39.

894 27 7
                                        

Flashback

Semuanya dimulai di kediaman mewah keluarga Keandrick. Malam itu, guntur bersahutan dengan suara senapan mesin. Felix, ayah Prilly, berdiri tegak di depan Keandrick dan Sandra.

"Felix, aku tidak bisa memercayakan ini pada orang lain. Keandra adalah nyawa kami. Bawa dia pergi, sembunyikan dia di tempat yang bahkan Tuhan pun tak bisa melacaknya!" Perintah Keandrick itu mutlak. Keandra, bocah lima tahun yang selalu diperlakukan bak berlian murni, menatap Felix dengan mata bulat yang ketakutan.

Felix, yang sangat setia, mengangguk. Ia menggendong Keandra, berlari menembus hutan di belakang kediaman, meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang suami dan ayah demi janji setia pada sang majikan.

Felix memacu mobilnya menembus badai salju dan kegelapan, meninggalkan lampu-lampu kota yang gemerlap menuju keheningan yang mematikan. Di kursi belakang, Keandra tertidur pulas, tidak menyadari bahwa dunianya baru saja runtuh. Felix membawa "Sang Berlian" ke sebuah tempat yang ia sebut sebagai 'Gudang Hantu'—sebuah instalasi pabrik tekstil terbengkalai di tengah hutan pinus yang bahkan tidak terdaftar dalam peta sipil.

Selama tujuh hari tujuh malam, waktu seolah berhenti di sana. Felix mengubah gudang dingin itu menjadi benteng yang tak tertembus. Ia membarikade setiap pintu dengan balok besi, memasang sirkuit pengawas manual di setiap sudut, dan tidak pernah memejamkan mata lebih dari dua jam dalam sehari.

Baginya, perintah Keandrick adalah firman Tuhan. Keandrick telah menjamin keselamatan keluarganya selama bertahun-tahun, dan Felix merasa ini adalah saatnya ia membayar hutang budi itu. Ia merasa menjadi pahlawan. Ia merasa bahwa dengan menjaga Keandra tetap bernapas, ia sedang menjaga kehormatan profesinya.

Namun, di balik dinding gudang yang sunyi itu, Felix menderita kebutaan strategis yang fatal. Ia begitu terobsesi pada objek yang ia jaga—sang berlian Keandra—sehingga ia lupa bahwa seorang bodyguard sehebat dirinya memiliki satu kelemahan yang sangat nyata: jejak domestik.

Musuh-musuh keluarga Keandrick bukanlah amatiran. Ketika mereka kehilangan jejak Keandrick dan gagal menemukan keberadaan Keandra di seluruh safe house milik keluarga besar tersebut, mereka beralih ke strategi paling kotor dalam buku peperangan bawah tanah. Mereka mulai memburu orang-orang di lingkaran terdalam sang majikan. Dan Felix, sebagai tangan kanan yang tiba-tiba menghilang selama tujuh hari, menjadi target utama.

.
.
.

Sore itu, langit berwarna jingga kemerahan, seolah memberikan pertanda akan pertumpahan darah yang akan datang. Di dalam rumah, aroma bedak bayi dan detergen segar memenuhi ruangan. Ibu Prilly, dengan perut yang sudah sangat besar dan berat, duduk di kursi kayu sambil melipat baju-baju mungil berwarna putih. Prilly, gadis kecil berusia delapan tahun dengan kuncir kuda yang rapi, duduk di lantai sambil membantu memasangkan kaos kaki bayi ke jemari kecilnya sendiri, membayangkan betapa lucunya adik laki-lakinya nanti.

"Ibu, kenapa Ayah belum pulang? Ini sudah tujuh malam," tanya Prilly polos.

Ibunya tersenyum getir, meski kecemasan terpancar jelas dari matanya yang sembap. "Ayah sedang menjalankan tugas penting, Sayang. Dia sedang menyelamatkan dunia seseorang."

Belum sempat Prilly membalas, keheningan sore itu pecah oleh suara decitan ban mobil yang mengerem kasar di atas kerikil halaman. Bukan satu, tapi tiga mobil hitam legam berhenti mengepung rumah mereka.
Wajah ibu Prilly berubah pias seketika.

Ia menjatuhkan tumpukan baju bayi yang baru saja dilipatnya. "Prilly! Dengar Ibu!" serunya dengan nada yang sangat rendah namun penuh tekanan. "Masuk ke bawah lantai. Sekarang! Jangan bersuara, jangan bernapas keras, jangan keluar sampai Ayahmu sendiri yang memanggilmu!"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 19 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Transmigrasi papa Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang