Levi menutup pintu ruangannya perlahan, seolah butuh jeda sejenak sebelum kembali menghadapi tumpukan laporan di mejanya. Ia menjatuhkan diri ke kursi, meraih berkas teratas, tapi pikirannya tidak langsung tertuju pada tulisan-tulisan kaku di halaman itu.
Tangannya mengetuk meja sekali, dua kali, berirama pelan. Sesuatu terasa mengganggu, menempel di sudut benaknya. Bukan pekerjaan, bukan angka-angka yang memenuhi layar monitor—melainkan tatapan gugup dan suara [Name] beberapa menit lalu.
Biasanya, setelah berbicara dengan bawahannya, Levi tidak pernah menyisakan ruang untuk hal lain. Semua selesai begitu saja. Tapi kali ini berbeda. Ia masih bisa mengingat jelas cara [Name] menunduk, pena di tangannya tergenggam erat seolah mencari pegangan.
Levi menghela napas, tubuhnya sedikit merosot di kursi. Aku terlalu memperhatikan hal kecil... pikirnya. Namun, semakin ia mencoba menepis, semakin jelas bayangan itu muncul. Ada sesuatu pada dirinya yang enggan menutup mata terhadap kelemahan orang lain—terutama ketika ia tahu, jauh di balik keraguan, [Name] punya kemampuan yang lebih dari cukup.
Matanya beralih ke layar komputer, mencoba membaca ulang kalimat pertama dalam laporan digital yang terbuka. Tapi fokusnya buyar.
"Kalau butuh seseorang untuk memastikan kau tidak sendiri... cukup bilang padaku. Aku akan ada."
Ucapan itu kembali terngiang. Bukan sekadar formalitas, dan Levi sadar betul ia tidak mengatakan itu hanya karena kewajiban.
Dahi Levi berkerut, kesal pada dirinya sendiri. Ia tidak terbiasa memberi ruang untuk perhatian semacam itu. Namun di saat yang sama, ada ketenangan aneh yang muncul hanya dengan memikirkan bahwa ia telah mengatakannya.
Ia menegakkan tubuh, mengetuk-ngetukkan ujung pena di atas meja, mencoba menegaskan pada dirinya sendiri: pekerjaan tetaplah prioritas. Hubungan personal adalah gangguan. Tapi, di sela-sela tekadnya, Levi tahu ada garis tipis yang baru saja ia lewati—dan tidak mudah untuk kembali.
Levi menutup matanya sebentar, membiarkan hening menyelimuti ruangannya. Suara jam dinding terdengar begitu jelas, seakan setiap detik menekankan kebimbangannya. Ia membuka mata kembali, menatap laporan di hadapannya, lalu menekuk sudut kertas itu dengan kesal. Fokusnya masih belum kembali.
Tangannya terulur, meraih cangkir kopi yang sudah dingin setengah. Tegukan pahitnya tak membantu banyak, justru membuat kerongkongannya terasa lebih kering. Ia mendesah pelan, lalu menatap kosong ke arah jendela yang tertutup tirai.
Pikirannya berputar singkat—ucapan tadi seharusnya hanya formalitas. Namun, entah mengapa, ada bagian dalam dirinya yang tak menolak jika suatu hari [Name] benar-benar mengandalkannya.
"Bodoh," gumamnya pelan, nada suaranya lebih ditujukan pada dirinya sendiri.
Ia kembali menaruh cangkir di meja, mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Bagaimanapun juga, pekerjaan menunggu. Dan ia, seperti biasa, tidak akan membiarkan dirinya lengah terlalu lama.
Namun jauh di dalam, Levi menyadari sesuatu: sekalipun ia berusaha menepis, bayangan [Name] tidak akan mudah hilang. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak sepenuhnya yakin apakah ia benar-benar ingin mengusirnya.
Karena sudah masuk jam makan siang, suasana kantor mulai berubah—beberapa orang beranjak dari kursinya, suara langkah dan percakapan kecil terdengar di lorong, perlahan mengisi keheningan yang sempat mendominasi. Aroma makanan dari kantin di lantai bawah mulai tercium samar, bercampur dengan wangi kopi dan teh yang baru diseduh. Beberapa pegawai saling mengajak, berkelompok kecil meninggalkan ruangan, sementara sebagian lainnya memilih tetap di meja, membuka bekal masing-masing atau sekadar merilekskan tubuh sejenak.
Di tengah keramaian yang mulai tercipta itu, pintu ruangan Levi masih tertutup rapat. Tidak ada tanda ia berniat keluar, seolah hiruk pikuk di luar tak ada sangkut-paut dengannya. Di balik pintu yang tertutup, hanya terdengar suara kertas yang dibalik dan goresan pena sesekali. Sementara di luar, tawa dan percakapan kian ramai, membuat kontras yang jelas antara kesibukan kecil para pegawai dengan ketegasan ritme kerja Levi.
KAMU SEDANG MEMBACA
NO REGRET
RomanceDisaat cinta mulai diuji dengan kedatangan orang baru sedangkan Levi terus berusaha keras untuk mempertahankan rumah tangganya. Namun hati ini sudah terlanjur jatuh mencintai wanita yang datang dititik terendah, sedangkan dunia memandang wanita ters...
