"Nanti ya. Ayah beresin barang bawaan dulu setelah itu Ayah temenin bobok" jawab Seokjin sambil membungkuk untuk melepas sepatu dan kaos kaki Jungkook.
"Eung..." erang Jungkook lagi sambil memukul guling yang ada disamping badannya. "Gak mau.."
"Lho kok ga mau sih?"
"Ga mau, Ayah.."
"Gak mau apa?"
"Ga mau nanti! Mau boboknya sekaraang" ujar Jungkook dengan suara sedikit lebih keras.
Dan Seokjin pun harus kembali menghela nafas panjang. heran melihat perubahan sikap Jungkook yang jadi uring-uringan.
"Dedek, Gausah rewel ya? Ayah bilang nanti ya nanti" tegas Seokjin. Kakinya lalu melangkah kearah dinding dekat pintu untuk menaruh sepatu Jungkook disana.
"Ayaaah, siniii!" Dan Jungkook pun memekik dengan nyaring.
"YaTuhan, kamu tuh kenapa sih..." keluh Seokjin sambil menoleh dan menatap Jungkook yang sekarang sedang terduduk di ranjang sambil menatapnya dengan wajah cemberut dan mata mengantuknya.
Tak ada pilihan.
Seokjin pun menghampiri Jungkook lalu berbaring diatas ranjang sambil menggerutu "Katanya udah besar? Udah puber? Kok rewel?"
Melihat Seokjin telah berbaring disampingnya, Jungkook pun segera menyusul merebahkan dirinya.
Mengabaikan gerutuan Ayahnya, Tangan kiri Jungkook melingkar di perut sang Ayah, memberi isyarat bahwa dirinya minta dipeluk.
"Tuan Muda Jungkook? Mau dibikinkan coklat hangat tidak, Tuan? Supaya Tuan Muda tidurnya lebih nyenyak?" Goda Seokjin.
Ayah tampan Jungkook itu berpikir jika coklat hangat bisa membuat tidur si mata bulat lebih pulas dan itu sangat bagus karena Seokjin masih harus beres-beres barang bawaan mereka yang cukup banyak.
Dari bahunya, Seokjin merasakan pergerakan anggukan kepala Jungkook.
"Mau?" Ulang Seokjin.
"Iya.."
"Kalo gitu tunggu disini dulu. Ayah bikinin coklat hangat, Dedeknya ga boleh rewel, oke?" goda Seokjin lagi seperti menenangkan seorang anak balita.
"Hm.." jawab Jungkook pendek.
"Pffiuh, Untung kamu tuh punya Ayah sabarnya nomer 1 di dunia" ujar Seokjin sambil beranjak dari ranjang.
Pria itu melangkah menuju dapur dan menyiapkan secangkir air panas yang diambilnya dari dispenser lalu mengambil coklat bubuk kemasan dari tas khusus bahan makanan yang ia bawa dari rumah.
Dalam beberapa saat, Seokjin sudah kembali ke kamar dan memberikan coklat hangat itu kepada Jungkook.
Perlahan tapi pasti, secangkir coklat hangat yang nikmat buatan Seokjin telah berpindah lokasi ke perut Jungkook.
"Makasih Ayah"
"Iya. Yaudah ayo tidur"
Jungkook pun patuh, ia membaringkan dirinya kembali lalu disusul Seokjin disampingnya. Tangan kirinya kembali ia lingkarkan diatas perut Seokjin memberikan isyarat minta dipeluk.
Melihat gelagat Jungkook itu, Seokjin pun akhirnya sampai kepada kesimpulan bahwa suasan hati Jungkook sedang tidak baik.
Ya, kebiasaan Jungkook yang tidak mau lepas dari Seokjin dan minta dipeluk saat tidur hanya akan muncul ketika suasana hati anak itu sedang buruk.
Seokjin pun merengkuh tubuh Jungkook dalam dekapannya membuat si mata bulat itu semakin bergelung manja di dadanya.
Benar saja, tak butuh waktu lama sampai akhirnya terdengar dengkuran halus dari mulut Jungkook yang sedikit terbuka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tuna Kimbab
FanficKata orang aku sangat beruntung jadi anak semata wayang seorang pengusaha kuliner yang sukses. Itu benar apalagi Ayahku sayang banget sama aku. Tapi banyak orang ga tahu kalo ada luka trauma yang dalam yang menimpaku karena berdirinya restoran it...
