27 | Shibuya

36 5 9
                                        

Kali ini agak lebih panjang, jadi baca perlahan dan nikmati Shibuya bersama Erwin.

.

.

.

Sore itu, setelah tidur siang panjang berkat izin pulang lebih awal dari Levi, [Name] bangun dengan tubuh segar. Rasanya aneh-hari kerja biasanya penuh tumpukan dokumen dan rapat, tapi kali ini ia bisa bersantai, bahkan punya cukup waktu untuk bersiap. Di kamar, ia berdiri di depan cermin sambil merapikan rambut. Jaket tipis sudah tergantung rapi di kursi, sneakers favoritnya pun sudah menunggu di dekat pintu.

"Hmm... cukup ini saja, kan?" gumamnya pelan. Ia tidak pernah terlalu memikirkan penampilan jika bersama Erwin. Baginya, Erwin hanyalah sahabat lama yang selalu bisa membuat suasana jadi ringan.

Ponsel di meja berbunyi, notifikasi dari Erwin muncul:

"Aku di jalan. Sepuluh menit lagi sampai."

[Name] tersenyum kecil, lalu memasukkan ponsel ke dalam tas. Tapi sepuluh menit itu terasa lama sekali. Ia sempat duduk di tepi ranjang, mengetuk-ngetuk meja dengan jari, lalu bangkit lagi hanya untuk memeriksa cermin untuk yang kesekian kalinya.

"Kenapa aku jadi terlihat seperti orang gelisah begini..." ia tertawa kecil pada diri sendiri. "Padahal ini cuma jalan dengan sahabat, bukan kencan."

Bel rumah akhirnya berbunyi. Degup jantungnya otomatis lebih cepat, bukan karena ada rasa khusus, tapi karena antusias ingin segera keluar rumah setelah hari-hari penuh tekanan.

[Name] bergegas membuka pintu.

Erwin berdiri di sana, rapi tapi santai dengan kemeja lengan digulung. Senyumnya tipis, khas dirinya.
"Sepertinya ada yang tidak sabar," katanya sambil menatap [Name] dari ujung kepala sampai kaki.

[Name] mendengus sambil menyambar tasnya. "Ya iyalah! Aku bosan sekali di rumah. Kau ini lama sekali, tahu tidak?"

Erwin menaikkan alis, pura-pura tersinggung. "Lama? Padahal aku datang tepat waktu."

"Kalau begitu jam di rumahku lebih cepat dari jam punyamu." [Name] menutup pintu dengan cepat, lalu berjalan mendahului Erwin. "Ayo, sebelum aku berubah pikiran."

Erwin menatap punggung [Name] yang penuh semangat itu, lalu tersenyum samar.
Bagi [Name], malam ini mungkin hanya sekadar jalan dengan sahabat.
Tapi bagi Erwin... setiap detik bersamanya berarti lebih dari itu.

Mobilpun meluncur perlahan di jalanan sore Tokyo, lampu-lampu toko mulai menyala, dan hiruk pikuk orang-orang yang baru pulang kerja memenuhi trotoar. Dari kursinya, Erwin tak henti-hentinya menoleh ke luar jendela. Matanya berbinar, seolah setiap papan neon dan gedung tinggi adalah pemandangan baru, padahal dulu ia pernah tinggal di kota ini.

"Tokyo masih sama seperti terakhir kali aku di sini," ucapnya pelan, seakan berbicara pada dirinya sendiri.

"Sudah lama sekali aku tidak pulang" sambung Erwin.

"Aku meninggalkan Tokyo saat kita mulai kuliah. Setelah itu... hanya Amerika, pekerjaan, dan rutinitas yang membosankan." Ia menarik napas dalam-dalam, seolah aroma jalanan Tokyo bisa menebus tahun-tahun yang hilang. "Dan sekarang aku kembali. Rasanya seperti bertemu teman lama."

[Name] mengangkat alis, pura-pura heran. "Teman lama? Kau pasti satu-satunya orang yang bisa menyebut jalanan macet dan keramaian di Shibuya sebagai teman lama."

Erwin tertawa lepas. Tawa itu membuat suasana di dalam mobil jadi ringan, seakan mereka bukan dua orang dewasa dengan beban masing-masing, melainkan sahabat yang baru saja menemukan alasan untuk tertawa tanpa henti.

NO REGRETTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang