"Mau kemana? Bagaimana kalau ke restoran baru? Kita harus mencoba sesuatu yang baru, benar, kan?"
"Hari ini kau tak boleh pulang dengan Jeno, kau harus pulang dengan ku, aku memaksa."
Jaemin terkekeh, membiarkan Jay merangkulnya, "Baiklah, ayo pergi, aku yang bayar--"
Jay dengan cepat meraih tas Jaemin, "Tas mu aku sita, memang kau punya uang lagi?"
"Aku masih punya handphone--Jay!" Jaemin berseru kala Jay menarik hp di tangannya.
"Hp mu juga aku sita, kau masih punya uang lagi?" tanya Jay sambil memasukkan hp Jaemin ke saku celananya.
"Kalau tak ada, aku yang akan bayar semuanya, ayo."
Jaemin mencebik kesal, dengan geram menyikut pelan perut Jay dengan sikunya, "Menyebalkan!"
"Terimakasih, aku memang tampan."
__________________________
"Eric?"
Eric yang duduk di bangku taman menoleh, sebelum dengan cepat kembali menunduk, menyembunyikan wajahnya yang babak belur.
Jaemin, yang tadi mampir ke taman untuk sekedar berjalan sore sehabis pulang dengan Jay kini terdiam, menatap Eric yang tampak tak baik baik saja. Baiklah, perasaan kasihan dan hati nurani Jaemin berulah, langkahnya tak mau berlalu begitu saja meninggalkan seseorang dengan kondisi menyedihkan.
Jaemin dengan ragu mendekat, "Kau baik baik saja? Mau ku obati?"
"Tak perlu--"
"Astaga, darahnya banyak sekali, duduk dulu, biar aku obati."
Eric meringis pelan saat Jaemin menarik lengannya, memaksanya untuk tetap duduk di bangku taman, sementara ia membuka tas dan mengambil kotak P3K yang ia bawa kemanapun karena Jay nyaris berkelahi tanpa tahu tempat selama ini.
Hening, namun di tengah keheningan itu Eric menyadari satu hal, tatapan khawatir Jaemin dan hela nafas lelaki itu yang terdengar amat gusar seolah ikut merasa sakit karena luka lukanya.
Bodoh, jika Eric menjadi Jaemin, mungkin dia akan puas, sangat puas karena orang yang dulu membully nya kini babak belur dan tampak sangat menyedihkan.
Tapi bagaimana bisa Jaemin kini berhenti dan malah mengobatinya dengan tatapan khawatir seolah Eric tak pernah memukulnya?
"Sini, aku akan hati hati, biar ku bersihkan dulu luka mu," Jaemin dengan perlahan menarik dagu Eric, menatap luka luka di wajah lelaki itu.
Dan dengan jarak yang amat dekat seolah teman lama, satu foto berhasil di dapat dengan sempurna dari balik pohon di depan sana.
Cukup untuk membuat kesalahpahaman.
___________________________
"Bukannya mama harus menepati ucapan mama? Kirim Jaemin ke New York."
Langkah Jaemin terhenti, tadinya ia hendak ke kamar Rose untuk sekedar berbicara dengan wanita itu. Namun pembicaraan dua orang di dalam sana terdengar, cukup untuk membuat Jaemin menghentikan langkahnya dengan perasaan resah.
"Jeno, bukannya dalam sebulan ini semua baik baik saja--"
"Aku tak nyaman, kirim dia ke New York, tak ada keributan bukan berarti semua baik baik saja, aku tak bisa menerimanya, hanya itu. Jadi tepati ucapan mama."
"Jaemin?"
Jaemin tersentak, menoleh, menemukan Jeff kini menatapnya, ia dengan cepat menarik senyum, pembicaraan di dalam juga terhenti, "A-ah iya, aku--mencari mama, baru saja hendak mengetuk pintu. Papa mengagetkan ku saja."
Jeff menatapnya lekat, sebelum akhirnya ikut menarik senyum manis, "Ayo, mau ke kamar mama dan papa? Kamar kami lebih luas dan mewah."
"Pamer sekali," jawab Jaemin dengan tawa kecil. Tak menolak saat Jeff merangkulnya, mengajaknya masuk ke kamar yang pintunya sedikit terbuka.
"Jaemin? Ya ampun, kenapa tak langsung masuk? Sudah lama di luar?" Rose tersenyum kaku.
Senyum manis Jaemin tak luntur, "Tidak lama, baru saja datang saat papa memanggil ku."
"Mama malas memasak, tapi mama sudah memesan makan malam. Kita disini saja sampai makanannya datang, mau ke balkon? Pemandangan dari balkon benar benar cantik."
Dan Jaemin sadar, kala mereka melangkah, Jeno berulang kali meliriknya, membuat Jaemin menoleh, lantas memberi senyum terbaiknya pada sang kembaran. Bersikap seolah tak mendengar apapun, cukup untuk membuat raut Jeno sedikit lebih tenang.
"Wah, ada patung, mama dan papa memajang banyak patung di balkon, ya," Jaemin terkekeh, sedikit takjub melihat seberapa luas balkon kamar kedua orang tuanya, apalagi di tambah beberapa patung yang elegan.
"Tentu saja, ini paling mahal, dari pelelangan," Rose tersenyum bangga saat menyentuh satu patung di tengah balkon yang mereka lewati.
"Apa ikut pelelangan seperti di drama drama?" tanya Jaemin penasaran.
Jeff terkekeh, "Kapan kapan ayo ikut papa saat ada pelelangan, kamu dan Jeno juga harus melihat lihat, mungkin saja ada yang kalian suka."
"Aku ikut kalau lukisan," jawab Jeno.
Jaemin berpikir sesaat, "Aku ikut untuk semua, aku penasaran, apa masih lama?"
"Entahlah, sepertinya tak lama lagi," jawab Jeff setelah berpikir sesaat.
"Mama dan papa suka patung dan lukisan?"
"Suka jika karyanya cukup bagus untuk di pajang," jawab Rose cepat.
"Sebenernya kami ikut karena ada teman yang memaksa mengajak, lalu mama menawar terus menerus karena tak mau kalah," bisik Jeff pada kedua putranya.
Rose yang berjalan di depan seketika berbalik, "Jeff, aku dengar, ya!"
"Aku hanya memberi tahu, tak masalah kok. Siapa tau mereka mau mengikuti langkah mu menghambur hamburkan uang, kamu jadi punya teman nantinya, yakan?"
Jeno dan Jaemin kompak mengangguk, tersenyum geli saat Jeff melepas rangkulan dan memilih mendekati Rose, memeluk pinggang wanita itu dengan perlahan, "Ini namanya menghasut, mereka harus di hasut untuk ikut menghabiskan uang."
Rose mencebik, "Itu namanya menceritakan dan menyebarkan rumor buruk, masa aku di bilang tak mau kalah?"
"Memang kamu mau kalah?"
"Tentu saja tidak!"
Jaemin berusaha menahan senyum, baru sadar sikap Rose menggemaskan sekali.
"Pakai."
"Huh?" Jaemin mengerjap, menatap bingung jaket Jeno yang kini di sodorkan padanya.
"Kau memeluk dirimu sendiri seolah olah berada di bawah salju saja, pakai, aku gerah, tak mau pakai jaket lagi," jawab Jeno dengan raut wajah datar.
Jaemin dengan ragu menerimanya, ah, dia memanh kedinginan sih, tapi--
Untuk apa bersikap peduli jika akhirnya tetap berniat mendorong Jaemin menjauh?
KAMU SEDANG MEMBACA
Iridescent ; Na Jaemin
Fiksi Remaja"Aku tak akan pernah menerima mu, lebih baik kau mati!" "Kau--sungguh berkata seperti itu?" ____________________ Jeno tak pernah menyangka, 17 tahun hidup ia malah menerima fakta bahwa ia mempunyai kembaran. Bertolak belakang, amat berbeda dengannya!
