komen yang baaanyak di tiap paragrafnya, kalau komennya ngga banyak lanjut bulan depan AHAHAHAHAHAHAH
see u guysss
happy reading ♡
___________________________
"Aku tak peduli! Bayar mereka! Bayar semua orang untuk tutup mulut!"
Rose tampak tak terima, "Bahkan walau Jaemin benar benar terlibat, mereka tak akan bisa menyeret putra ku ke penjara!"
"Rose--"
"MEREKA TAK AKAN BISA MENYENTUH PUTRA KU!" Teriak Rose murka, nafasnya terengah penuh amarah, tatapannya tampak amat tajam, seolah mempertaruhkan semuanya setelah mendengar kejadian ini.
"Jeff, selesaikan ini. Jika mereka berani memborgol tangan putra ku, aku tak akan tinggal diam!"
Jeff menarik nafas dalam, berusaha tetap tenang dalam situasi yang kacau dalam sekejap ini, "Rose--"
"Jaemin? Sayang, apa kamu terluka? Kamu baik baik saja?" Rose berlari mendekat pada Jaemin yang baru saja memasuki ruang keluarga. Anak itu tampak lemah, tatapannya kosong, namun jejak air mata terlihat jelas di pipinya.
"Mama maaf, aku--sungguh minta maaf--"
Rose menggeleng, menangkup wajah putranya dengan kedua tangannya, "Jaemin, tenang. Semua akan selesai, semua akan baik baik saja, tak perlu takut."
Jeff kian kacau melihat situasi ini, beberapa remaja lain yang terlibat dalam kasus pengeroyokan Jisung di seret ke kantor polisi, ini masalah serius mengingat bagaimana kondisi Jisung.
"Ada mama disini, mama akan melindungi mu, tak perlu takut," Rose berusaha menarik senyum.
Jeff mengerjap kala satu solusi terlintas di benaknya, "Jaemin."
Keduanya menoleh mendengar panggilan Jeff, Rose dengan cepat memeluk Jaemin yang kini memang tampak amat terkejut dengan semuanya.
"Pergilah ke New York, papa akan membereskan semuanya disini, kamu tak terlibat dalam masalah apapun," ucap Jeff dengan tenang.
"Apa kamu kehilangan sesuatu? Hp mu, apa mereka mencuri hp mu?" Jeff cukup cepat tanggap setelah mendengar semuanya dari sang sekretaris, cukup tanggap sampai bisa menghalangi polisi menginjakkan kaki di kediamannya.
Jaemin mengangguk kaku, "Aku--sungguh tak melakukan semua ini--"
"Iya, kamu tak melakukannya. Jangan takut, semua akan baik baik saja."
Sial, satu satunya masalah adalah beberapa remaja lainnya mengaku Jaemin adalah dalang dari semua ini. Jeff menarik nafas dalam, "Kamu ada dimana saat kejadian itu terjadi?"
"Aku--di rumah sakit menemani Eric," jawab Jaemin.
"Baiklah, ini cukup, rekaman cctv dan pernyataan Eric cukup, semua akan selesai, tak perlu khawatir."
Jeff mendekat, mengusap surai Jaemin dengan lembut, ia menarik senyum menenangkan, "Pergilah ke New York dan tenangkan diri mu, berada disini tak baik saat situasi seperti ini."
Jeff tak ingin Jaemin merasa tertekan disini, jika masalah ini tak bisa di selesaikan karena mereka semua menyebut nama Jaemin, setidaknya Jaemin sudah pergi jauh.
Jeff tak akan membiarkan putranya tertekan dengan masalah ini. Dia tak akan membiarkan mereka bisa menyentuh Jaemin sedikitpun.
Drtt drtt
Jeff mundur, dengan cepat mengangkat panggilan dari sang asisten.
"Mereka mengaku di bayar tuan muda, dan--Eric mengaku dia juga di bayar, ada bukti mereka sempat bertemu, dia mengaku tuan muda Jaemin meminta nya untuk menyingkirkan Jisung, jadi dia memerintahkan teman temannya untuk melakukan penyerangan ini, dan mereka akan menerima bayaran setelah semuanya selesai."
"Eric?"
"Ya, dia bilang dia dan tuan muda Jaemin sengaja di rumah sakit agar mereka punya alibi jika semua terbongkar. Pernyataan nya diperkuat karena ternyata Eric masuk rumah sakit dengan luka pukulan yang di sengaja temannya untuk mengatur agar dia bisa ke rumah sakit."
Sial...
_________________________
Jaemin duduk termenung di dalam taxi yang melaju tersebut, tangannya yang gemetar menggenggam erat pasport serta handphone milik Rose di tangannya.
"Jaemin, semua akan baik baik saja. Pergilah dulu, ada asisten papa di bandara, mama akan menyusul besok."
Semua--akan baik baik saja...
Namun seperkian detik, Jaemin menyadari sesuatu, ia membuka handphone Rose, dengan cepat berusaha mencari kontak Eric, bukankah Eric dan ibunya saling kenal?
Benar, netra hazelnya menatap lekat kontak Eric, sebelum memilih menekan untuk menghubunginya.
Tepat pada dering ketiga, suara Eric terdengar.
"Aunty, maaf, Jaemin memang terlibat dalam penyerangan ini--"
"Apa kau puas sekarang?"
"...Jaemin?"
Jaemin menarik nafas dengan gemetar, "Kau--puas sudah menghancurkan ku seperti ini?"
"Apa ini tujuan mu? Apa ini hasil dari kekhawatiran ku? Harusnya aku tak pernah peduli bahkan jika kau mati di hadapan ku, karena nyatanya saat aku membiarkan mu mendekat, kau menusukku tanpa ragu, sungguh--hebat sekali."
"Apa kau senang sekarang? Rencana mu berhasil dengan mudah."
Jaemin terkekeh miris, "Kau pasti bersyukur karena aku dengan mudah bisa kau hancurkan."
"Berapa malam yang kau habiskan untuk berdoa sampai semua rencana busuk mu berjalan selancar ini?"
Hening, tak ada jawaban, namun panggilan tak juga di matikan, seolah Eric mendengar semuanya tanpa ada niatan menjawab.
Bibir Jaemin menarik senyum sendu, "Eric, selamat, rencana mu berhasil, kau pasti sangat senang sekarang."
Suara Jaemin terdengar gemetar, "Selamat--sudah menghancurkan hidup ku sampai seperti ini."
Menghancurkan--kebahagian yang bahkan belum sempat Jaemin raih.
"Sungguh, selamat karena telah membunuh ku dengan perlahan seperti ini sejak dulu."
"Semoga Tuhan--memberkati hidup mu yang kau bangun susah payah di atas penderitaan ku selama ini."
"Jaemin--"
TINN TINN
Jaemin menoleh perlahan, jantungnya seolah berhenti berdetak dengan paksa kala melihat sebuah mobil melaju cepat dan sudah amat dekat dari sebuah persimpangan yang sedang taxi yang Jaemin tumpangi lewati, tanpa bisa di cegah menciptakan benturan keras yang suaranya seolah siap merenggut nyawa siapa saja disana.
BRAKKKK
__________________________
BRAKKKK
Eric meneguk ludahnya kasar, "J-Jaemin?"
Panggilan terputus begitu saja, namun Eric tak bodoh untuk menyadari situasi setelah mendengar bunyi klakson dan suara hantaman yang memekakkan telinga tadi.
Tangan Eric gemetar, pandangannya terangkat kala mendengar derap langkah kaki yang mendekat, menemukan Rose dan Jeff mendekat dengan tatapan tajam dan kecewa.
Eric ingin berteriak, namun yang keluar hanyalah desisan lirih yang gemetar, "Tolong selamatkan--Jaemin..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Iridescent ; Na Jaemin
Teen Fiction"Aku tak akan pernah menerima mu, lebih baik kau mati!" "Kau--sungguh berkata seperti itu?" ____________________ Jeno tak pernah menyangka, 17 tahun hidup ia malah menerima fakta bahwa ia mempunyai kembaran. Bertolak belakang, amat berbeda dengannya!
