Setelah dari Omoide Yokocho, Erwin langsung minta diantar ke apartemen [Name]. Katanya, dia ingin sekali bertemu kucing gembul yang jadi penghuni setia tempat itu. Dan kini, keinginannya terwujud. Di ruang tamu, Erwin menggerakkan mainan berbulu milik Louis ke sana-kemari, membuat si kucing berlari mengejar dengan penuh semangat. Sesekali tawa Erwin pecah, apalagi ketika Louis berhenti di tengah permainan, terkulai kelelahan, lalu tidur seenaknya.
[Name] baru saja keluar dari kamar mandi, handuk dililitkan tinggi di kepala. Ia duduk di sofa, tersenyum kecil melihat keduanya seperti anak-anak yang baru kenal namun sudah akrab.
"Sit... sit..." titah Erwin, mencoba mengajari Louis duduk.
Si kucing hanya memandang polos, ekornya bergerak pelan.
"Ayo... sit!" ulangnya, tapi tatapan Louis tetap tak berubah. Erwin berdecak.
"Lihat dia. Sama sekali nggak mau nurut."
[Name] hanya tersenyum, lalu memanggil, "Louis... sit!"
Hap. Louis langsung duduk manis.
Erwin menatap tak percaya. "Nggak adil," gumamnya. Tapi ya, wajar saja. Mereka baru bertemu.
"Nanti juga nurut kalau sudah kenal. Kalian ngobrol aja dulu," ujar [Name] santai.
Erwin terkekeh mendengar nada lucu dari [Name], lalu duduk di sampingnya.
"Boleh aku cek matamu lagi?"
"Tentu."
Ia menyalakan senter dari ponsel, menyorot kedua mata [Name]. Tampak sudah tak merah, tak kering. "Sudah oke."
"Tapi kalau bisa, tetap dipakai ya—takutnya balik merah lagi." tambahnya.
"Iya, bawel!" [Name] tertawa sambil mengacak rambut Erwin. Rambutnya jadi berantakan, dan Erwin hanya menghela napas, membiarkan [Name] merapikannya lagi.
"Oh iya, mau buah? Aku punya apel."
"Sure!"
"Come on."
Erwin mengikuti [Name] ke dapur. Suara gemericik air terdengar saat [Name] membilas apel di bawah keran, jemarinya menggosok perlahan permukaan kulitnya. Lampu gantung di langit-langit memancarkan cahaya hangat, membuat bayangan lembut menari di dinding. Sementara itu, Erwin melangkah pelan, matanya menyapu setiap sudut dapur mungil yang tertata rapi. Meja kayu di sudut ruangan memantulkan sedikit kilau dari cahaya lampu, sementara peralatan masak tergantung rapi, seolah jarang sekali dipakai untuk masakan besar. Apartemen ini memang tidak besar—cukup untuk dua orang—namun justru di situlah letak kehangatannya. Erwin tahu, selama [Name] merasa betah di sini, ia tak punya alasan sedikit pun untuk menyarankan pindah ke tempat yang lebih luas.
"Banyak juga belinya," komentar Erwin saat [Name] meniriskan apel dan menaruhnya di piring.
"Ibu bilang kamu suka apel, jadi aku beli lebih banyak."
"Ibu kabarnya baik?"
"Baik. Ibu udah nggak sabar ketemu kamu," katanya dengan nada antusias, seakan ingin menularkan semangat itu.
Erwin menggigit apel sambil tertawa. "Ibu kirim pesan kemarin."
"Aku tahu, pasti ibu bilang sudah belanja semua makanan favoritmu, dan siap masak banyak-banyak. Yakin deh, rumah ibu nanti bakal penuh bau harum masakan dari pagi sampai malam."
Erwin mengangguk setuju sambil tertawa pelan membenarkan apa yang di katakan [Name]. Karena ya seperti dulu, sebelum Erwin melanjutkan studinya di Amerika ibu masak banyak sekali sampai mereka bingung mau menghabiskannya bagaimana padahal dirumah hanya ada mereka berempat. Teringat itu, [Name] memonyongkan bibir. "Enak banget ya di manja ibu?"
"Iyalah, kan aku anaknya, bukan kamu" kata Erwin mencubit pipi [Name].
[Name] menepis tangan Erwin kemudian bercekak pinggang, mempoutkan bibirnya terlihat begitu menggemaskan bagi Erwin. Lalu dia pun berjalan mendekat merangkulnya dari samping.
KAMU SEDANG MEMBACA
NO REGRET
RomanceDisaat cinta mulai diuji dengan kedatangan orang baru sedangkan Levi terus berusaha keras untuk mempertahankan rumah tangganya. Namun hati ini sudah terlanjur jatuh mencintai wanita yang datang dititik terendah, sedangkan dunia memandang wanita ters...
