30 | Hidden Under Their Names

52 6 2
                                        

Langkah mereka berdua berpadu dengan riuh suara bandara yang baru saja mulai hidup. Suara roda koper beradu pelan dengan lantai marmer yang mengilap, sementara dari kejauhan terdengar panggilan penerbangan yang samar, diselingi tawa para penumpang yang tampak terburu-buru.

Erwin berjalan di sisi [Name], langkahnya tegap tapi santai, menarik koper berukuran sedang milik wanita itu tanpa diminta. Udara pagi membawa aroma kopi yang samar dari kafe di ujung lorong, menambah hangat suasana di tengah dinginnya pendingin ruangan.
Di sampingnya, [Name] menatap layar tabletnya dengan fokus penuh. Jemarinya menelusuri daftar pekerjaan yang menumpuk, seperti seseorang yang ingin memastikan setiap hal berjalan tanpa cela.

Erwin melirik sekilas, senyum kecil muncul di ujung bibirnya.
"Masih sempat juga memeriksa jadwal di tempat seramai ini?"

[Name] tidak segera menjawab. Ia hanya mengangkat wajah sepersekian detik, lalu mengembuskan napas pelan.
"Kalau aku berhenti sekarang, nanti malah kelupaan urutannya,"

Mereka berjalan berdampingan melewati deretan kursi tunggu. Cahaya matahari pagi menembus kaca besar, menimpa sebagian wajah [Name] yang tampak sedikit pucat setelah malam panjang tanpa tidur. Ia berhenti sejenak di depan kaca, meletakkan tabletnya ke dalam tas, lalu mengambil lip gloss dari dalam pouch make up.

Gerakannya seperti ritual kecil sebelum perang. Bedak tipis, sentuhan lip gloss, dan sapuan ringan maskara—hanya cukup untuk menghapus lelah yang menempel di wajahnya. Mata Erwin sempat menatapnya sekilas dengan ekspresi samar, seperti hendak mengatakan sesuatu namun menahannya di ujung lidah.

Dari arah lain, dua sosok pria tampak berdiri di dekat papan keberangkatan. Reiner melambai begitu melihat mereka, senyumnya lebar dan tulus seperti biasa.
"[Name]!" serunya cukup keras hingga beberapa orang menoleh.

Levi berdiri di sebelahnya, tapi berbeda dengan Reiner, ia tampak tidak benar-benar hadir di tempat itu. Pandangannya jatuh ke lantai, bahunya sedikit menegang.
Ketika Reiner kembali memanggil nama [Name], lebih pelan kali ini, Levi baru mengangkat wajah. Tatapannya yang awalnya kosong langsung bertaut dengan sosok wanita yang kini berdiri tak jauh darinya.

Seketika waktu terasa melambat. Ada sesuatu yang mengendap di udara—bukan kata, bukan isyarat, hanya semacam kesadaran yang menyusup di antara jarak pandang mereka.
Erwin menoleh ke arah dua pria itu, kemudian pada [Name] "Mereka rekanmu?" tanyanya pelan.

[Name] menoleh, mengangguk. "Iya," jawabnya, lalu memperkenalkan satu per satu dengan nada sopan.
"Ini Reiner, dan yang di sebelahnya... atasanku, tuan Levi."

Erwin tersenyum kecil, mengulurkan tangan terlebih dahulu. "Erwin," katanya singkat.
Reiner segera membalas jabatan itu dengan hangat dan ramah, seperti pria yang mudah disukai siapa pun.

Namun Levi—entah pikirannya sedang di mana—tidak langsung bergerak.
Tatapannya sempat kehilangan fokus, seperti seseorang yang baru saja ditarik keluar dari lamunan panjang. Butuh beberapa detik sampai ia menyadari tangan Erwin masih terulur di depannya, menunggu dengan sabar tanpa menuntut.

"Oh," ucapnya pelan, nyaris seperti gumaman.
Ia akhirnya mengangkat tangan, menjabat singkat. Genggamannya kuat, tapi ada keterlambatan kecil yang membuat momen itu terasa canggung, seolah dunia baru saja berhenti sejenak sebelum kembali berputar. "Levi" katanya.

Keheningan yang sempat menggantung perlahan pecah ketika Reiner melangkah mendekat. Wajahnya menyimpan senyum lebar yang langsung memberi warna baru di tengah suasana yang kaku.

"Oh, jadi ini ya Erwin temanmu di Amerika itu, kan?" katanya sambil menatap [Name]. 

[Name] tersenyum kecil, mengangguk, dan memperkenalkan mereka dengan lebih santai kali ini.

NO REGRETTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang