BAB 35: Prelude; Dosa dan Doa

103 11 3
                                        

Pertama kali aku melihat merah adalah saat usiaku tujuh tahun, satu minggu sebelum natal. Herr Heinrich—tetangga kami—kembali dari front timur dengan satu kaki ketika sebuah truk mengantarnya pulang. Bercak merah dari kain kasanya menodai tanah bersalju. Memberi pemandangan yang mirip dengan kisah rakyat.

Anak-anak di desa kami mengarang cerita bahwa Herr Heinrich baru saja melawan naga jahat. Memberantas kejahatan di luar sana seperti pahlawan. Tapi di rumahku ibu membakar koran harian dan berdeklarasi peperangan hanya membawa keburukan. Merenggut pergi suaminya yang tak akan lebih dari pahlawan yang membusuk satu baris dalam koran.

Aku tumbuh di dalam rumah jompo, di bawah atap seorang pria yang kupanggil ayah—seorang pria yang kembali dari perang dengan langkah lebih lambat dan mata yang lebih dalam. Ia bukan lagi lelaki yang ditinggalkan ibuku di peron kereta bertahun-tahun silam, yang penuh janji dan senyum. Kala itu, aku hanya anak lima tahun yang berdiri di belakang roknya.

Sekarang, rumahku mati oleh percakapan serius. Ketika tentara merah mulai menduduki Berlin ayah sempat berpikir untuk membawa kami pergi ke Coventry, tapi itu tak pernah terjadi. Kami tetap berada di Potsdam ketika dialog Rusia mulai marak di depan pintu rumah, dan pada suatu Senin yang tak terduga, mereka menghilang tanpa jejak.

Oh, di suatu pagi buta ayah menyalakan cerutu dan udara dipenuhi bau tanah yang basah, seolah-olah dunia sendiri masih berada di antara hidup dan mati. Kadang, aku berpikir apa yang telah dilihat ayah dalam perang, apa yang membuatnya begitu diam. Mungkin ada sesuatu di sana yang tak bisa diceritakan, sesuatu yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang menyapa kematian dan kembali dengan tangan kosong.

Maka dari itu orang mengkonotasinya dengan bubuk mesiu, suara seribut tembakan. Kemudian merah seperti apel, diikuti oleh kematian yang lambat. Tapi bagiku takdir itu adalah bisikan sederhana, ladang kering yang dingin dan api kecil dari cerutu ayahku.

Itulah mengapa, sejak kecil, aku kerap berdiri di sisi yang asing. Tempat di mana bayangan lebih pekat dan langkah-langkah terasa ragu. Sudut yang keliru selalu memanggil dengan daya tarik yang aneh, seolah-olah kesalahan memiliki bahasa rahasia yang hanya dimengerti anak-anak. Kejahatan-kejahatan kecil menjadi semacam petualangan: mencuri rasbei dari kebun tetangga, membiarkan ujung sepatu berlumpur mencoreng lantai rumah, atau menyimpan batu-batu tajam di dalam saku seolah-olah itu harta karun.

Lalu bangkitlah hari penghakiman—momen di mana segala kenakalan kecil itu menjelma menjadi vonis yang tak terelakkan. Aku ingat hari itu dengan kejelasan yang menyakitkan: aku dituduh mengutil rokok seorang guru di sekolah dasar. Dan bersama tuduhan itu, berdirilah Klaus, anak laki-laki yang kukenal dari kelas bahasa, pendiam dan selalu tampak gelisah. Kami berdua menjadi terdakwa dalam aula kecil gereja di belakang sekolah.

Ayahnya datang kemudian. Seorang mantan sipir dengan wajah yang mengeras oleh tahun-tahun kekuasaan dan ketidakpedulian. Aku melihatnya menginjak kaki Klaus dengan gerakan yang tenang, seolah-olah itu adalah hukuman yang sudah biasa, atau mungkin, tak lagi terasa seperti hukuman sama sekali. Di saat itu, aku tahu bahwa tuduhan ini bukan sekadar tentang rokok yang hilang; ini adalah tentang bagaimana dunia memutuskan siapa yang bersalah, bahkan sebelum kata-kata pembelaan sempat terucap.

Maka mulailah aku bercerita, merangkai kisah tentang pencurian yang berani—sebuah dusta yang tumbuh dari bibir bocah sepuluh tahun. Mengenyam kebohongan bukanlah perkara sulit di usia itu. Maka, kususun cerita: aku mencuri rokok seorang guru di jam istirahat dan membuangnya. Satu-satunya kebenaran dalam cerita itu adalah bahwa aku tidak suka asap rokok yang menyesakkan.

"Aku bersumpah demi Tuhan, jika aku berdusta, biarlah aku mati," tutupku. Kata-kata itu meluncur begitu saja. Dan saat itu aku pun hampir percaya dengan kebohonganku sendiri.

Aku tidak tahu kenapa aku melakukannya. Mungkin karena aku melihat bagaimana Klaus menggigit bibirnya sampai pucat, bagaimana bahunya gemetar seperti seorang pria tua yang telah kehilangan segalanya. Aku tidak bisa membayangkan ia dihajar ayahnya. Tidak sepertiku, ayah akan memaafkanku, ibu akan mengerti, oh, dan Tuhan akan memaklumi.

Namun, sejak aku mengucapkan sumpah itu, tubuhku terasa ringan, terlalu ringan seakan jiwaku mulai melayang, terlepas perlahan dari daging dan tulang. Suatu malam aku mulai merasa ada sesuatu yang berubah. Nafasku lebih berat dan darah menetes di daguku. Kali kedua untukku melihat warna merah. Aku sudah tahu bahwa sejak sumpah itu keluar dari bibirku, aku telah memberikan sesuatu yang tak bisa diambil kembali.

Ibu tidak pernah bertanya lagi mengenai apa yang terjadi hari itu di aula gereja. Ia tidak pernah menuntut penjelasan. Tapi dalam caranya yang sunyi, ia tahu menganai dosaku. Dan seperti seorang pencuri, aku tidak ingin mereka mengetahuinya. Dan seperti orang yang mengharapkan balasan, aku tidak ingin mati karena kebaikan yang telah kulakukan.

Aku masih ingat bagaimana pada suatu malam di akhir Oktober yang dingin, jemari ibu yang kurus membelai rambutku setelah aku muntah. Sudah satu minggu dan tak satu pun dari dosaku diampuni, bahkan meski aku melakukannya atas dasar kemurahan hati. "Tuhan mendengar, Nak," katanya lirih, hampir seperti bisikan.

Aku ingin bertanya apa maksudnya, tapi saat itu aku sudah tahu. Ada sesuatu dalam sorot matanya, dalam caranya memandangi dunia seakan ia telah membuat janji dengan sesuatu yang tidak bisa disebut. Namun jika kurenungi kembali, itu hanyalah sepasang mata seorang ibu yang menyayangi putranya.

Esok sorenya, saat lonceng gereja berdentang, ayah menemukan ibu di tempat tidur. Aku berdiri di ambang pintu saat ayah mengguncang tubuhnya, memanggil namanya berulang kali dengan suara yang terdengar lebih seperti permohonan daripada keputusasaan. Bertengkar dengan doa yang pernah ibu bisikkan padaku semalam.

Wajah ibu tampak tenang, tangannya terlipat di dada seperti seseorang putri yang tenggelam dalam sungai, kulitnya lebih pucat dari lilin gereja, bibirnya sedikit terbuka, seolah masih ingin mengatakan sesuatu atau itu hanya perpisahan yang menyakitkan.

Aku duduk di tepi ranjangnya, tangan gemetar. Ada satu hal yang kutahu sejak hari itu, aku tidak ingin menemui kematian. Meski kematian tidak berlari kepadaku dengan cakar yang menakutkan, atau digambarkan oleh seorang gadis yang mengajak menari dalam keheningan. Aku tidak ingin mati.

 Aku tidak ingin mati

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
SinclaireTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang