[Name] membenarkan letak kaca matanya, tak lupa memasukan barang-barangnya bersiap untuk pulang. Dia akan ke supermarket setelah dari sini, ya setidaknya dia juga ingin melakukan melakukan pesta kecil-kecilan untuk menyambut Erwin. Karena satu jam yang lalu dia baru mendapatkan pesan singkat dari ayahnya Erwin, dari isi pesannya ia begitu sangat senang meskipun dia sempat mengomel karena anaknya itu tiba-tiba mengatakan bahwa akan segera berangkat.
Bahkan [Name] juga baru teringat untuk memberi tau kedua orang tuanya juga tentang itu. Terutama sang ibu dia benar-benar senang mendengar berita itu.
Kali ini [Name] akan membeli makanan yang tepat dia akan melihat kompisisi pada setiap kemasan. Baik, semua barang sudah dibawa, meja kantor juga sudah rapi dia siap pulang sekarang.
[Name] mengikat rambutnya asal sambil menjinjing blazer ditangan. Beberapa lampu sudah banyak yang mati, wajar saja sudah banyak yang pulang karena jam menunjukkan pukul 7 malam. Ia harus lembur tadi karena besok ia akan mengambil izin sekitar jam makan siang untuk menjemput Erwin, jadi kerjaan besok pagi hingga siang sudah siap ia kerjakan, dan [Name] juga sudah mengatur jadwal untuk Levi besok sepertinya besok akan berjalan dengan lancar.
Pas sekali, ketika menunggu pintu lift terbuka [Name] bertemu dengan Levi. Pakaiannya sudah tidak serapi tadi pagi, karena ia hanya menggunakan kemeja berwarna putih yang digulung hingga sikunya.
"Selamat malam tuan"
Seperti biasa, respon Levi akan memberikan sebuah anggukan kecil.
"Tuan, apa aku boleh izin keluar lebih lama setelah jam makan siang besok?"
"Memangnya mau kemana?"
"Aku mau menjemput Erwin di bandara."
"Oh pacarmu datang?"
[Name] terkekeh, masih saja Levi teguh pendirian menganggap Erwin itu pacarnya. Jadinya [Name] mengangguk saja tak mau lagi menyangkal.
"Aku berikan waktu selama satu jam saja cukup?"
"Cukup tuan, terima kasih"
"Ok"
"Oh ya tuan, jadwalmu juga sudah aku atur untuk besok beberapa berkas juga akan aku antar besok pagi sekalian, ada beberapa hal yang harus ditanda tangani. Selain itu aku akan kembali memfollow up beberapa perusahaan yang akan kita kunjungi."
"Good, terima kasih [Name]"
"Baik tuan, aku permisi"
[Name] masuk kedalam lift, sebelum pintu tertutup Levi berbalik badan.
"Karena sudah mengatur semuanya dengan baik, kau bisa pergi selama yang kau mau."
"Benarkah tuan?" [Name] bertanya semangat sampai kedua alisnya naik juga memperlihatkan semua deretan giginya.
"Ya, tapi bukan berarti kau bisa pergi lalu melupakan kerjaanmu begitu saja"
[Name] membungkuk dengan rasa hormat. "Aku berjanji akan segera kembali ke kantor setelah urusanku selesai. Terima kasih tuan"
Levi mengangguk, melihat senyuman lebar [Name] ia tau bahwa dia baru saja melakukan hal yang benar, kini tubuh dan matanya kompak terus menghadap ke arah wanita itu, hingga pintu lift mulai tertutup pelan tidak ada indikasi sedikitpun untuk menarik diri. Pintu lift kini sudah tertutup rapat meninggalkan sebuah pantulan dirinya. Levi menatap pantulan itu bingung, kenapa ia harus menunggu [Name] benar-benar hilang dari hadapannya seakan memastikan wanita itu pergi dengan aman?
Aneh.
Levi menggaruk pelipisnya, dan segera berjalan menuju ruangannya dengan wajah bingung.
Kembali dengan [Name], ia asik mengirim pesan kepada ibunya yang ternyata semakin heboh dengan semua rencana yang akan ia lakukan untuk menyambut Erwin. Kurang lebih pesannya seperti ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
NO REGRET
RomanceDisaat cinta mulai diuji dengan kedatangan orang baru sedangkan Levi terus berusaha keras untuk mempertahankan rumah tangganya. Namun hati ini sudah terlanjur jatuh mencintai wanita yang datang dititik terendah, sedangkan dunia memandang wanita ters...
