Lampu kamar rawat inap yang sudah beralih ke lampu temaram itu nyatanya tidak membuat penglihatan Jungkook ikut temaram.
Diulurkannya tangannya pelan untuk meraih pipi sosok yang sedang memangkunya itu.
"Kak Han..." panggil Jungkook sekali lagi namun dengan sebutan Kakak.
Sebutan awal kala Jungkook masih kecil sesuai permintaan SeokHan karena saat itu dia merasa terlalu muda untuk dipanggil Uncle ataupun Ayah.
Perlahan hening mulai mencair, terbitlah senyum di bibir tebal sosok itu mendengar suara lirih Jungkook kembali memanggilnya.
Memanggil jati dirinya yang sebenarnya.
Kim Seok Han.
Ya, Itu memang dirinya.
Kim Seok Han, Kakak kembar Seokjin yang hanya terpaut lebih tua sekitar 4 menit disaat mereka lahir.
Kakak kembar Seokjin yang selama 12 tahun ini menggantikan posisi adiknya untuk menjadi Ayah bagi Jungkook dan merawat anak tampan bermata besar itu dengan tangannya sendiri.
Jungkook kini mengenali dirinya.
Dan SeokHan pun sudah siap dengan semua kenyataan ini mengingat dokter Yoona juga sudah memberitahu beberapa jam yang lalu bahwa semua ingatan memang Jungkook telah kembali.
Jungkook ingat tentang semua masa lalunya yang berhubungan dengan tragedi kelam yang menimpa orangtua kandungnya, Seokjin dan Jungsoon, di malam terjadinya kerusuhan dan kebakaran di kawasan pasar distrik Mapo.
Perlahan SeokHan meraih tangan Jungkook, lalu mengecup punggung tangan itu dengan lembut dengan airmata yang mendadak mengalir dengan deras dari kelopak mata almondnya yang indah.
"I-iya, ini Kak Han sayang hiks..."
Tak kuasa menahan pedih sekaligus haru, Han memeluk erat tubuh Jungkook dalam dekapannya dan meluapkan semua yang sedari tadi menumpuk di benak dalam tangisan getir.
Membiarkan bahu kirinya basah oleh airmata Han, Jungkook memeluk erat pamannya itu dan mereka berdua pun menangis bersama untuk waktu yang lama.
Di malam yang sunyi itu.
****
Dokter Yoona memasuki kamar rawat Jungkook dengan senyuman lebar.
"Pagi dok.." ucap Taehyung yang sedang membantu Jungkook memakai sweater rajutnya dan langsung menyadari kehadiran dokter cantik itu.
"Selamat pagi. Senengnyaa yang udah dibolehin pulang hari ini" ujar dokter Yoona sambil mendekat kearah ranjang Jungkook.
"Eh, halo pagi dok" sapa Han yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah membereskan barang bawaan yang ada disana.
Dokter Yoona membalas sapaan Han dengan senyuman. Lalu kembali menatap Jungkook.
"Seneng banget kayanya mau pulang?" Goda dokter Yoona sambil mencubit pelan pipi Jungkook.
"Iya dong. Bosen banget disini, dok"
"Ga bisa main game ya?"
"Dokter jangan buka rahasia dong" ucap Jungkook lirih sambil melirik kearah Han membuat dokter Yoona tersenyum geli.
"Dedek inget kan pesen dokter?" Tanya dokter Yoona.
"Iyaa" jawab Jungkook sambil tersenyum.
"Apa aja pesennya?"
"Ikuti semua proses pemulihan dengan rajin dan ga boleh memendam perasaan negatif"
Tangan dokter Yoona pun terbuka untuk memeluk Jungkook dengan hangat. "Pinternya anak gantengku"
Jungkook membalas pelukan dokter Yoona sambil tersenyum. "Makasih ya dok udah bantu aku terus"
Yoona lalu melepas pelukan itu dan kini beralih menangkup kedua pipi Jungkook yang tampak tirus. "Udah tugas dokter Yoona, sayang. Sehat terus ya"
Jungkook pun mengangguk dengan bersemangat.
Bersamaan dengan itu terdengar suara pintu diketuk lalu muncullah seorang suster. "Permisi, dengan Bapak Kim Seokjin?"
"Oh iya, saya sus" jawab Han sambil melangkah kearah suster tersebut.
"Ini bukti pelunasan administrasinya, Pak" kata suster itu sambil menyodorkan selembar amplop berwarna putih.
"Oke, makasih ya sus" jawab Han ketika menerima amplop tersebut.
"Sama-sama Pak Seokjin, permisi.."
"Ya, Silahkan" jawab Han yang kemudian kembali kearah ranjang Jungkook dan meraih tas ransel yang berisi semua baramg bawaan.
"Udah dek? Ayo pulang" kata Han.
Jungkook pun mengangguk lalu turun dari ranjang.
"Yakin mau jalan aja? Ga mau pake kursi roda?" Tanya Taehyung sambil membantu Jungkook turun.
"Jalan aja iih" jawab Jungkook.
"Lobbynya jauh lho. Dedek kan harus tunggu Ayah disana" kata dokter Yoona.
"Iya pake kursi roda ajalah biar ga capek. Mobil Ayah dilantai 3 soalnya" jawab Han.
"Jauh amat lantai 3??" Tanya Jungkook dengan alis menukik tajam kearah Han.
"Kemarin malem ga kebagian parkir dibawah" jawab Han.
"Iihh Ga mau pake kursi roda, Ayah" protes Jungkook yang sudah kembali memanggil Han dengan sebutan Ayah.
"Dek, lobbynya tuh jauh. Kalo pake kursi roda nanti sekalian bisa duduk sambil nungguin Ayah" jawab Taehyung.
"Iih kayak orang sakit parah aja" gerutu Jungkook lagi.
"Ngga jugalah, sayang. Pasien yang kakinya cuma keseleo juga keluar lobbynya pake kursi roda ko" kata dokter Yoona ikut membujuk.
"Tuh, denger kan. Udah ya, ga usah rewel" kata Han lembut tapi tegas seperti sikapnya sehari-hari yang selalu mampu membuat Jungkook patuh.
Akhirnya meski dengan berat hati, Jungkook pun patuh. Si mata besar itu duduk di kursi roda dan membuat tiga orang dewasa yang ada disana mengulas senyum lega.
****
Apartemen Hannam
Taehyung membimbing langkah Jungkook perlahan kearah ruang makan, mengatakan bahwa anak itu harus langsung makan siang.
Dan disana, diruang makan, Jungkook dibuat cukup terkejut.
Meja makan tampak penuh dengan beragam sajian lezat yang mengundang selera. Ada Oma Suji dan suaminya sedang menyiapkan beberapa menu. Ada juga Namjoon, Yoongi, dan Hoseok yang ikut menyambut kedatangan Jungkook.
"Selamat datamg kembali, Dedek" ucap Hoseok sambil melangkah mendekat lalu memeluk Jungkook dengan hangat.
" Makasih, Kak" jawab Jungkook. "T-tapi ini kenapa jadi ada acara makan-makan sih?" Tanya Jungkook sambil berjalan pelan mendekati meja makan.
Yoongi mendekatinya lalu membimbing Jungkook untuk duduk. "Emang ga boleh kita makan-makan sekeluarga?" ucap si kulit pucat.
"Y-ya...engga juga sih. Emang ada acara apaan sih?" Tanya Jungkook.
"Kita mau merayakan ucapan syukur buat kamu" kata Namjoon yang mengambil tempat duduk disamping Jungkook sambil tersenyum lebar membuat alis Jungkook semakin menukik tajam karena tidak paham.
Bersambung
.
.
.
Masih adakah yang nungguin cerita ini?
Lama banget ya aku hiatus.
Maafkan aku🥺
KAMU SEDANG MEMBACA
Tuna Kimbab
FanfictionKata orang aku sangat beruntung jadi anak semata wayang seorang pengusaha kuliner yang sukses. Itu benar apalagi Ayahku sayang banget sama aku. Tapi banyak orang ga tahu kalo ada luka trauma yang dalam yang menimpaku karena berdirinya restoran it...
