31 | No Turning Back

31 6 4
                                        

One decision changes everything.

.

.

.

Levi duduk di tepi ranjang, ponsel di tangannya terasa berat seperti batu. Ia menatap layar sebentar, menahan diri untuk tidak menekan tombol panggil. Jujur, ia malas—malas harus berurusan langsung dengan Kenny, paman yang sombong dan tak kenal kompromi. Tapi situasinya tidak memberi pilihan lain.

Ia menarik napas panjang, menunggu panggilan dijawab. Tak lama — "Hahaha, of course, anything for you," terdengar dari seberang.

Ia menjauhkan handphonenya dari telinga, karena dari sana terdengar keramaian, suara gelas berdenting, tawa nyaring, bahkan musik yang samar seakan datang dari bar atau ruang publik. Kenny tampak berada di tengah keramaian, tapi suaranya tetap jelas, menguasai panggilan.

Sudah pasti Kenny sedang berpesta, menghabiskan masa tua berkeliling dunia, dengan wanita wanita muda, sudah biasa. Siapapun tahu Kenny suka hidup glamour. Levi mendengus pelan, karena Kenny masih sibuk tertawa. Levi menunggu dengan wajah cemberut, setelah dua menit berlalu barulah terdengar suara riuh itu terasa semakin jauh, sepertinya Kenny menjauh terlebih dahulu. "Yo~ Levi? Tumben kau meneleponku." 

"Kenny kau lagi dimana?"

"Tch—serius, Levi? Dari semua hal yang bisa kau tanyakan, kau malah nanya aku lagi di mana? Dengar baik-baik, bocah, aku lagi sibuk menikmati hidup. Jadi cepat bilang apa maumu sebelum musiknya mulai lagi."

"Kalau kau bisa berhenti jadi pusat perhatian lima detik saja, mungkin aku bisa jelaskan kenapa aku nelpon."
Levi menunduk, satu tangan mengusap wajahnya pelan, sabar bukan hal yang mudah jika berurusan dengan Kenny.

"Tch... kau selalu tahu caranya merusak suasana." terdengar suara grasak-grusuk di seberang sana, diikuti tawa ramai yang semakin jelas. Ada dentingan gelas, lalu suara seorang wanita tertawa di dekat mikrofon panggilan. Di tengah keramaian itu, suara Kenny terdengar parau, setengah berteriak agar menembus bisingnya musik.

"Don't start the party without me! I won't be long!" serunya di seberang sana.

Lalu ada bunyi langkah kaki menjauh, suara musik perlahan mereda, berganti dengan dengung samar — tanda ia berpindah ke tempat yang lebih tenang. Terdengar desahan napas berat dari seberang, mungkin Kenny baru saja menutup pintu di belakangnya. Levi menghela nafasnya, menunggu dengan sabar.

"Oke, bocah. Sekarang katakan... ada apa sebenarnya?"

Levi mulai menjelaskan semuanya dengan suara rendah namun mantap. Ia memaparkan dari awal, bagaimana amarah Petra meledak tanpa kendali, lalu menyeret [Name] ke dalam pusaran yang sama. Semula hanya pertengkaran kecil di kantor, namun berubah menjadi tontonan yang memalukan ketika Petra dengan sengaja menyiram [Name] dengan teh panas di depan banyak orang. Ucapan-ucapan kasar meluncur tanpa henti, menyebut [Name] sebagai perebut suami orang, wanita penggoda, perusak rumah tangga. Semua terjadi begitu cepat, dan tak ada yang bisa menghentikannya.

Levi menjelaskan dengan nada yang nyaris tanpa emosi, seolah semua itu hanyalah laporan kerja, padahal di balik tenangnya, rahangnya menegang. Ia tahu betul luka yang ditinggalkan kejadian itu—bukan hanya pada [Name], tapi juga pada reputasinya sendiri.

Lalu ia melanjutkan, menceritakan bagaimana semua itu bermula ternyata dari sebuah foto. Sebuah potret sederhana dirinya dan [Name] yang sedang makan malam bersama. Ia bahkan tidak tahu siapa yang mengambilnya, atau sejak kapan foto itu sampai ke tangan Petra, dan sejak saat itu semuanya runtuh perlahan.

NO REGRETTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang