25. Sesuatu

1.3K 237 5
                                        

Jeno melirik bangku di samping Jungwon, kosong, dimana Jaemin?

"Kenapa? Mencari saudara mu?" tanya Mark dengan nada menggoda. Sudah berulang kali mendapati Jeno terus melirik bangku kosong di samping Jungwon.

Decakan Jeno terdengar, "Aku tak bilang begitu."

"Tatapan mu bilang begitu. Jaemin di UKS, ku dengar dia sakit, apa kalian dihukum sangat lama?"

Hening sesaat, Jeno akhirnya buka suara dengan nada malas, "Belum juga sepuluh menit Jay sudah sampai dan menarik Jaemin pergi, lama apanya?"

"Oh, tadi Jay langsung lari keluar kelas saat mendengar Jaemin di hukum, apa dia khawatir Jaemin kepanasan karena di hukum, ya?"

Chenle mendengus, "Kau pikir Jaemin vampir sampai tak boleh kepanasan kena sinar matahari?"

Jisung yang mendengar perkataan mereka terdiam, ah, tidak--bisa terkena sinar matahari? Haruskah Jisung bertanya pada sang ibu?

Jay terlalu panik, terlalu berlebihan jika hanya khawatir pada temannya yang sedang di hukum.

Reaksi Jay lebih seperti--mendengar kabar bahwa temannya sekarat.

_________________________

Jake mendengus, masih menahan tangan Jaemin, "Ayolah Jay, jangan berlebihan. Jaemin tak mau pulang."

"Tapi dia sakit," jawab Jay kesal.

"Tapi dia tak mau pulang," Jake ikut ikutan keras kepala.

"Jadi kalau dia sekarat dan tak mau pulang, kau juga akan membiarkannya tak pulang?"

Lagi lagi Jake mendengus, "Dia tak sekarat, hentikan sikap dramatis mu itu, Jaemin tak mau pulang, jangan memaksanya."

Heeseung yang daritadi melihat ikut jengah, "Suit saja, siapa yang menang dia yang boleh melakukan pendapatnya."

Jaemin yang berada di tengah Jay dan Jake melotot, apa apaan ide tak masuk akal itu?!

"Aku setuju, daripada kalian terus bertengkar seperti merebutkan hak asuh anak," Niki yang daritadi diam angkat suara seraya mengangguk, menyetujui usulan Heeseung.

"Ayolah, kenapa harus suit? Kenapa harus bertengkar? Bagaimana kalau kita makan di kantin saja? Jaemin lebih butuh makan daripada keributan kalian," Sunghoon berucap lelah.

"Kau atau Jaemin yang lapar?"

"Aku."

Lantas Sunghoon benar benar beranjak bangun setelah menjawab, dengan senyum lelah mendorong Jake dan Jay menjauh dari Jaemin, "Aku ambil Jaemin dulu, lalu kalian boleh lanjut bertengkar, ya," ucapnya dengan nada menyebalkan.

Jaemin ikut turun dari brankar di UKS tersebut, "Ayo, kalian mau ikut atau aku dan Sunghoon saja yang pergi?"

Jay melotot tak percaya, "Kau lebih memilih dia daripada aku?"

"Dramatis," gumam Niki mencibir.

"Kau baru saja memaksa ku pulang sambil memasang wajah menyeramkan, kau menakutiku, dan sekarang kau berharap aku ikut dengan mu? Huh, aku mau makan saja," jawab Jaemin dengan raut kesal di buat buat.

"Itu untuk kebaikan mu--"

"Berhenti berdebat, ayolah, nanti saja lanjut berdebat di kantin!" Sunghoon dengan geram mendorong mereka satu persatu untuk beranjak pergi.

"Sunghoon! Jangan mendorong orang--eh?" Jake mengerjap, menatap Jeno yang berdiri di pintu UKS, raut lelaki itu sama terkejutnya dengan Jake yang tadi hampir menabraknya saat keluar dari UKS.

Jeno berdehem, melirik sekilas Jaemin yang berdiri di samping Sunghoon, "Minggir, aku butuh obat."

Jake menunjuk Jaemin, "Butuh obat atau butuh melihat dia?"

"K-kau gila, ya?!" Jeno dengan geram mendorong mereka untuk minggir dan segera masuk ke UKS begitu saja.

Dan disana, Jaemin diam diam berharap, berharap bahwa Jeno benar benar datang untuk melihat dan khawatir pada nya.

_________________________







"Dia pulang dengan ku."

"Tadi dia berangkat bersama mu dan dia terlambat, dia harus pulang dengan ku."

"Pulang tak akan terlambat, justru kau yang membuat semua semakin lambat di parkiran ini."

Jaemin pasrah, benar benar pasrah di antara dua orang yang saling melempar tatapan tajam dan tak suka pada satu sama lain. Bahkan langit mendung tak bisa meredakan hawa panas di antara keduanya.

Jay melirik Jaemin, "Jangan bilang kau akan memilih orang lain lagi kali ini? Seperti di UKS tadi?"

Jeno mendengus remeh, "Kau yang orang lain, kami saudara kembar, kau siapa?"

Jay ikut ikutan mendengus remeh, mengangkat dagu dengan pandangan sombong, "Aku mengenalnya lebih dulu, kau yang baru bertemu tau apa?"

"Setidaknya aku saudaranya, memang kau siapa?"

"Aku menemaninya hampir lima tahun, kenapa? apa kau merasa rendah diri sekarang? kau bahkan tak dekat dengannya, berhenti sok hebat."

Jeno maju selangkah, "Pernah dengar bahwa walaupun ratusan tahun terpisah, saudara akan tetap saudara, ingat itu di otak mu."

Tatapan Jay kian tajam, "Oh, kau mengakuinya sebagai saudara sekarang? Bukannya kau menolak?"

Hening, rahang Jeno mengeras, apalagi kala tatapan mengejek Jay kini menghujamnya.

Jay maju selangkah, kian mendekat untuk berbisik, "Akui saja, kau tidak menyayangi Jaemin, kau hanya takut kalah dari ku, kan?"

Bisikan Jay kian pelan, "Dasar egois."

Jaemin segera menengahi kala sadar situasinya kian serius, "Hey, berhenti. Kenapa harus bertengkar seperti ini? Bicarakan baik baik--"

"Ayo pulang," Jeno menyela, menarik tangan Jaemin begitu saja untuk menuju mobil.

Namun Jay dengan cepat bertindak, menarik tangan kanan Jaemin tak kalah cepat, "Berhenti memaksanya, kau pikir dia bawahan mu?"

"Apa aku memaksa? Kau menyimpulkan semua dari sudut pandang mu sendiri."

Jaemin menghela nafas resah, benar benar berada di tengah pilihan sulit.

"Jaemin, kau akan menuruti ku, bukan? Aku saudara mu, kau lebih memilih orang asing sekarang?" Jeno menatap Jaemin dengan tatapan tajam.

"Jaga tatapan mu! Apa itu tatapan mu pada saudara mu?!"

Jaemin menatap Jay panik kala mendengar nada marah lelaki itu, "Jay, tenang. Jangan membuang tenaga mu untuk marah marah pada hal sepele seperti ini."

"Bukan hal sepele jika dia menatap mu dengan tatapan mengancam seperti itu!" jawab Jay tak terima.

"Aku tidak menatapnya seperti itu! Sudah ku bilang berhenti menyimpulkan semua dari sudut pandang mu!"

Pertengkaran ini tak akan selesai dalam waktu singkat, Jaemin yakin, ia bahkan berani bertaruh untuk itu. Jadi, bolehkah Jaemin mencoba untuk menghentikannya?

"Aku pusing, bisa kita sudahi disini saja pertengkaran ini?"

Jay dan Jeno kompak menatap Jaemin, "Yasudah, ayo cepat pulang."

Jay tanpa sadar menuntun Jaemin ke mobil Jeno yang memang lebih dekat, karena ia mencegat keduanya kala hendak pulang.

"Menyetir dengan hati hati, kau mengerti?"

Jeno memutar kedua bola matanya malas, "Iya, sudah kan?"

Jay sekali lagi menatap Jaemin, tersenyum tipis dan mengusak rambut lelaki itu pelan, "Kalau ada apa apa hubungi aku."

"Memang kau 911?" gumam Jeno kesal.

"Kalian akan pulang atau lanjut bertengkar lagi?"

Iridescent ; Na JaeminCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang