Mata Jungkook membulat, tercengang karena suara itu terdengar tidak jauh dan jelas ditujukan kearah mereka.
Kim Seok Han? Apa ia tidak salah dengar, batin Jungkook dalam hatinya.
Seolah tidak cukup sampai disitu Jungkook dibuat terkejut, kini ia melihat Seokjin dengan gestur yang begitu alami seperti dirinya yang sedang dipanggil, menoleh kebelakang, mencari sumber suara.
Mengikuti sang Ayah, Jungkook menoleh kebelakang dan mendapati presensi seorang pria bertubuh jangkung dengan mata kecilnya yang semakin tampak mengecil seraya pria itu tersenyum.
"Han!" Sapa pria itu lagi seraya melangkah mendekat.
Setelah berada tepat dihadapan Seokjin, dengan senyum lebar pria itu kembali berujar. "Ini gue, Lee Yi Kung. Kakak satu tingkat dari fakultas Sastra Korea. Kita sering main futsal dulu. Lo inget ga?"
Jungkook beralih menatap Seokjin dan ia mendapati senyum tipis yang sempat terulas singkat di bibir sang Ayah namun senyum itu sirna dengan cepat seiring ekspresi Seokjin berubah datar.
"S-sorry. Kim Seok Han siapa ya?" Tanya Seokjin.
Sungguh Jungkook tidak bisa dibohongi. Ada gelagat yang tak cukup sulit diungkapkan dengan kata-kata. Tapi Jungkook tahu itu bukan gelagat yang biasa.
Suatu perasaan tidak nyaman, dan juga lihatlah, ada gurat gelisah dari sorot mata Seokjin yang meski nampak samar namun itu sangat nyata bagi Jungkook karena ia sangat mengenal Ayahnya.
"Astaga. Kim Seok Han dari universitas Seoul, jurusan komputer jamannya Lee Sang Hoon, jadi ketua Badan Eksekutif di kampus lo. Dia sepupu gue, dan gue kenal lo dari dia"
Ada jeda sejenak ketika Seokjin tanpak mencerna perkataan pria itu sebelum menjawab. "Ooh, sorry kak. K-kayanya Kakak salah orang"
"S-salah orang gimana? Gue masih punya foto tim futsal kita dan lo ada disana, Han"
"Iya, j-jadi maksudnya. Saya bukan Kim Seok Han tapi Kim Seok Jin, kembarannya Seokhan, Ka"
"Haa?" Pria bernama Lee Yi Kyung itu tampak terkejut. "Kembarannya Seokhan?"
Dengan tersenyum Seokjin mengangguk. "Iya saya Seokjin, adik kembarnya Kim Seok Han. Salam kenal Kak Lee Yi Kyung"
Dengan ragu Lee Yi Kyung menyambut jabatan tangan Seokjin. Pria itu masih nampak kebingungan hingga dia tak sempat merespon salam Seokjin dengan sepatah katapun.
"Kayanya Seokhan ga pernah cerita ya kalo dia punya sodara kembar?" Lanjut Seokjin lagi
"I-iya..." jawab Yi Kyung singkat.
Seokjin hanya kembali tersenyum.
"Kenalkan ini anak saya Kak" Seokjin meraih lengan Jungkook dan meminta anak itu memperkenalkan diri.
"Halo Om, saya Jungkook" ucap Jungkook sambil menunduk sopan.
Yi Kyung hanya tersenyum lalu mengangguk. Pria itu nampak terpana, tak menyangka jika pria seusia Seokjin memiliki putra seorang renaja.
"Apa Kakak ga denger kabar tentang Han?" Lanjut Seokjin lagi.
Yi kyung menggeleng. "Ngga sih, udah lama sejak dia wisuda kita hilang kontak. Dan gue juga ga ada kontak temen-temennya si Han yang dulu ikut futsal"
"Seokhan udah meninggal 12 tahun yang lalu, Kak"
"Haa?? Me-meninggal?"
Seokjin mengangguk. "Makamnya ada di kompleks pemakaman Bukit Hangang di Gyeonggi. Kalo Kakak mau, saya bisa temenin Kakak kesana"
"Yatuhan, saya turut prihatin ya.." jawab Yi Kyung dengan ujaran yang lebih sopan.
"Makasih, Kak. Saya dulu ga kuliah. Tapi langsung buka usaha sendiri terus menikah. Makanya anak saya udah segede ini" jelas Seokjin sambil mengusap punggung Jungkook.
Yi Kyung tampak tersenyum tipis. "maaf ya , ternyata saya salah orang. Dulu Han hampir ga pernah cerita tentang keluarganya. Cuma dulu dia sempet nyinggung dikit kalo waktu itu dia lagi bingung mau kasih kado apa buat ulang tahun adiknya, itu aja sih"
Seokjin mengangguk. "Ga masalah, Kak"
"Oya, kamu Seokjin?"
"Iya bener, Kim Seok Jin"
"Boleh kita tuker nomer, Jin? Tadi kamu bilang saya bisa minta antar kamu buat ziarah ke makam SeokHan kan?"
"Oh iya, boleh Ka"
Dan Seokjin pun memberikan nomornya kepada Yi Kyung, dia juga memberitahu Yi Kyung jika pria itu bisa menemuinya di gerai Tuna Kimbab kalau ada waktu dan Yi Kyung menyetujuinya.
Setelah itu merekapun berpisah, Seokjin dan Jungkook terus berjalan lurus ke utara sementara Yi Kyung kembali berjalan kearah selatan.
Namun baru dua langkah Yi Kyung berjalan, pria itu kembali menoleh kebelakang, menatap Seokjin dan Jungkook dari belakang.
"Engga, gue ga salah orang. Lo lupa kalo mahasiswa jurusan sastra itu daya ingatannya terkenal kuat, Han? Ada rahasia apa ini?" gumam Yi Kyung sambil terus menatap punggung Seokjin dan Jungkook yang terlihat semakin menjauh.
Dibukanya layar ponsel, lalu dicarinya nomor kontak Park Sang Hoon, sepupunya, dan dengan cepat tangannya mengetik satu pesan disana.
"Hoon, lo masih punya file anggota komunitas olahraga sepakbola dari UKM kampus lo 12 tahun yang lalu ga? Kalo iya gue butuh profil atas nama Kim Seok Han. Hubungi gue kalo masih ga paham"
****
"Mau tidur sendiri atau sama Ayah?" Tanya Seokjin sambil mengumpulkan pakaian kotor mereka hari itu dalam satu wadah untuk dibawanya ke mesin cuci yang ada disamping meja dapur.
"Mau tidur sendiri aja" Jawab Jungkook setelah usai menenggak susu hangat buatan Seokjin. Jungkook lalu berjalan ke tempat cuci piring, mencuci gelas susunya dan menaruh gelas yang sudah bersih itu di rak pengering.
"Aku tidur dulu ya, Ayah" ujar Jungkook seraya melangkah pergi begitu saja.
"Oke, good night dedek.."
Seokjin hanya menghela nafas panjang ketika melihat Jungkook bahkan tak menoleh kearahnya atau menjawab ucapannya melainkan terus berjalan kearah kamarnya.
Pasti anak itu sudah ngantuk berat setelah minum susu, pikir Seokjin.
Ditutupnya pintu mesin setelah semua baju kotor masuk. Deterjen dan pewangi sudah siap ditempatnya masing-masing dan Seokjin pun menjalankan mesin untuk memulai proses pencucian.
Memutuskan untuk membuat teh hangat, Seokjin kemudian duduk di meja makan sambil memeriksa ponsel untuk melihat beberapa pesan masuk baik itu dari email maupun pesan singkat.
Seokjin juga menyempatkan mengobrol sejenak di grup chat keluarga yang berisi kontaknya dan kontak keluarga Namjoon. Semuanya menanyakan bagaimana liburan mereka hari ini berjalan.
Sampai 45menit berlalu dan proses mencuci baju pun selesai. Tak butuh waktu lama bagi Seokjin untuk menjemur semua baju bersih yang masih setengah basah itu lalu beranjak dari dapur.
"Dedek udah tidur belum nih? Jangan-jangan malaah main hp tuh anak?" ucap Seokjin sambil berjalan menuju kamar Jungkook.
Namun betapa terkejutnya Seokjin ketika pintu kamar terbuka, ia melihat Jungkook sedang duduk dilantai, disamping ranjang,memeluk kedua lututnya sambil menangis lirih
"Dedek! Astaga, kenapa?? Kamu kenapa?"" Tanya Seokjin dengan panik sambil menangkup wajah Jungkook dengan kedua telapaknya.
"Hiks...ayah.."
"Iya Ayah disini. Kamu kenapa??"
"Eng-engga...Ayah..."
"Haa?"
"A-ayah aku...A-ayah aku ada disana..." dengan tangan gemetar dan tatapan kosong, Jungkook menunjuk kearah dinding di depannya.
"D-di-disitu...A-ayah aku....hiks...A-ayah aku...hiks...m-mati..."
"Ya Tuhan, dedek! Jangaaan! Kamu ga boleh kambuh! Enggaa!!" Pekik Seokjin sambil memeluk Jungkook dengan erat dalam tangisannya yang mendadak pecah.
Bersambung
KAMU SEDANG MEMBACA
Tuna Kimbab
FanfictionKata orang aku sangat beruntung jadi anak semata wayang seorang pengusaha kuliner yang sukses. Itu benar apalagi Ayahku sayang banget sama aku. Tapi banyak orang ga tahu kalo ada luka trauma yang dalam yang menimpaku karena berdirinya restoran it...
