26. Keputusan

1.3K 237 10
                                        

"Kau sakit?"

"Hanya sedikit pusing."

Jeno menarik nafas dalam, melirik Jaemin sekilas sebelum kembali fokus ke jalanan, "Maksud ku, apa--kau sakit? Seperti sakit bawaan dari lahir? Atau sakit parah? Yah semacam itu."

Jaemin yang tadi menatap ke depan dengan ragu menoleh pada Jeno yang menyetir, meneguk ludahnya kasar, memberanikan diri untuk bertanya, "Maksud mu?"

"Jay terlihat khawatir, apalagi saat menarik mu dari lapangan tadi, aku piki bisa saja kau sakit atau--"

"Hanya sensitif terhadap cahaya matahari, bukan sakit atau apapun, itu hanya hal kecil," sela Jaemin begitu saja. Untuk pertama kalinya menyela ucapan Jeno yang bahkan belum selesai.

Hening, namun lirikan Jeno jelas berulang kali tertuju pada Jaemin, tampak sedikit tak percaya dengan jawaban Jaemin tadi. Namun tak ada lagi pertanyaan. Hanya ucapan biasa yang mampu membuat Jaemin terhenyak.

"Jangan menyela terlalu cepat seperti tadi, kau jadi tampak jelas sedang berbohong."

____________________________









Setelah pulang, suasana canggung terasa lebih jelas, bahkan hingga langit hampir gelap, keduanya sama sama tak ada yang membuka pembicaraan.

Akhirnya Jeno memilih pergi, tak ingin lebih lama dalam situasi canggung seperti itu.

Dan Jaemin--juga sama, memilih pergi untuk membeli beberapa buku, memilih pergi sendiri dan menolak di antar supir, walau harus membujuk Rose cukup lama untuk bisa pergi.

Dan disini ia sekarang, di depan rak buku bagian resep makanan, melihat buku buku yang nyaris sebagian sudah ia miliki, sebagian besar hadiah dari Jay, tentu saja.

"Jaemin?"

Panggilan tersebut membuatnya menoleh, menemukan Eric berdiri tak jauh darinya, memegang dua buku resep makanan.

"Oh, hai?" Jaemin tersenyum tipis, memilih mengambil satu buku yang sudah ia amati dari tadi.

Eric tersenyum, "Hai, oh, kau juga sedang mencari resep makanan ya? Bukannya cukup sulit memilih? Terlalu banyak pilihan, aku sudah berputar disini nyaris satu jam."

Canggung, Jaemin hanya bisa terkekeh, melirik buku di tangan Eric, "Buku di tangan mu sama saja."

"Huh?" Eric melihat buku di tangannya dengan kernyitan bingung di dahi, "Ini beda, tidak sama."

"Banyak resep masakan yang sama di dua buku itu, ambil salah satunya saja," ucap Jaemin, ia memiliki kedua buku itu, isinya hampir sama secara keseluruhan.

"Oh, terimakasih. Aku tak tau."

Setelah nya Eric melirik Jaemin dengan ragu, tampak tak yakin, "Mau--ke cafe di seberang? Aku pergi sendiri tadi dan merasa bosan, bagaimana jika--kita pergi bersama?"

_________________________

"Kau serius? Ini benar benar gila, kau harus memikirkannya lagi--"

"Aku yakin--"

"Yakin menyuruh ibu mu mengirim Jaemin ke New York?" sela Mark dengan nada tak percaya.

"Kau--ku pikir hubungan mu dan dia sudah membaik, kalian akur dan tak bertengkar, kenapa kau harus masih menagih janji ibu mu soal mengirim Jaemin ke New York? Aku benar benar tak paham dengan mu, Jeno."

Jeno terdiam, akur? Ya--memang, tapi itu tak membuat keputusan Jeno berubah, kenapa dia harus menerima Jaemin? Pertanyaan itu terus berulang.

Dan tak ada jawaban walau Jeno memikirkannya berulang kali, ini sudah benar, Jaemin harus pergi ke New York, tak ada alasan untuk lelaki itu tinggal disini.

Sama sekali tak ada alasan--

"Kau ingin membuat ibu mu berpisah dengan anaknya? Membuat Jaemin lagi lagi jauh dari keluarganya?"

Jeno menghela nafas kasar, "Kau membelanya? Kau menyudutkan ku sekarang?"

Kini Mark yang menghela nafas kasar, meraup wajahnya untuk menenangkan diri, butuh banyak waktu untuk berbicara soal seperti ini dengan Jeno, butuh kesabaran juga yang jelas.

"Bukan menyudutkan, aku hanya memberi tahu fakta, kau harus memikirkan ucapan ku dengan sepenuh hati."

Mark memilih duduk ke dekat Jeno, menatap sahabatnya itu lekat, "Coba bayangkan, Jaemin baru saja menemukan keluarganya, dan dalam waktu singkat dia harus berpisah lagi, bukankah itu kejam?"

"Lalu bagaimana dengan ku? Aku tak nyaman--"

"Benarkah? Apa kau benar benar merasa tak nyaman? Sikap Jaemin yang mana yang membuat mu tak nyaman?" sela Mark begitu saja.

Sikap Jaemin yang mana?

"Apa dia bersikap buruk sampai kau tak nyaman?"

"Dia bersikap menyebalkan?"

"Dia menyusahkan?"

"Aku tak nyaman dengan kehadirannya, cukup?"

_________________________

"Aku akan mengantar mu pulang, setidaknya kau tak akan menolak ini, bukan? Aku--hanya berniat membantu."

Hening, Jaemin terdiam, menatap lekat wajah Eric yang kini menatapnya dengan tatapan berharap.

"Jaemin, aku merasa sangat bersalah, berpikir bagaimana aku harus menebus semua kesalahan ku, setidaknya biarkan aku bersikap baik pada mu, ku mohon."

Jaemin menarik senyum tipis, memberi penolakan dengan halus, "Aku tak ingin merepotkan mu."

"Sama sekali tidak, aku tak kerepotan, aku benar benar ingin membantu."

Eric menatap jalanan, lantas kembali menatap Jaemin, "Kau tau, sekarang bahkan taksi pun ada yang tak aman, jadi biarkan aku mengantar mu, anggap saja kau sedang menghindari kesialan salah memilih taksi."

Udara semakin dingin, ujung jari Jaemin terasa perih saking kedinginannya, atau mungkin saja sudah membiru? Apalagi sesak yang kini membuat nya sedikit kesulitan bernafas, tak ada guna berdebat dan menghabiskan waktu disini.

"Baiklah, ayo pulang."

_______________________


Jeno mengernyit, menatap mobil yang kini melaju pergi dari depan pagar kediaman mereka, tak asing, mobil--musuh bebuyutannya.

Apa lelaki itu sedang mencari muka dengan Rose?

Atau hal menyebalkan lainnya?

Ia melajukan motornya, memasuki gerbang yang masih terbuka seolah ada yang baru saja masuk tadi.

Eric?

Bahkan hingga Jeno masuk ke kamarnya, lelaki itu masih terus memikirkan hal tersebut, setidaknya sampai ia menemukan Jaemin yang duduk di kursi meja belajar.

"Kau baru pulang? Sudah makan malam?"

Jeno berdehem pelan, "Ya, bersama yang lain tadi. Kau--kau sudah makan malam?" ia mengajukan kembali pertanyaan klise tersebut.

Jaemin berbalik dan tersenyum, "Sudah, aku--juga makan malam di luar tadi, bersama teman."

Berpikir sesaat, Jeno akhirnya memilih bertanya, "Apa kau melihat tamu yang datang kesini tadi?"

"Tamu? Tak ada tamu, bahkan mama dan papa tak ada di rumah, memang nya ada tamu?"

Apa Eric hanya datang dan mengawasi kediaman Jeno saja? Membuang waktu seperti itu?

"Jeno?"

"Tak ada, aku hanya bertanya."

Jeno memgernyit kala baru menyadari jawaban Jaemin tadi, "Kau juga pergi tadi? Kemana?"

"Hanya ke toko buku."

"Bersama Jay?"

"...ya."

Harusnya Jaemin tak berbohong, harusnya Jaemin menjelaskan walau Jeno hanya mendengar dan mungkin tak ada jawaban berarti. Harusnya Jaemin tak berbohong agar tak ada hal rumit ke depannya.

Ya, harusnya...

Iridescent ; Na JaeminCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang