BAB 38: Memberi Makan Kematian

38 6 4
                                        

Kegaduhan dangkal. Hari di mana aku bertengkar dengan Herrz Muller di kedai, aku dan ayah pulang dengan kereta. Tubuhku masih membawa sisa pertikaian amatir—pipiku berdenyut dan ujung jariku berbau besi, membawa jejak merah seperti tanda. Menunjukkan bukti kemenanganku untuk beberapa saat.

Di hadapan kami duduk seorang pria tua yang membawa dugaan bahwa aku baru saja berkelahi di pasar. Ia menatapku seolah telah membaca seluruh kesalahanku hanya dari menduga, seakan-akan aku adalah hasil dari sesuatu yang gagal ia benahi di masa mudanya.

"Hah, anak muda!" katanya dengan kelakar yang tidak aku suka, "anak-anak selalu bertengkar, berpikir mereka akan hidup lebih lama. Tidak ada konsekuensi atas tindakan amatir mereka."

Ia melirikku sambil membusungkan dadanya, seolah sedang memamerkan dirinya sebagai bukti hidup dari opini absurdnya sendiri. Dia lanjut terus bicara—tentang umur panjang, tentang anak-anak yang tak tahu diri. Kalimat-kalimatnya tak beraturan, menabrak satu sama lain untuk lima belas menit.

Aku hanya menunduk, mengikuti tali sepatuku yang terguncang oleh laju kereta. Aku tak punya tenaga untuk menanggapi, apalagi tentang nasihat yang terdengar seperti teka-teki basi. Aku sudah punya Sinclaire untuk itu. Figur surealis itu lebih pandai menertawakanku lebih dari siapapun.

Aku berpikir, seandainya Sinclaire duduk di hadapanku sekarang, ia mungkin akan mengoceh sesuatu—metafora teatrikal dan bahasa tinggi—atau malah tertarik untuk ikut serta mengecamku dalam perjalanan. Tapi Sinclaire tidak ada di sini. Tidak untuk berbisik, tidak untuk menghantuiku seperti kutukan.

Kira-kira sudah beberapa hari aku tak melihat si anak makaroni itu atau sang penggila apel lagi. Hari-hari setelah itu jatuh seperti vonis dari potongan kertas koran, tak ada yang berarti. Di rumah, aku hanya membaca buku yang tak selesai-selesai, memberi coretan yang lebih mirip rekaman seismograf daripada kalimat.

Sampai suatu sore ayah merokok di teras dan bertanya mengenai Herrz Muller. Membuatku mulai mengoceh tentang jejak pengasingannya, tentang kota asing yang hanya kami sebut sekali. Aku bercerita tentang minatnya yang nyaris fanatik mengenai literatur, setiap kali suaranya berubah penuh antusias, membuatnya terdengar seperti anak lainnya.

Mungkin gema samar dari kedai itu masih menempel di kepala ayah, ucapan Muller yang seharusnya bisa ia buang bersama asap rokok dan tawa para penyumpah, tapi ternyata tertinggal. Seolah anak itu meninggalkan trauma menggelikan baginya. Hari-hari setelahnya tak pernah ada lagi pembicaraan mengenai si anak makaroni.

Kemudian hari Sabtu datang tanpa keistimewaan, sebuah telegram singkat datang pagi buta, sesuatu mengenai Trümmerbeseitigung. Aku bahkan tak tahu apa maksudnya sampai ayah membahasnya di meja makan pagi itu juga. Mereka menyebutnya penataan ulang, kebutuhan rekonstruksi pasca perang.

Ayah bilang kami mungkin akan pindah jika mereka benar-benar memutus listrik rumah. Meski baginya memindahkan barang-barang adalah pekerjaan yang terlalu berat dan mencari hunian sementara dengan harga lumrah adalah kemustahilan di tahun-tahun ini.

"Kita tetap di sini saat perang meledak. Lucu sekali kalau harus pergi hanya karena lampu padam," gerutunya sambil menyendok salat makaroni yang dingin.

Aku mengangkat bahu. Dari jendela dapur yang telah menguning, tetangga kami menandai dinding-dinding tua mereka dengan cat, menulis angka dan kalimat yang entah bermakna apa. Suara palu menggema, ritmis dan monoton. Ayah masih mengomel, kali ini tentang harga tanah dan pemerintah yang tidak tahu akan ke mana.

Aku tak menjawab. Makaroni di piringku telah berantakan. Aku kembali pada jendela kuning, dan alih-alih mendapati pantulan diriku, aku melihat wajah gadis itu, kematian, menempel di kaca. Matanya seakan hampir terlepas dari rongganya, membesar seperti telur busuk yang pecah. Kulitnya—ya Tuhan—kulitnya keriput seperti lembaran daging yang sudah diasinkan berabad-abad, sarat dengan tahun-tahun keterbelakangan yang terasa berat dan jahat. Ia tersenyum.

Aku segera memalingkan wajah dan kursiku berderit tak karuan. Ayah melihatku penasaran, "Ada apa?"

Kutelan ketakutan yang terasa seperti bubuk mesiu, lalu suara sapaan riang beriringan dengan kengerian. Aku melihat ke arah jendela lagi. Frau Lehrmann berdiri di balik kaca yang setengah terbuka, tetangga kami yang berwajah ramah. Mengetuk kaca dan membawa keranjang anyaman berisi apel merah. Apel.

Dia tersenyum hangat, benturan kontras dengan kengerian barusan terasa memukul dadaku. Seluruh napas yang kutahan keluar, berubah menjadi rasa mual dan pusing hebat.

"Oh, Frau Lehrmann!" Kelakar ayah keluar seperti genderam.

Frau Lehrmann tersenyum di balik kaca. Namun, aku bersumpah melihat sesuatu di sana. Ayah berdiri untuk membuka jendela dan suara wanita tua itu masuk melengking seperti penyihir. Menyahuti kami dengan cerita panjang seperti kotbah—tentang putrinya yang pindah ke Köln, tentang salah seekor kucingnya yang kabur dua hari lalu, bagaimana ia tinggal sendirian sekarang.

Aku hanya menatap tangannya, keriput dan gemetar, seperti menyodorkan replika kayu apel yang baru dipoles dengan cat merah milik tetangga kami. Apel panggung. Ia tersenyum ke arahku lewat jendela yang kini terbuka. "Ini dari pohon terakhir di kebun belakangku," katanya bak menganggap apel-apel itu adalah satu-satunya warisan yang dia punya.

Nyonya tua itu lalu pergi dengan seekor kucing masih melingkari kakinya. Jendela ditutup dan ayah berbalik, hendak melanjutkan ocehannya tentang listrik dan kentang busuk sampai ia melihat ke arahku. Ketakutan kuno telah dipahat sedikit-sedikit di wajahnya.

"Astaga, Noah," gerutunya sambil mengambil serbet dari meja.

Aku sempat tak mengerti apa yang dia maksud. Kupikir omelette terpanggang hangus di dapur, atau seekor kucing baru saja masuk dan menendang kopi ayah. Baru ketika serbet itu disentuhkan ke wajahku, hidungku terasa panas, aku mencium bau koin-koin tembaga tua, hampir apek dan mentah garam. Darah. Menetes seperti tinta bocor dari pena murahan.

Ayah mengumpat lirih, suara domestik yang sama yang biasa ia keluarkan ketika ia kehabisan kertas di mejanya, atau ketika ia tak sengaja menumpahkan teh di meja. "Tunggu di sini," katanya, sudah separuh pergi ke dapur belakang. Ketika ayah lewat, Sinclaire hadir di ambang pintu.

Ia berdiri di sana, bersandar dengan keanggunan yang menghina terang-terangan. Gaunnya jatuh lurus dengan sopan, wajahnya tak mengerikan. Kontras itu begitu mengerikan. Aku membayangkan seandainya aku berpaling sebentar saja, wajah itu mungkin akan meluruh, menua, dan menyingkap senyum hingga telinga.

Dia tidak melihat ke arah apel di meja, tapi ke arahku. "Bolehkah aku memakan apel itu?" pintanya, seperti ngengat yang mengerumuni mayat.

SinclaireCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang