Sinclaire pernah mengatakan bahwa kematian suka membunuh penyair ulung, orang-orang eksis yang menenggak keindahan dan menyebut diri mereka sebagai kekasih Tuhan. Betapa ganjilnya dia menginterpretasikan sesuatu, seolah ia percaya pada keimpasan, pada ironi, seperti manusia itu sendiri.
Itu mengingatkanku dengan surat-surat lama Herrz Muller. Bagi anak itu kematian merupakan sesuatu yang absurd. Bahkan meski itu indah, seolah Shakespeare sendiri turun tangan untuk menulis adegan terakhir. "Kita cuma berakhir jadi makanan cacing," tulisnya suatu kali, dengan tawa yang bisa kurasakan keluar dari tinta kering.
Hari itu, radio berderak, memuntahkan suara serak pidato-pidato politik asing yang mencongkel dinding reot kedai. Ayah pergi dengan langkah ganjil, keluar dan memantik rokok tak tahan. Herrz Muller masih duduk di depanku. Aku bangkit untuk pergi. Kursiku bergeser pelan, menggerus lantai yang lapuk. Tapi sebelum aku sempat benar-benar berdiri, Muller meraih pergelangan tanganku.
"Aku minta maaf. Tapi dia harus tahu, bukan?" Suaranya nyaring seperti burung tua yang tidak tahu kapan harus mati.
"Ayah tidak akan percaya padamu."
"Oh, ya?" Jawabnya penuh sangsi dan ketidakpastian yang haus. "Barusan aku pasti terdengar seperti veteran gila yang penuh omong kosong. Seorang barista bahkan tertawa tadi. Tapi di akhir kau tetap putranya, bukan? Paling tidak kata-kataku mengendap di ujung rokoknya barang sedikit. Menghantui seorang ayah yang nyaris tidak memiliki apa-apa."
Aku berputar. Oh, kata-katanya, hari ini jadi terasa seperti klimaks dari sebuah lakon buruk yang terlalu banyak dialog. Ditulis oleh tangan mabuk Tuhan yang absen. Aku tidak tahu kenapa nadanya membuatku ingin berdiri dan membalik meja. Badanku bergerak sebelum aku sadar.
Aku mendorongnya dan kami jatuh ke lantai, siku kami menabrak kursi yang telah tua. Kami seperti anak-anak yang bertengkar di lapangan sekolah dasar. Herrz Muller menarik bajuku dan aku membalas dengan memukulnya. Ia tidak mengelak, tidak lagi bak pahlawan dengan omongan besar, fraksi besar, sang juru selamat yang bermain sopan di balik rompi sekolah menengah kotor.
Bibirnya mengecap sedikit darah, dan untuk sesaat, itu terlihat seperti kutukan yang ditulis dengan kapur putih, mengingatkanku dengan doa yang ditinggalkan anak-anak di lantai gereja. Tanganku terangkat lagi, tapi ada jeda. Ada napas. Aku berhenti. Herrz Muller lalu menatapku dari bawah.
"Lakukan saja," pintanya lirih dan tajam. Aku masih diam, tidak juga berbicara. Lalu ia mendengus bosan. "Astaga, Noah."
Tiba-tiba ia menarik kerah bajuku, membalik tubuhku ke lantai. Kakiku menendang meja hingga gelas porselen terjatuh. Kami bertengkar seperti orang dungu. Herrz Muller memukulku dua atau tiga kali, sembarang, seperti mengeksekusi martir. "Oh, Noah, aku sangat menyesal kau harus bertemu orang sepertiku." katanya di sela-sela perkusi ini.
Jemarinya meraih lantai, menyapu genangan teh panas, dan tanpa sadar ia memungut salah satu pecahan gelas yang memantulkan cahaya tipis matahari. Pecahan kecil menempel di kulit telapak tangannya, menggores, meninggalkan garis merah yang segera mengalir tipis. Darahnya jatuh menitik di pipiku.
Aku segera menangkap pergelangan tangannya. Hangat, basah oleh teh, bercampur darah. "Lepaskan," katanya pelan. Aku menekan genggamannya lebih keras. Bau tembakau dan teh basi bercampur jadi satu, menggantung di udara seperti doa yang tak pernah sampai.
"Oh kamu mencoba melakukannya."
Kalimat itu datang bukan dari mulutku, ataupun dari Herrz Muller, melainkan dari seorang teman, menggema seperti batu yang dilempar ke sungai. Seorang gadis berjongkok di antara kami sambil berpangku dagu. Anak kecil dengan suka cita kekerasan, simbol kematian yang manis. Herrz Muller berhenti, meski tangannya masih di kerah bajuku.
Melihat Sinclaire bukan suatu kejutan unik bagiku, tapi untuk Muller, oh, ia seperti tengah melihat orang yang merangkak kembali dari kubur, menagih kiamat satu di antara kami. Ia melepas tangannya dari kerahku dan mundur satu langkah, lalu satu kali lagi. Orang-orang menoleh dengan penghakiman.
"Maaf," gumamnya, "Maafkan aku."
Ia berdiri dengan lututnya, rambutnya yang pirang menutupi langit dari jendela di belakang. Layaknya Icarus yang terlalu dekat dengan matahari, dan Sinclaire di dekatku, layaknya tokoh besar di sisi panggung, menyaksikan kejatuhan Roma. Aku tak tahu apa yang Sinclaire janjikan, kehancuran apa yang ia ceritakan pada anak belasan tahun itu. Tapi itu menakutinya.
Seseorang menarik lenganku untuk berdiri. Itu ayah. Menarikku ke belakang mantelnya. Ayah berdiri dengan bobot penghakiman yang sama seperti pengunjung lain. Intimidasi kebanyakan telah membunuh orang, memenggal objek di publik lebih banyak dari pada guillotine.
"Halo, Muller," ucap Sinclaire dengan kepala miring. "Ternyata si anak penuh kepedulian ini akhirnya paham dapat membunuh temannya semudah Kain membunuh Habel, hanya berawal dari ketidakterimaan. Meski cuma sepersekian detik, itu bisa menetap di kepalamu. Kau sudah melihat garisnya, bukan?"
Sinclaire melangkah mendekati Muller. Setiap tarikan sepatunya berdecit riuh. Herrz Muller mundur hingga punggungnya menyentuh dinding kedai. Tatapannya berpindah-pindah—ke pecahan gelas di lantai, ke darah tipis yang menodai telapak tangannya, lalu ke wajah Sinclaire yang masih tegak seperti patung dewi dari marmer gelap.
Bagi orang-orang, Herrz Muller terlihat seperti orang gila, yang ketakutan di depan hantu. Mengikuti nyanyian kabur dari seseorang yang tidak diketahui. Pada akhirnya ia seperti dikonsumsi oleh rayap yang sama yang memakan buku dongengnya karena tidak percaya pemikiran murahan.
Ayah menarik bahuku keluar dari sana, dipermabuk oleh drama yang setengah tidak dia mengerti. Aku meninggalkan mereka. Mungkin dalam kegilaan itu, Muller telah menjejak jalan yang lebih ragu-ragu daripada aku. Setelah itu aku tak lagi melihatnya untuk beberapa hari.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sinclaire
FantasyNoah bersama dengan pengampunan dan kematian. Masa kanak-kanak dengan jati diri yang dewasa dan seorang anak perempuan yang bersandiwara layaknya rekan yang pantas bagi masa muda Noah. Ia adalah seorang malaikat dengan kabar terburuk sepanjang kehid...
