Ini adalah hari terburuk dalam hidup Jeno.
Rose nyaris pingsan untuk ketiga kalinya, wanita itu sempat kembali pingsan kala keluar dari ruang jenazah, lalu saat jenazah Jaemin sampai, Rose nyaris kembali pingsan lagi.
Benar benar menyedihkan, kini wanita itu terlihat seperti mayat hidup, menyaksikan proses pemakaman di hadapannya dengan tatapan kosong dan air mata yang terus mengalir.
Dan di sisi liang lahat lainnya, dapat Jeno lihat Jay dan yang lain, tampak shock dan ling lung seolah kenyataan ini menghantam mereka terlalu tiba tiba.
"Jeff, aku bahkan belum sempat bersama Jaemin terlalu lama..."
Lirihan Rose dapat Jeno dengar, suara wanita itu gemetar dan amat lirih, membuat siapa saja yang mendengar tau seberapa hancurnya wanita itu.
"Aku rindu Jaemin, aku ingin memeluknya..."
Rose menoleh, menyembunyikan wajahnya ke dada Jeff, tak sanggup melihat proses pemakaman yang berlangsung.
"Jeff, bagaimana jika Jaemin takut? Dia sendirian, aku ingin menemaninya, Jeff, putra ku ketakutan..."
Jeff mendongak, berusaha menghalau air matanya turun, ia mengusap bahu Rose lembut, sebelah tangannya yang lain ikut merangkul Jeno.
Ia ingin mengantarkan Jaemin ke tempat peristirahatan terakhirnya, namun Rose bahkan langsung luruh jika dia menjauh sedikit saja, ini benar benar situasi yang sangat menyedihkan.
Semua orang menatap iba, ketiganya tampak amat menyedihkan dan hancur.
"Jeff, aku ingin melihat Jaemin."
Dan hati Jeff rasanya hancur mendengar suara Rose, benar benar menyakitkan, "Rose, biarkan Jaemin tenang ya?"
"Aku ingin mendengar suaranya..."
"Rose--"
"Sekarang saja aku sudah merindukan Jaemin, bagaimana aku bisa hidup ke depannya?"
"Aku dan Jeno bersama mu, kau tak sendiri--"
"Jeno bahkan tak menginginkan Jaemin, bagaimana bisa dia memahami perasaan ku," ucapan itu lolos begitu saja.
Berhasil membuat hati Jeno berdenyut nyeri, lelaki itu menunduk, ucapan nya terakhir kali pada Jaemin kembali terngiang.
Benar, bagaimana dia bisa memahami perasaan Rose saat dia sendiri mendorong Jaemin untuk mati?
Mungkin saja--ini terjadi karena semesta mengabulkan ucapannya.
Apa ini karma atas dosa Jeno? Atas kebodohannya yang percaya begitu saja? Atas sikap jahatnya selama ini?
"Keangkuhan mu itu--bisa saja membuat kebaikan hati Tuhan berhenti, Jeno."
Heeseung benar, apa Tuhan berhenti berbaik hati padanya karena telah menyakiti Jaemin terlalu banyak?
Jeno tak pernah menganggap Jaemin sebagian dari jiwanya, namun saat tubuh Jaemin kini terkubur, Jeno merasa setengah jiwanya juga di bawa paksa, ikut mati bersama raga saudaranya itu.
"Maaf..."
Dan akhirnya, hanya maaf yang bisa Jeno ucapkan, memohon maaf dengan tangis penyesalan yang menyakitkan, namun tak sedikitpun sesak di dadanya berkurang.
____________________________
Tak ada yang salah, ini masih kamarnya, namun begitu melihat satu kasur lainnya, Jeno terhenyak dengan perasaan menyakitkan. Ia menunduk, bahkan tak berani menatap kursi meja belajar yang kini kosong tersebut.
Dengan langkah ragu ia mendekat, menatap meja belajar Jaemin yang tertata rapi, tangannya terangkat begitu saja, menyentuh meja tersebut dengan perlahan, membiarkan rasa sakit kian menyerangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Iridescent ; Na Jaemin
Teen Fiction"Aku tak akan pernah menerima mu, lebih baik kau mati!" "Kau--sungguh berkata seperti itu?" ____________________ Jeno tak pernah menyangka, 17 tahun hidup ia malah menerima fakta bahwa ia mempunyai kembaran. Bertolak belakang, amat berbeda dengannya!
