Noah bersama dengan pengampunan dan kematian. Masa kanak-kanak dengan jati diri yang dewasa dan seorang anak perempuan yang bersandiwara layaknya rekan yang pantas bagi masa muda Noah. Ia adalah seorang malaikat dengan kabar terburuk sepanjang kehid...
Aku ingat histeria itu menghantui kami untuk beberapa minggu. Ayah dikonsumsi oleh kesedihan dan membiarkan rumput di belakang tinggi hingga musim panas. Tuhan tertawa untuk beberapa tahun dan datanglah penyiksaan. Ketika aku jatuh sakit di hari ulang tahunku kematian kembali menemukan cara kedua. Dalam rupa seorang gadis yang rambutnya berbau cokelat dan selembut matahari, atau itu adalah seorang pengeluh Berlin yang mencintai karangan.
Kami duduk di salah satu kedai di stasiun, aku mengenakan mantel ayah yang kebesaran, sementara Herrz Muller harus melepas rompinya. Kami hampir separuh basah dan dimiskinkan oleh bau pemangangan. Pundakku terasa berat ketika mengingat aku bangun di peron, menangis seperti tentara yang memohon pengampunan. Hari kematian ibu merangkak kembali dalam mimpi, dan dosaku terdengar lebih kejam dari malam itu.
"Apa kau baik-baik saja?" Anak disampingku akhirnya bicara, kulihat ada lumpur di dagunya—seolah ia tak sengaja menelan mereka—tapi dia berusaha tersenyum. Aku mengangguk sambil menghentakkan kakiku seperti tengah memainkan mesin jahit
Aku memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, dan membayangkan kesegaran musim gugur, hari di mana aku bertemu dengan Herrz Muller di depan katedral. semua hasrat dunia yang ganas terikat pada wajah kami yang dingin. Kebohonganku atas pencurian yang tak pernah kulakukan. Aku masih menyalahkan hari itu atas apa yang harus terjadi sekarang. "Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanyanya.
"Aku benar-benar tidak tahu. Aku akan berusia tiga belas tahun dua bulan lagi." Jawabku seraya memainkan ujung mantel dengan jahitan yang tidak rapi. "Aku pernah berdoa agar panjang umur. Tapi sekarang itu jadi terdengar salah."
"Oh, karenaku?"
Aku menoleh padanya. Aku menatapnya lekat-lekat, mencari jejak kejujuran di matanya yang berkabut dan dalam. "Bukan hanya karenamu," kataku, suaraku lebih pelan dari yang kuharapkan. "Tapi kau membuatnya lebih nyata."
Dia tertawa kecil, tetapi ada sesuatu yang patah dalam caranya melakukannya, seperti ia sudah lama tidak tertawa untuk hiburan sederhana. "Itu hampir terdengar seperti pujian."
Sebelum aku sempat menjawab, suara langkah berat mendekat. Aku mendongak, dan di hadapan kami, ayah berdiri-membawa dua cangkir porselen yang mengepulkan asap. Tatapannya singgah padaku barang sekejap sebelum berpindah ke Herrz Muller, mengamatinya seperti seorang hakim yang akhirnya menemukan terdakwa yang tepat.
"Herr—Tuan—Muller? Herrz? Apa aku benar?" katanya, mengeja nama anak itu dengan tergesa-gesa. Herrz Muller menerima cangkir itu dengan hati-hati dan mengangguk. Tapi sebelum ia sempat menyeruput, ayah berbicara lagi, kali ini ia duduk di depan kami, dengan suara yang lebih dingin. "Aku melihatmu di jembatan. Aku mengenalimu, anak Berlin."
Kata-kata itu jatuh seperti beban yang memecahkan sesuatu di udara. Aku bisa mendengar derak sendok yang beradu dengan piring di meja sebelah. Herrz Muller menurunkan cangkirnya perlahan, tak terburu-buru menjawab. Namun aku tahu, ada getar halus di jemarinya yang menggenggam cangkir porselen itu. "Jika maksud Herr Helmss—"
Namun ayah tak memberinya waktu. Dengan suara yang hampir mengandung kemarahan yang tak bisa disembunyikan, ia berkata: "Kenapa kau mencoba membunuh putraku?" Suara ayah tenang, berbisik dengan rasa penghakiman yang jatuh. Seperti ia takut Tuhan mendengarnya sedang mengadili seorang anak yanng belum mengaku. Aku melihat ayah. Aku melihat Herrz Muller menunduk.
"Aku tak berniat membunuh siapa pun," katanya akhirnya, suaranya serupa angin yang lelah mengembara, hampir lenyap di antara berisik langkah dan gelak pecah di kedai itu. Namun dalam ketenangannya, ada getir yang menahan diri, seolah setiap kata yang terucap telah disaring dari ketakutan yang panjang.
Ayahku menatapnya, sorot matanya tajam namun tak terbaca, tatapan yang penuh beban dari tahun-tahun kehilangan, dari kesedihan yang tak pernah menemukan kata akhir. "Lalu kenapa kau mendorong Noah dari jembatan malam itu?" tanyanya, pelan, penuh kesabaran, hampir seperti doa yang tersamar.
Herrz Muller mengangkat wajahnya perlahan, dan aku melihat di matanya sesuatu yang menyerupai pengakuan. Bukan rasa bersalah, bukan ketakutan, tapi sebuah kelelahan yang terlalu tua untuk anak seusianya. "Karena aku juga dikejar kematian, Herr Helmss. Dan terkadang, kematian menyukai teman dalam perjalanan." Kata-kata itu menggantung di udara, berat dan tak teraba. "Noah tahu dia akan mati, dan-"
"Apa maksudmu?" Suara Ayah bergetar, nyaris mendidih. Herrz Muller duduk di sana, kecil dan kuyup. Namun, ucapannya menancap dalam seperti paku ke kayu tua. Aku mendengar napas ayah tercekat. Tangannya mengangkat gelas porselen di depannya, jari-jarinya mencengkeram seakan kapan saja siap melemparkannya ke kehampaan. Aku ikut berdiri, menahan. Di sudut ruangan, aku bisa merasakan tawa Sinclaire yang sunyi seperti belati yang tak terlihat.
Wajah Herrz Muller membeku, seolah kata-kata telah mengkhianatinya. Matanya—mata seorang anak Berlin—menemukanku di tengah kekacauan itu. Sementara, di pinggiran tragedi, orang-orang menyaksikan dengan mata lapar; beberapa menikmati drama itu bersama roti hangat yang terhidang di meja mereka.
"Oh, Noah tidak pernah memberitahumu?" Sekarang suaranya penasaran, tapi menyisakan getar yang tak terucap, dan aku tahu setiap kata yang meluncur bukan hanya untuk Ayah, tapi untukku. "Herr Helmss ... apakah Noah benar-benar tak pernah memberitahumu?"
Ayah menggeleng, pelan, aku mencoba memotong kata, tapi tangan ayah menangkap pergelanganku, begitu erat hingga sendi-sendinya memutih. Ada gemetar di sana, atau mungkin akulah yang gemetar. Seolah lewat genggaman itu, ia memohon aku untuk diam. "Apa maksudmu?" ulangnya lagi.
Herrz Muller diam. Kedai itu semakin sesak. Suara sendok beradu dengan piring, gelak tawa yang pecah, dan desahan napas yang terasa berat memenuhi udara. Bau roti yang baru keluar dari pemanggangan bercampur dengan aroma kopi, tetapi bagiku semua itu menjadi pengap, mencekik. Di tengah keramaian itu, kebohongan yang kusimpan semakin berat, seolah setiap suara adalah tuduhan, setiap tawa adalah ejekan.
"Kau sedang bercanda? Noah baik-baik saja! Dia hanya ... dia memang sakit, itu tidak berarti—"
"Tapi itu mungkin terjadi, bukan?" potong Herrz Muller lembut, hampir seperti permintaan maaf. "Kita bisa mati di tengah medan perang bahkan sebelum surat-surat kita sempat menyentuh tangan yang menunggunya; kita bisa mati di ujung tangga ketika makanan di atas meja masih hangat; bahkan kita bisa mati di atas kasur kita sendiri, tepat setelah merajut mimpi tentang hidup yang baru saja hendak dimulai lagi."
Aku merasakan detak jantungku semakin cepat. Rasanya seperti ada tali yang perlahan melilit leherku, semakin kencang seiring kata-kata itu terucap. Aku ingin berbicara, tetapi lidahku kelu. Pikiranku dipenuhi oleh ingatan-ingatan yang berlari liar-hari-hari panjang di mana aku berpura-pura, kebohongan yang menjadi tembok di antara aku dan ayah.
Bahu ayah merosot, dan untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan yang selama ini coba ia sembunyikan. Ketakutan yang menggerogoti, yang membuatnya membiarkan rumput di belakang rumah tumbuh liar. Ketakutan akan kehilangan yang kedua kalinya.
"Dia tidak pernah bilang," ulang ayah, tetapi suaranya sekarang kecil dan hilang. Ia menatap cangkir di tangannya seolah benda itu bisa memberinya jawaban. "Dia tidak pernah bilang."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.