25 | Between Duty and Desire

53 9 0
                                        

Sinar matahari pagi menyelinap melalui celah gorden, membuat [Name] mengerjapkan mata dengan malas. Ia meraih bantal, lalu menyipitkan mata seolah berusaha menghalau cahaya itu. Butuh beberapa detik sebelum akhirnya ia benar-benar terlepas dari lelapnya, dan [Name] baru menyadari sesuatu: dia tidak ingat bagaimana bisa sampai ke kamarnya semalam. Terakhir yang diingat, mereka masih duduk di sofa, Louis meringkuk di pangkuan Erwin, dan film masih berjalan.

"Jangan-jangan..." gumamnya pelan.
Tangan [Name] otomatis menyentuh selimut yang rapi menutupi tubuhnya. Rasanya mustahil dia sendiri yang membereskan semua ini, apalagi ketika ingat betapa berat kelopak matanya saat itu.

Senyum kecil muncul di bibirnya. "Dasar Erwin..." Pasti laki-laki itu yang menggendongnya ke kamar setelah ia ketiduran karena kelelahan menonton film.

Perlahan, bayangan semalam terlintas—kepala yang mulai terkulai ke bahu Erwin, suara film yang mulai terdengar samar, lalu hilang. Dia bisa membayangkan Erwin menghela napas kecil sebelum dengan hati-hati memindahkan Louis, lalu membopongnya melewati ruang tamu yang temaram, membuka pintu kamar dengan kaki, dan menidurkannya di tempat tidur.

Bahkan mungkin, dialah yang menutupkan selimut dan memastikan kepalanya nyaman di bantal. "Padahal kan bisa dibangunin... tapi ya... dia memang gitu," batinnya sambil tersenyum tipis.

[Name] duduk, rambutnya masih acak-acakan, suara dari luar terdengar samar—bukan suara TV, bukan pula suara Louis. Hening yang menyelubungi ruangan justru membuat aroma teh hangat entah dari mana tercium samar. Ia pun bangkit perlahan menuju pintu kamar. Begitu keluar, [Name] menemukan meja makan dengan secangkir teh panas yang masih beruap dan sebuah catatan kecil bertuliskan:

Aku jogging sebentar. Nggak tega bangunin kamu, istirahatmu lebih penting. — E

[Name] mendengus sambil tersenyum tipis. "Nggak rela bangunin, padahal kalau dia ngajak aku sekalian, kan lumayan olahraga." dia menyeruput teh itu sambil memandang mangkuk makanan Louis juga sudah terisi bahkan sudah sisa setengah karena kucing gembul itu sudah selesai sarapan sambil mengusap kakinya, seakan sarapan kali ini lebih lezat jika di hidangkan oleh Erwin.

Lalu, [Name] segera mandi dan bersiap untuk pergi ke kantor. Uap hangat dari kamar mandi masih terasa saat ia berdiri di depan lemari pakaian, menatap deretan baju dengan mata setengah mengantuk. Hari ini, ia memutuskan untuk memakai celana hitam yang nyaman dipadukan dengan kemeja mocha. Blazer hitam ia kenakan untuk menambah kesan profesional. Sepatunya pun ia pilih yang ringan, mengingat sore nanti ada janji jalan ke Shibuya bersama Erwin.

Meja rias sudah penuh dengan peralatan make up. [Name] duduk, lalu memoleskan foundation tipis, sedikit blush untuk memberi rona segar, dan lipgloss. Sambil mengatur rambutnya dengan catokan, ia sempat menatap pantulan wajahnya di cermin—berusaha memastikan dirinya terlihat lebih segar daripada kemarin. Dalam hati, ia tersenyum tipis membayangkan bagaimana suasana Shibuya nanti. Lampu-lampu neon, jalanan ramai, dan suara musik dari toko-toko di pinggir jalan.

Tiba-tiba, suara notifikasi ponsel memecah lamunannya. Ia berhenti mencatok, meraih ponsel yang tergeletak di meja. Nama Levi muncul di layar.

Pesan itu terbaca:

"Aku akan datang sedikit lebih siang ke kantor. Bisa tolong bantu urus beberapa hal sebelum aku sampai."

[Name] langsung membalas dengan singkat namun profesional:

"Baik, semua laporan dan agenda akan aku siapkan sebelum tuan tiba."

Tanpa membuang waktu, [Name] segera mengunci layar ponsel dan melanjutkan persiapannya. Ia tahu persis apa yang harus dilakukan. Setelah semua rapi, ia mengambil tas kerja, memastikan dokumen penting sudah tersimpan, lalu menyemprotkan sedikit parfum beraroma lembut. Melangkahkan kakinya keluar kamar dan bertemu dengan Erwin yang ternyata sudah pulang, Erwin menoleh sambil menyapa dengan mengangkat kedua alisnya karena dia sedang minum segelas air. [Name] bersidekap sambil menyandarkan punggungnya ke dinding, "Kenapa nggak bangunin aku?"

NO REGRETCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang