BAB 40: Catatan tentang Cara Menghindari Kematian

66 6 2
                                        

"Turun saja," kata Sinclaire dari jendela kamarku. "Jangan terlalu banyak berpikir."

Tentu saja itu mudah baginya. Aku menurunkan satu kaki, mencari pijakan yang dibuat-buat oleh adrenalin. Sepatuku hanya menemukan permukaan bata yang licin. Lalu kakiku yang lain ikut turun, dan tiba-tiba berat badanku sepenuhnya bergantung pada kedua tanganku yang mencengkeram talang air.

Kemudian telapak tanganku tergelincir. Aku jatuh separuh jalan sebelum tubuhku menghantam sesuatu—mungkin bagian atap kecil yang menjorok keluar. Rasa sakit menjalar dari kaki sampai ke punggungku seperti listrik yang tidak sabar. Aku tergeletak setengah miring, mencoba mengingat bagaimana cara bernapas. Oh, rasanya memang seperti jatuh dari pohon mangga.

Di atas sana, wajah Sinclaire muncul di jendela dengan ketertarikan yang aneh, seperti seorang filsuf yang menyaksikan konsekuensi dari sebuah ide. "Setidaknya kau tidak langsung mati," katanya beberapa detik kemudian. Saat aku membuka mata, gadis itu sudah beridiri di sampingku.

Lalu alih-alih bertanya keadaanku, dia justru berkata, "Itu tadi agak dramatis." Seolah aku adalah aktor yang gagal dalam lakon komedi.

Aku menatapnya dengan sisa harga diri yang belum terkelupas. Entah sejak kapan kegemarannya dari mengacak kamar beralih menjadi menyelundupkanku keluar rumah. "Ini bukan ideku," jawabku pelan.

"Aku tahu." Ia mengulurkan tangannya.

Aku menepuk-nepuk debu dari celana, tapi rasa berdenyut di telapak kaki tidak ikut hilang. Lubang kecil di sepatuku menganga seperti bukti kecil dari kebodohanku, atau mungkin keberanianku yang diada-adakan. Sinclaire memperhatikanku dengan kepala sedikit miring, bukan dengan simpati, melainkan dengan minat yang menjengkelkan.

Angin sore menyusup di sela pagar kayu yang baru saja kami lompati, membawa bau tanah basah dan dedaunan yang telah lama terinjak musim. Dari balik—dinding rumahku yang pucat—halaman tampak lebih luas dari biasanya, seakan-akan jarak antara aku dan segala yang aman sengaja diperpanjang agar aku merasa menyesal.

"Kalau kau ingin kembali," katanya akhirnya, nadanya ringan, "aku tidak akan mengejekmu." Ia berbohong. Aku tahu dia akan melakukannya.

Aku menggeleng. Rumah di belakangku tiba-tiba tampak seperti peti besar yang dibangun dari kebiasaan: jam makan yang berulang, jendela yang selalu ditutup sebelum sore, suara ayah yang jarang terdengar kecuali karena hal-hal yang perlu. Keluar dari sana, meski hanya dengan melompati pagar setinggi dada, terasa seperti mencuri sedikit waktu dari Tuhan.

Sinclaire berjalan lagi tanpa menoleh, yakin bahwa aku akan menyusul. Dan aku memang menyusul. Kami melewati jalan berkerikil kecil yang jarang dilewati orang. Saat ia menangkap sisa-sisa kebosanan di mataku, ia mulai menganyam cerita; tentang nyawa-nyawa yang ia renggut dari rahang maut, bukan karena belas kasih, melainkan karena rasa jenuh yang akut. Oh, menjadi entitas ribuan tahun pasti memuakan dan aku adalah pekerjaan paruh waktunya.

"Tapi pertama kali aku bersinggungan dengan kematian seseorang, aku belum tahu apa yang harus kulakukan."

Langkahku melambat. Aku menunggu suara jenaka yang dilebih-lebihkan—atau setidaknya menambahkan komentar cemoohan seperti biasa—namun yang datang adalah keseriusan. "Siapa orang tidak beruntung itu, huh?"

Sinclaire tidak langsung menjawab. Angin menyingkap rambutnya dari dahi, memperlihatkan ekspresi yang jarang ia perlihatkan: bukan kesenangan yang ironis tapi sesuatu yang kurang memiliki arti. "Seorang anak," katanya akhirnya, ia berbalik dan berusaha membuat suaranya terdengar riang. "Kurang lebih seumurmu."

Aku hampir menggerutu, aku tidak suka caranya menyelipkan ukuran usia ke dalam kalimat itu. Siapa pula yang sudi mati muda? Tetapi cara Sinclaire mengatakannya membuat kematian tidak lebih dari sekedar tragedi agung, melainkan kesalahan teknis kuno—takdir yang absolut. Aku lalu bertanya bagaimana dia mati.

"Dia tidak mati karena pedang atau drama kepahlawanan, jika itu yang kau harapkan," jawabnya, sambil mengingat-ingat seperti berusaha mengarang beberapa bagian. "Dia mati saat musim dingin. Di sebuah desa berwabah, di bawah atap reot yang sakit-sakitan, dan kedinginan sampai mati."

"Wabah?"

"Ya. Anak itu duduk di depan pintu rumahnya yang terkunci dari dalam. Orang tuanya sudah mati lebih dulu, atau mungkin mereka terlalu takut untuk membiarkannya masuk. Dia duduk di sana, memeluk lututnya saat salju mulai menutupi rambutnya. Menunggu keajaiban yang tidak punya ongkos pulang ke desa sekecil itu."

"Lalu kau di sana? Hanya menonton?" Suaraku sedikit menghakimi.

"Oh, aku tidak mengerti konsep belas kasih." Sinclaire tergelak, seolah tuduhanku tidak benar. "Saat salju mulai menutupi kelopak matanya, dia menatapku dengan rasa syukur yang mengerikan. Dia mengulurkan tangannya yang sudah membiru dan bernanah, mencoba menyentuh ujung jariku sebelum akhirnya jatuh ke salju. Aku berdiri di sana cukup lama. Menunggu dia bangun, mungkin? Atau menunggu jiwanya melakukan sesuatu yang spektakuler seperti di buku-buku agamamu. Tapi tidak ada apa-apa."

Kalimat itu dijeda oleh langit meredup yang turut menjadi biru kelabu. Saat aku melihat anomali mayat Frau Lehrmann, aku sempat tidak bisa tidur. Jika aku diberikan pensil untuk mendeskripsikannya, aku akan menulis hal-hal menjijikan. Tapi di sinilah Sinclaire, menyaksikan kulit terkelupas oleh kusta, kelaparan hebat dan masih menceritakannya sambil menyerengeh.

Malahan aku membayangkan sebaliknya, salju keabuan yang bercampur sisa pembakaran. Cerita itu menyeretku untuk ikut membabat pada masa lampau. Jika aku yang berdiri di sana mungkin aku akan berdoa, atau melakukan sesuatu yang besar. Kemurahan hati yang tidak masuk akal.

"Apa kau pernah memberi keajaiban, seperti kemurahan hati pada seseorang?" tanyaku. Ia tertawa. Hei, bukankah malaikat selalu memiliki cerita keajaiban.

"Oh, pernah."

"Siapa?"

"Seorang anak," katanya ringan.

Sekarang aku yang tertawa, cerita anak wabah itu bukanlah kemurahan hati yang kutagih. Kematian itu, mungkin bagi anak itu, benar-benar terasa seperti kiamat kecil, dan seseorang yang angkuh—atas nama malaikat, yang justru kerap diceritakan penuh suka cita di banyak dongeng—hanya menontonnya seperti boneka sawah.

"Bukan yang itu." Ia mengerutkan alisnya sedikit dengan kecewa. Tangannya lalu menunjuk langsung ke arah dadaku. "Yang ini."

"Dua tahun lalu," lanjutnya. "Malam itu kau berada di kamarmu. Ibumu lupa menutup jendela setelah berdoa, dan angin malam masuk begitu saja. Kau menggigil di tempat tidurmu, demam itu sudah membakar paru-parumu. Oh, aku berdiri di sana sangat lama, tapi aku tidak cuma menonton. Bukankah malaikat terkenal murah hati?"

Aku berhenti mendadak. Sinclaire mengangguk dan ada jejak binar di matanya. Dia terus berjalan, dadanya membusung bangga seolah ia telah belajar sesuatu yang besar bagai mahasiswa di Vienna. Di atas kepala kami ranting pohon mencakar udara seperti bisikan yang mencoba meniru bahasa manusia. Aku ingat kamar itu dan doa-doa rancu yang manari-nari.

Keheningan mengambil alih sesudahnya. Kami keluar dari jalan kecil itu dan memasuki jalur tanah yang menuju taman kota. Aku tidak tahu ke mana dia ingin membawaku, entah ke kursi taman yang beralih fungsi menjadi bilik pengakuan dosa, taman Eden yang mirip taman makam, atau rumah seorang veteran yang hampir demensia. Aku mengikutinya tanpa peduli.

Di tengah taman ada kolam kecil yang airnya keruh, memantulkan langit yang mulai kehilangan warnanya. Sinclaire berhenti di tepi kolam dan mengaduk air dengan ujung ranting yang ia ambil dari tanah. Lingkaran-lingkaran kecil menyebar di permukaan air, seperti karikatur.

"Aku tidak ingat melihatmu," kataku akhirnya.

"Tentu saja tidak." Ia tidak menoleh. "Orang jarang punya memori yang jelas tentang momen seperti itu. Para pencerita terlalu banyak meromantisasikannya."

Tentu saja, siapa yang akan menangindah-indahkan momen roti isi terakhir yang kau makan, atau perjalanan recehan ke sebuah pondok puisi di detik akhir hidup, kecuali sesi tawar-menawar alot dengan Tuhan. Oh, begitu efisiennya. Itu menyakitkan bagi para pemuisi. "Jadi, itu keajaibanmu?" kataku.

Ia menoleh ke arahku, memamerkan parasnya yang segila musim panas. Lalu, dengan nada yang terlalu sederhana untuk kalimat sebesar itu, ia berkata, "Ya," jawabannya singkat. "Kau pantas mendapatkannya."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 31 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SinclaireCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang