"Jaemin? Lebih bagus yang biru atau pink? Atau--dua duanya tidak bagus, ya?"
Jeno melirik Jaemin yang masih terdiam di sisi sofa lainnya, ah, sial, kenapa Jeno bisa lupa hal ini sih? Jelas ini akan jadi pertanyaan yang Rose tanyakan pada mereka saat memilih gaun, Jeno memperbaiki posisi duduknya, berpikir keras untuk membantu Jaemin--ah tidak, dia melakukan ini agar Rose tak sedih soal Jaemin.
"Jaemin--"
"Akhh--ma, k-kepala ku sakit," Jeno meringis, ia menutup wajah dengan kedua tangannya dan menumpukannya di lutut.
Rose dengan panik mendekati Jeno, "Hey, apa sakit sekali? Astaga, ayo ke rumah sakit. Sebentar, mama hubungi ambulance--ah tidak, kita membawa mobil, Jeff, bawa Jeno ke mobil. Jaemin--"
"Ma, aku tak mau ke rumah sakit, aku mau pulang saja, pusing, aku merasa sangat pusing," bisik Jeno pelan.
"Baiklah, Jeff cepat bawa Jeno ke mobil. Ayo Jaemin," Rose dengan lembut menarik tangan Jaemin untuk bangun.
"Oh hampir lupa, saya beli semua yang saya coba tadi."
_________________________
Jaemin masih terdiam, tak membuka suara sejak pulang tadi, duduk melamun di sofa kamarnya dan Jeno, kedua tangannya saling meremat, pertanyaan Rose kembali terngiang, ah, sampai kapan Jaemin akan menyembunyikan ini?
"Aku tak mati, kenapa kau diam seolah olah saudara kembar mu sudah mati saja?"
Suara ketus Jeno berhasil menarik kesadaran Jaemin, ia beranjak bangun menghampiri Jeno, "Kau baik baik saja? Haus? Pusing? Atau kau membutuhkan sesuatu yang lain?"
Jeno menggeleng, dengan santai beranjak bangun dan menyandarkan diri ke kepala ranjang, ia menatap Jaemin, "Aku ingin bertanya sesuatu, ini karena aku penasaran."
Jaemin mengangguk, "Iya, tanyakan saja."
"Jika kau terjebak di dalam hutan saat tengah malam, tak ada lampu atau apapun, hanya hutan gelap dan warna daun saja yang terlihat, apa kau bisa melihat?"
Hening sesaat, Jaemin kemudian menggeleng dengan tenang, "Tidak, saat SMP aku pernah tersesat di hutan, aku merasa seperti benar benar buta, aku tak bisa melihat apapun, entah karena penglihatan ku atau mungkin aku terlalu penakut saat itu."
"Apa--tak bisa melihat warna benar benar terasa menyusahkan?"
Lagi, Jaemin menggeleng dengan kekehan kecil, "Tidak, lagipula duit kan memakai angka, asal bukan buta angka, aku rasa tak terlalu menyusahkan."
Jeno sontak mendengus, "Yah, benar juga sih."
"Sampai kapan kau akan menyembunyikannya pada mama dana papa?" Sambung Jeno lagi.
"Entahlah--"
"Lagipula, papa dan mama pasti tak masalah. Selama bukan buta angka, itu bukan masalah besar, kita kan hidup dengan uang, bukan dengan warna. Aku sih--biasa saja, mau kau bisa melihat warna atau tidak, asal bukan benar benar buta saja, mama dan papa juga pasti begitu, lagipula warna tak berperan banyak dalam hidup, yang paling banyak berperan--angka di lembaran uang," sela Jeno panjang lebar, memilih menatap televisi di kamar mereka yang mati daripada menatap Jaemin.
"A-aku bukan bermaksud menenangkan mu, hanya meluruskan pemikiran mu saja karena pemikiran ku lebih bagus."
Jaemin tersenyum kecil, ia mengangguk pelan, "Mungkin kau benar, tapi--tetap saja butuh waktu. Aku saja merasa ini memalukan, apalagi mama dan papa--"
"Aku tidak merasa begitu, kenapa harus malu? Memang itu kekurangan? Kau tetap hidup dengan baik meskipun tak bisa melihat warna," lagi, Jeno menyela ucapan Jaemin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Iridescent ; Na Jaemin
Teen Fiction"Aku tak akan pernah menerima mu, lebih baik kau mati!" "Kau--sungguh berkata seperti itu?" ____________________ Jeno tak pernah menyangka, 17 tahun hidup ia malah menerima fakta bahwa ia mempunyai kembaran. Bertolak belakang, amat berbeda dengannya!
