"Petra!" ia memanggil nama itu dengan nada peringatan, tapi Petra malah tersenyum miring.
"Kenapa? Tidak nyaman mendengarnya?" ia menantang.
Levi mengatupkan mulutnya rapat, napasnya memburu. Tangannya mengepal di sisi tubuh. "Aku udah bilang seribu kali, tidak ada apa-apa lagi. Kau masih tidak percaya sama aku, Petra? Setelah semua tahun ini?"
"Aku percaya?!" Petra melangkah maju, suaranya meninggi. "Kalau aku percaya, aku nggak akan terus dihantui bayangan perempuan itu. Aku nggak akan terus merasa... kalah!"
Oh lihat lah suami-istri ini kembali ribut di pagi hari, Levi memulai duluan mengajak Petra kembali untuk menjelaskan atas dasar apa dia terus di diamkan dari tadi malam. Namun sayang Petra tersulut emosi dan seperti biasa mereka kembali bertengkar.
Levi menggeram pelan, membalas tatapa dengan sorot mata yang gelap. "Kalah dari siapa? Dari [Name]? Jangan konyol. Aku menikah denganmu. Aku bangun tidur tiap pagi di sebelah kamu. Apa itu tidak cukup jelas buatmu?"
Petra menahan air mata, tubuhnya bergetar karena emosi. "Entah lah Levi. Aku bahkan tidak tahu apakah pernikahan ini akan bertahan lebih lama lagi atau tidak"
Tatapan Levi langsung mengeras. Rahangnya mengatup, urat di pelipisnya menegang. "Kau bicara seolah aku tak pernah berjuang untuk ini, Petra," suaranya rendah. "Aku menahan banyak hal, menurunkan egoku, hanya agar kau tetap percaya padaku—dan sekarang kau bilang kau tak yakin pernikahan ini bisa bertahan?"
Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan. "Kau pikir mudah bagiku mendengar itu dari seseorang yang seharusnya tahu siapa aku sebenarnya?"
Levi memejamkan mata sejenak, berusaha menahan amarah yang mulai berubah menjadi kecewa. Suaranya kini terdengar berat, nyaris serak.
"Aku tidak tahu harus marah atau justru kecewa padamu, Petra. Selama ini aku menahan semua tuduhanmu, berharap kau akan sadar kalau aku tidak pernah menyentuh batas itu."
Ia menggeleng pelan, matanya tampak lelah. "Aku tidak selingkuh. Aku tidak pernah sekalipun berpikir untuk mengkhianatimu. Tapi kalau setiap hal kecil yang kulakukan selalu kau kaitkan dengan [Name], lalu apa gunanya semua yang sudah kita lewati?"
Levi menatap Petra lama, seolah mencari sedikit saja kepercayaan di matanya — namun yang ia lihat hanyalah ragu dan amarah yang sama.
"Kalau kau terus melihatku seperti itu, mungkin memang bukan aku yang berubah, Petra. Tapi hatimu."
Levi diam sejenak. Menarik nafas panjang kesekian kalinya.
"Kau tahu apa yang paling menyedihkan dari semua ini?" ia berhenti sejenak, menatapnya tanpa berkedip. "Kau tidak cuma menghancurkan kepercayaanku, Petra. Kau juga menyeret orang lain ke dalam kekacauan ini."
Petra terdiam, tak paham maksudnya. Levi melanjutkan.
"[Name] mengajukan resign beberapa hari yang lalu. Sudah pasti dia tidak tahan lagi ada di sekitar sini. Karena semua tuduhanmu, kecurigaan tanpa dasar, yang tiap kali keluar dari mulutmu kayak racun. Kau pikir cuma aku yang kena? Dia juga kena, Petra."
Nada suaranya makin rendah, tapi tekanannya menghantam lebih kuat daripada teriakan.
"Apa kamu puas sekarang? Orang yang bahkan tidak salah apa-apa harus keluar, cuma karena kamu tidak bisa bedain rasa takut sama kenyataan."
Petra menggertakkan gigi, matanya memanas, tapi Levi terus menatapnya tajam, seakan memaksa kebenaran itu menancap ke dalam.
"Dia tidak lari karena pekerjaannya. Dia lari karena kamu bikin napasnya sesak. Dan aku—aku yang harus ngeberesin semua ini, lagi-lagi."
Petra menatap Levi dengan mata membelalak, napasnya terengah. Kata-kata suaminya baru saja menghantam tepat ke dadanya, tapi bukan rasa bersalah yang muncul—melainkan bara yang makin menyala.
KAMU SEDANG MEMBACA
NO REGRET
RomansaDisaat cinta mulai diuji dengan kedatangan orang baru sedangkan Levi terus berusaha keras untuk mempertahankan rumah tangganya. Namun hati ini sudah terlanjur jatuh mencintai wanita yang datang dititik terendah, sedangkan dunia memandang wanita ters...
