37. Life must goes on

231 68 12
                                        

Seketika alis Han menukik dan ekspresi wajahnya mendadak serius. "Apaan oplas? Gaada ya" tegasnya.

"Oh jadi Ayah ga oplas?" Tanya Jungkook.

"Bukan itu. Maksud Ayah tuh kamu yang ga boleh oplas-oplas"

"Iih tapi Ayah ga apa-apa tuh oplas. Kenapa dedek ga boleh?"

"Mana ada Ayah oplas?"

"Lho jadi Ayah ga oplas?" Kini giliran alis Jungkook yang menukik.

"Makanya jangan sok tahu. Ayah kan belum cerita"

"Oh iya" jawab Jungkook dengan entengnya seraya kedua tangan kembali melingkar di leher Han. "Jadi Ayah ga oplas buat ngilangin tahi lalatnya?"

"Engga. Ayah cuma ngejalanin prosedur pengangkatan tahi lalat aja dan sembuhnya juga cuma tiga hari kayanya"

"Cepet banget?"

"Emang harus cepet"

"Karena harus segera jemput aku ya, Ayah? Makanya Ayah harus cepet-cepet berubah jadi Ayah Jin?"

Sejenak Han menghela nafas dalam dan panjang seolah sedang menetralkan rasa sakit yang kembali muncul kala mengingat luka lama.

"Waktu itu kondisi Seokjin bener-bener gawat dan Dokter sudah berpesan ke seluruh keluarga supaya kami siap dengan kemungkinan terburuk. Sementara kamu juga kondisi mentalnya drop banget. Waktu itu kamu tinggal sama keluarga Kak Namjoon kan?"

Jungkook mengangguk. Memang benar, setelah peristiwa yang menimpa keluarganya, akhirnya keluarga Namjoon lah yang mengurus dirinya.

"Meskipun tiap hari kamu minum obat tapi tiap malam kamu bakalan terbangun dari tidur lalu nangis histeris, manggil nama Ayah Seokjin. Ayah Han yang denger cerita itu dari Namjoon, lama-lama ngerasa ga kuat padahal saat itu Ayah juga masih harus bantu Oma dan Opa Kim buat memantau kondisi Seokjin. Jadi Ayah putusin buat lebih mentingin kamu daripada Seokjin"

"K-kenapa?"

"Karena Ayah Han udah ikhlas dengan kondisi SeokJin meskipun itu berat banget. Kamu pasti pernah denger kan kalo sodara kembar sakit pasti salah satunya ikutan sakit?"

Jungkook mengangguk.

"Saat itu kondisi Ayah Han secara fisik dan mental juga ga baik-baik aja. Sejak Seokjin ada di ICU, Ayah ngerasa badan Ayah tuh ngilu-ngilu, sakit semua, kadang campur demam, Tapi Ayah Han inget kalo masa depan kamu lebih penting. Jadi dalam pikiran Ayah Han, bagaimanapun caranya, Kim Seokjin harus kembali supaya Jungkook bisa ketemu Ayahnya lagi"

"J-jadi akhirnya Ayah Han mutusin buat ngilangin tahi lalat dan potong rambut supaya bisa jadi Ayah Jin lalu jemput aku dirumah Kak Namjoon meskipun saat itu Ayah juga lagi sakit.."

Dengan senyum terulas tipis, SeokHan mengangguk. "Iya. Tapi begitu lihat kamu seneng banget terus kamu juga meluk Ayah Han erat banget sambil bilang 'Ayah Jin, dedek kangen' rasanya semua sakitnya Ayah Han langsung hilang"

Bruk.

Jungkook menjatuhkan tubuhnya kearah sang Ayah dan kembali memeluk Han.

Dalam eratnya pelukan Jungkook tersirat betapa anak itu sangat tersentuh dengan apa yang sudah dilakukan SeokHan demi Jungkook meski itu berarti Han harus menjalani hidup sebagai adik kembarnya, Kim Seokjin.

Dalam senyap, bulir-bulir airnata haru menetes dari kedua kelopak mata bulat Jungkook.

"Makasih banyak, Ayah Han. Hiks..aku ga tahu gimana caranya balas budi ke Ayah. Makasih banyak..hiks" ucap Jungkook ditengah tangisnya.

Mendengar itu, SeokHan pun tak kuasa menahan tangisnya. "Ayah Han kan udah bilang, Ayah ga pernah minta kamu balas budi, Jungkook. Ayah cuma minta kamu jadi anak yang baik, nurut, pinter di sekolah, supaya Ayah Jin dan Bundamu bangga, ngerti?"

Dalam isakan tangisnya, Jungkook mengangguk sambil menjawab ya dengan suara paraunya.

Tentu saja Jungkook bertekad dia akan membuat Ayah dan Bunda kandungnya bangga, meskipun kini mereka tak lagi bersama.

Tidak apa-apa, karena Jungkook masih punya Ayah Han, Kak Namjoon, Kak Taehyung dan seluruh keluarga besar. Baginya, Kasih sayang mereka sudah cukup untuk menggantikan kasih sayang kedua orangtuanya.

Lebih dari cukup malah dan akan selalu seperti itu.

Karena hidup harus terus berjalan.

***

Satu minggu kemudian,
Depan gerbang sekolah.

Dengan hati-hati Eunwoo keluar dari mobil dibantu oleh Mingyu sementara Yugyeom sudah siap memberikan tongkat berjalan untuk Eunwoo yang mengalami patah tulang kaki kanan.

Lalu dimana Jungkook?

Tentu saja anak itu ada disana.

Tepat dihadapan tiga temannya, Jungkook diam berdiri dengan kedua tangan bersedekap di dada. raut wajahnya yang dingin, jelas menunjukkan kalau Jungkook sedang marah.

Sekitar empat hari yang lalu karena melihat kondisi Jungkook semakin membaik, akhirnya Mingyu memberitahu si mata bulat itu perihal insiden kecelakaan dalam balapan liar yang dialami Eunwoo.

Tentu saja Jungkook terkejut sekaligus geram karena ternyata dugaannya selama ini benar. Eunwoo terlibat dalam balapan liar bersama kakak kandungnya, Minwoo.

Hari itu juga Jungkook meminta Mingyu untuk menemaninya menjenguk Eunwoo dirumah sahabatnya itu.

Tak banyak kata ketika Jungkook akhirnya bertemu dengan Eunwoo. Dia hanya bertanya bagaiman kondisi sahabatnya itu lalu setelah memastikan keadaan Eunwoo baik-baik saja dan hanya perlu menjalani masa penyembuhan pasca operasi kaki kanannya, Jungkook pun berpamitan pulang.

Jungkook bahkan tidak memberi Eunwoo kesempatan berbicara lebih banyak untuk meminta maaf.

Tentu saja Eunwoo merasa sangat bersalah karena sudah berbohong kepada Jungkook tentang balapan liar itu bahkan melalui pesan instan yang dikirim Eunwoo, Jungkook sama sekali tidak menghiraukan.

"D-dedek.." sapa Eunwoo sambil tersenyum ketika langkahnya yang tertatih dibantu oleh Mingyu sudah membawanya didepan Jungkook.

Dengan wajah muram, Jungkook mendongak menatap Eunwoo yang memiliki postur lebih tinggi darinya.

"Andai aja badan gue lebih tinggi dari badan lu, udah gue pites lu, tau ga?" Ucap Jungkook yang seketika membuat wajah Eunwoo memerah karena terkejut sekaligus ingin tertawa, sementara Mingyu dan Yugyeom juga menahan senyum sekuat tenaga.

"Gaada ya lu panggil gue Dedek. Panggilan itu terlalu imut buat gue yang sedang dalam mode marah, paham?!" Lanjut Jungkook dengan tegas yang kemudian berlalu meninggalkan ketiga temannya.

"D-dedek! Eh J-Jungkook.."

Baru satu langkah kaki Jungkook menapak, saat itu juga dia berhenti ketika mendengar Eunwoo kembali memanggilnya. Masih dengan wajah muram serta alis menukik tajam, Jungkook pun menoleh.

"S-sorry udah kebiasaan manggilnya Dedek.." ucap Eunwoo lirih.

"Ada apa? Minta ditemenin? Gaada! Jalan aja sendiri. Tuh masih ada Mingyu sama Yugyeom kan?" Ketus Jungkook.

"E-engga ko. Gue ga m-minta ditemenin.."

"Terus ngapain lu panggil gue?"

"Mm..i-itu" telapak kanan Eunwoo yang tampak masih sedikit bengkak dengan banyak baret luka, menunjuk kearah mobilnya yang masih diam ditempatnya. "D-di dalem mobil ada kotak bekel isinya pudding, donat, sama mocca roll tart buat cemilan lo makan siang nanti. D-dari Mama. Ambil gih.."

Bersambung

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 10 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Tuna KimbabCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang