hp. Lantas netra wanita tersebut beralih menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 1 pagi.
"Jeno? Kenapa belum tidur?"
"Mama?"
Alih alih ke dapur untuk mengambil air seperti tujuan awalnya, Rose memilih mendekati putranya, tersenyum teduh seraya berdiri di sisi Jeno, "Kenapa belum tidur? Atau Jeno kan bisa main game di kamar, tidak mau suaranya menganggu Jaemin, ya? So sweet sekali."
"Aish mama ini, berhenti mengejek! Aku hanya malas, aku nyaman bermain game disini saja," jawab Jeno.
Rose masih mempertahankan senyum nya, bertanya dengan ragu, "Kamu--masih tak bisa menerima Jaemin, ya?"
Hal langka, Jeno mematikan hp nya begitu saja, "Ma, aku tak mau membahas itu dan berakhir membuat mama sedih, kita bahas itu lain kali."
"Jeno, apa punya saudara sangat merepotkan mu?"
"Mama, ayolah. Aku tak mau membahas ini, aku hanya belum terbiasa--"
"Jadi lama lama pasti terbiasa, kan? Kamu hanya perlu membiasakan diri, kan? Kamu bisa menerima Jaemin nantinya, kan?"
Tak ada jawaban, Jeno mendongak, membalas tatapan penuh harap Rose dengan rumit, melihat dengan jelas bagaimana sang ibu terlihat sangat berharap pada jawabannya.
Jeno beranjak bangun, mengecup pipi Rose singkat dan tersenyum, "Kita bahas itu lain kali, selamat malam, mama."
Rose menarik nafas dalam, menatap kepergian putranya dalam diam, bibirnya menarik senyum miris, "apa ini hukuman untuk kelalaian ku saat menjaga Jaemin dulu?"
"Ya Tuhan, kenapa harus ada kebencian rumit seperti ini."
"Hanya sebuah keluarga yang utuh, apa aku tak akan pernah bisa mendapatkannya?"
________________________
"Kau berangkat dengan ku, kan?" tanya Jeno, sadar tatapan Rose terus mengikutinya pagi ini.
Jaemin mengangguk walau ini terlalu tiba tiba, tetap melanjutkan sarapan dengan tenang seperti biasa, apalagi sadar, Rose tak seperti biasanya pagi ini.
Ah, pasti karena pembicaraan Rose dan Jeno semalam, ya.
Pagi ini sarapan di lalui dengan tenang, terlalu tenang. Jaemin segera beranjak bangun setelah selesai sarapan, mengecup pipi Rose singkat, lengkap dengan senyum manis nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Iridescent ; Na Jaemin
Teen Fiction"Aku tak akan pernah menerima mu, lebih baik kau mati!" "Kau--sungguh berkata seperti itu?" ____________________ Jeno tak pernah menyangka, 17 tahun hidup ia malah menerima fakta bahwa ia mempunyai kembaran. Bertolak belakang, amat berbeda dengannya!
