Langit Kyoto masih menyimpan warna abu lembut ketika mereka tiba. Udara lembap menempel di kaca mobil, memantulkan bayangan pepohonan yang berbaris sepanjang jalan masuk hotel. Kota itu tampak seperti dunia yang berjalan lebih lambat dari Osaka—lebih sunyi, lebih tenang, tapi entah mengapa terasa asing dalam cara yang halus.
Sudah satu jam berlalu sejak Levi memarkir mobil di depan hotel itu. Bangunannya tidak besar, berdiri di persimpangan jalan yang dikelilingi toko-toko tua dan kafe yang baru saja buka. Kyoto punya cara sendiri untuk menenangkan siapa pun yang datang, seolah kabutnya menyerap setiap suara dan menyisakan keheningan yang menempel lama di udara.
Levi turun lebih dulu, memberi instruksi singkat pada resepsionis, lalu menyerahkan kunci kamar pada Reiner dan Name tanpa banyak bicara. Pukul tiga sore nanti mereka dijadwalkan menghadiri rapat dengan pihak klien di kantor pusat distrik bisnis Shimogyo. Rapat yang, bagi kebanyakan orang, hanya sebatas tindak lanjut proyek ekspansi. Tapi bagi Levi, kali ini lebih dari sekadar urusan pekerjaan. Lalu ia sudah memastikan Reiner memahami situasi—tentang apa yang menimpa Petra dan [Name], dan mengapa mereka tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
Reiner menerima penjelasan itu tanpa banyak tanya. Hanya ada anggukan singkat, tapi dari sorot matanya jelas bahwa ia memahami beratnya hal yang baru saja dipercayakan padanya. Ia tahu, ini bukan sekadar perjalanan bisnis; ini tentang seseorang yang harus dijaga dari sesuatu yang bahkan belum mereka pahami sepenuhnya.
Setelah semua urusan di lobi selesai, mereka berpisah menuju kamar masing-masing. Reiner di lantai tiga, Levi dan [Name] di lantai empat. Name mendapat kamar paling ujung di koridor yang sepi—pintunya menghadap taman kecil di belakang hotel, tempat suara air dari kolam batu terdengar pelan, ritmis, seolah menandai waktu yang berjalan lebih lambat dari biasanya.
Begitu masuk, udara kamar terasa lebih dingin dari koridor luar. Aroma teh hijau dari penyegar ruangan bercampur dengan kayu tua dari lantai yang mengilap. Name meletakkan tasnya di kursi, menyalakan lampu meja, lalu duduk di tepi ranjang. Dari jendela, pemandangan Kyoto terlihat seperti lukisan yang tenang—atap rumah-rumah tua berwarna merah tua, langit cerah, dan angin yang membawa dedaunan kering jatuh perlahan ke halaman.
Tapi ketenangan itu aneh. Terlalu sunyi untuk disebut damai.
Ia menatap jam di meja: pukul dua belas lewat tiga puluh tujuh. Masih ada waktu hampir tiga jam sebelum rapat dimulai. Levi pasti sedang memeriksa berkas, sementara Reiner mungkin sudah tertidur di kamarnya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Begitulah seharusnya.
Namun rasa gelisah itu tetap ada. Sejak tadi pagi, entah mengapa, ia merasa seperti diikuti sesuatu yang tak terlihat. Mungkin hanya kelelahan, pikirnya. Osaka terlalu ramai, pikirannya juga belum sepenuhnya jernih. Ia mencoba menenangkan diri—menyibukkan tangan dengan membuka koper, merapikan pakaian, memastikan ponsel dan catatan meeting tersusun rapi di meja. Semua tampak normal.
Sampai ponselnya bergetar pelan di atas meja. Sekali.
Getarannya singkat, hampir tidak terdengar, tapi cukup untuk membuatnya berhenti bergerak.
Ia menatap layar yang menyala: nomor asing. Tak ada nama, tak ada ikon pesan sebelumnya. Sekilas ia berpikir mungkin Levi, tapi Levi tidak akan menghubunginya dengan nomor asing. Dan lagi, tidak ada alasan untuk menelepon.
Satu pesan masuk. Tanpa subjek. Tanpa nama pengirim.
Hanya satu kalimat pendek.
"Aku tahu kau disini, [Name]..."
Dada Name terasa kencang. Ia menatap layar itu beberapa detik, mencoba meyakinkan diri bahwa ini pasti salah kirim, atau mungkin spam. Tapi entah kenapa, ada sesuatu dalam kalimat itu—sesuatu yang terlalu sadar, terlalu tepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
NO REGRET
RomansaDisaat cinta mulai diuji dengan kedatangan orang baru sedangkan Levi terus berusaha keras untuk mempertahankan rumah tangganya. Namun hati ini sudah terlanjur jatuh mencintai wanita yang datang dititik terendah, sedangkan dunia memandang wanita ters...
