Ponselnya bergetar di meja, menampilkan satu nama yang akhir-akhir ini tak pernah berhenti mengusik pikirannya—Zeke. Petra tak berniat meraihnya, namun jari-jarinya bergerak sendiri, seolah ada dorongan tak kasatmata yang memaksa matanya membaca setiap kata. Begitu pesan itu terbuka, tubuhnya membeku. Ia hanya duduk terpaku, menatap layar seakan tulisan-tulisan itu menancap langsung ke dalam dadanya.
Butir bening perlahan jatuh dari sudut matanya, membasahi pipi pucat yang kian kehilangan cahaya. Air mata itu mengalir diam-diam, tanpa suara, tanpa sesenggukan. Wajahnya tetap dingin, tanpa sedikit pun gerakan yang menunjukkan ledakan emosi. Hanya tatapan kosong, kaku, seperti seseorang yang tersesat dan tak tahu jalan pulang.
Kepalanya terasa berat, tubuhnya lemah, napasnya pendek-pendek. Kesehatannya memang tidak sedang baik, dan itu menambah perasaan rapuh yang selama ini ia sembunyikan di balik amarah. Semua pertengkaran, semua teriakan, semua dendam yang dulu ia lontarkan kepada Levi... kini seperti terkikis oleh rasa lelah yang menumpuk. Ia tahu, tubuhnya sendiri menolak untuk terus terbakar dalam amarah.
Petra memejamkan mata sejenak. Ada rasa ingin berteriak, ingin menghancurkan sesuatu, namun tenaga itu hilang. Yang tersisa hanyalah diam dan tatapan hampa. Pesan Zeke terus terngiang, menekan sisi hatinya yang paling rentan. Kata-kata itu bukan sekadar huruf di layar—mereka menjelma bisikan yang mengikat, meneguhkan pikiran bahwa ia tidak perlu lagi memaksakan dirinya pada sesuatu yang tak lagi memberinya ruang bernapas.
Untuk pertama kalinya, Petra menyadari betapa capeknya ia menjadi perempuan yang selalu marah. Capek menuntut, capek mencurigai, capek merasa disakiti. Kini, dalam keheningan yang dingin, air matanya jatuh tanpa mampu ia kendalikan, membasuh sisa-sisa amarah yang tersisa. Hanya rasa kosong yang tertinggal.
Enam tahun hidup bersama Levi... apakah semua yang mereka jalani hanya untuk berakhir dengan luka semacam ini?
Petra mencoba mengingat kembali hari-hari awal pernikahan mereka. Waktu itu ia percaya, Levi adalah pilihannya yang paling tepat, satu-satunya pria yang bisa ia andalkan di tengah kerasnya dunia. Namun siapa sangka, setelah enam tahun, justru orang yang ia anggap rumah kini menjadi penyebab kehancurannya. Pesan singkat dari Zeke barusan seolah menyingkap tirai yang selama ini ia tutupi: Levi memang berubah, dan perubahan itu mungkin karena kehadiran perempuan lain.
Dadanya sesak, bukan hanya karena tubuhnya yang lemah, tetapi juga karena beban pikiran yang semakin menghimpit. Perlahan, potongan-potongan alasan mulai bersatu dalam benaknya. Levi yang terasa semakin jauh, bahkan Levi yang sering menyinggung soal anak—semuanya kini terasa masuk akal. Apakah benar selama ini suaminya mencari pelarian hanya karena ia tak bisa memberikan keturunan?
Petra menggigit bibirnya hingga nyaris berdarah. Rasa sakit itu tak sebanding dengan perasaan tak berguna yang kini menghantam dirinya. Ia merasa kosong, tak sempurna, seolah-olah keberadaannya sebagai seorang istri tak lagi memiliki arti.
Yang lebih menyesakkan, Petra tahu betul bahwa sebelum ia sakit, topik tentang anak selalu ditunda. Ia sendiri yang menolak, dengan alasan karier, dengan alasan tubuhnya yang belum siap menerima perubahan besar. Ia takut kehilangan bentuk, takut kehilangan dirinya sendiri.
Levi mengalah saat itu, ia menahan diri, ia bersabar. Namun kini, semua ketakutan itu berbalik menghantamnya, mengoyak setiap keyakinan yang pernah ia pegang. Bagaimana jika semua penundaan itu telah membuat Levi muak? Bagaimana jika pengkhianatan ini adalah jalan yang ia pilih untuk memenuhi keinginannya memiliki seorang anak?
Petra menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tangisnya akhirnya pecah, tapi bukan tangis yang meledak-ledak. Itu tangis yang tenang namun menghancurkan, seperti seseorang yang perlahan patah tulang rusuknya dari dalam. Ia merasa terkoyak oleh pikirannya sendiri, oleh penyesalan yang tak bisa diperbaiki, oleh rasa hina karena tak mampu memenuhi peran yang seharusnya ia jalani sebagai seorang istri.
KAMU SEDANG MEMBACA
NO REGRET
RomanceDisaat cinta mulai diuji dengan kedatangan orang baru sedangkan Levi terus berusaha keras untuk mempertahankan rumah tangganya. Namun hati ini sudah terlanjur jatuh mencintai wanita yang datang dititik terendah, sedangkan dunia memandang wanita ters...
