BAB 39: Ngengat di Mayat Hidup

79 9 11
                                        

Dua minggu berjalan layaknya terkutuk. Malam-malam terasa memanjang. Aku mengalami mimpi buruk yang sama, tentang terperangkap dalam penyiksaan yang tak dapat kusebutkan, merangkak keluar dari liang yang basah, tanah menempel pada kuku, dan darah busuk menetes dari daguku. Hidup, dalam masa seperti ini, tak menawarkan keindahan yang kerap dirayakan dalam kidung picisan penyair musim panas. Kematian, yang selalu dijauhkan dari lagu-lagu, justru ketat menjaga jarak di depan mataku.

Ayah pulang dengan wajah aneh pagi ini. Keringat dingin membasahi pelipisnya meski udara tak cukup hangat untuk membuat siapapun berkerut. Di luar seorang anak tujuh tahun membawa kabar seperti burung. Ia menceritakan kabar tentang Frau Lehrmann sambil mengunyah roti, seolah kabar duka adalah sarapan lumrah untuk ditukar di pagi buta.

Wanita malang itu ditemukan duduk di kursi rumahnya, dengan mata membelalak, hampir terjungkal mencari jalan keluar, dan mulut melangap, seolah kematian bertamu dengan terburu-buru, tak sempat mengetuk pintu dengan benar, hampir tak sempat bermurah hati. "Serangan jantung," kata orang-orang.

Aku memuntahkan seluruh roti isi yang kumakan pagi itu. Menyamakan daging ham yang kumakan dengan irisan daging kendur di wajah Frau Lehrmann yang kulihat tempo waktu itu. Begitu segar diingatanku, bak mayat-mayat di baris artillerie. Jika wanita malang itu sungguh ditemukan dalam wujud demikian, maka terkutuklah sang kematian.

Telegram datang keesokan sore. Pemakaman besok pagi. Yang entah bagaimana surat itu datang lebih seperti perjamuan. Oh, pemakaman memang panggung untuk kebangkitan dan kegetiran, sebuah drama yang tak pernah Sinclaire lewatkan. Ayah berdiri di tangga ketika aku mengatakan ingin datang ke pemakaman Frau Lehrmann.

"Aku tidak membawa orang sakit ke pemakaman." Kalimat itu tidak memiliki arti apapun. "Tidak akan banyak yang datang," imbuhnya. Seolah perayaan itu tidak akan memiliki peminat serius, kecuali bagi seorang pendeta yang hampir senja, suster, dan seekor kucing milik penggali kubur.

Pagi hari pemakaman, dadaku memuntahkan desir kecil, dan lonceng kapel berdentang di timur, bernyanyi, bekerja lebih baik dari ayam-ayam tetangga kami yang payah. Ayah pergi ke upacara pemakaman sendiri, dengan mantel dan kaus kaki yang hampir masih basah. Sementara ujung kemejaku berbau mayones dari sarapan yang tak seberapa.

Itu mengingatkanku sedikit dengan seorang temanku di sekolah dasar, ia mengatakan upacara penguburan sangat mirip dengan menanam bintang. Tubuh kakeknya ditaruh di dalam tanah yang gelap agar rohnya bisa pecah seperti biji semangka, dan tumbuh tinggi sampai ke langit. Aku belum pernah datang kesatupun pemakaman saat itu. Di usiaku yang tak lagi sama, aku tahu tanah tidak pernah menumbuhkan bintang. Mayat tidak sama dengan biji semangka.

Aku membayangkan pemakaman itu tanpa perlu hadir. Tanah yang masih segar, doa yang berdesak-desakkan, wajah-wajah yang datang bukan oleh simpati, melainkan karena kebiasaan. Frau Lehrmann diturunkan perlahan, dan tak seorang pun benar-benar ingin memastikan ia telah di bawah. Kematian, bagiku, selalu bekerja seperti itu: efisien, tidak sentimental.

Sinclaire pasti ada di sana.

Mungkin berdiri di kejauhan dengan gaun antik yang manis, dan mengerutu tentang pelayat di baris belakang yang merokok. Dia tak akan menemukan kenikmatan dari upacara itu, kecuali seekor kucing yang datang. Suaranya akan melengking mengatakan kucing tua itu mirip dengan pemilik toko daging yang sering kami lewati.

Alih-alih begitu, pagi ini, aku mendapatinya di kamarku. Rambutnya jatuh lembut ke bahu, dengan paras porselen yang seharusnya ditemukan di altar keluarga bangsawan. Ia bersenandung, celotehan yang hampir tak bermakna apapun. Tumitnya telanjang mengetuk lantai kayu dengan ritme seperti lalat.

"Apa kau harus berisik?" tanyaku akhirnya.

Sinclaire menoleh, "Ini berisik?" katanya sambil menjatuhkan barisan buku yang telah kurapikan di atas meja semalam. Aku menghela napas, menahan rasa perih yang menjalar dari dada ke tenggorokan.

SinclaireTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang