Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bab 37

625 69 22
                                        

" Waktu itu, gw gk tau harus lakuin apa. Setelah lo gak sadar, meski sebelumnya lo nolak mati matian, gw tetep bawa lo kerumah sakit dan telpon bokap lo. Maaf"

"Lo cerita semuanya?"

"Gk. Soal hari itu gk ada yg tau. Tapi soal nyokap dan kakak lo, Bokap lo udah tau. Gw minta maaf karena gk cepat sadar dengan apa yang terjadi sama lo selama ini. Gw ngerasa bodoh dan Jahat. Seandainya Gw lebih cepat ngerti sama tanda tanda yang lo kasih, mungkin lo gk perlu ngalamin semua ini-"






































Ruangan itu hening. Wajah Heeseung tertunduk sendu, hatinya terasa berat. Sebenarnya dia tidak pernah ingin membawa bahasan ini pada Jaeyun. Tapi Pria Shim itu menodongnya.

Kini menatap Jaeyun saja rasanya tidak enak. Takut jika Jaeyun merasa marah padanya, merasa tidak nyaman, dan yang terparah adalah- Heeseung takut Jaeyun kalut dan menangis ketakutan seperti waktu itu- di mobil- saat Heeseung membawanya ke sini tempo hari. Dengan sepray dan bercak darah disana.

"Lo tau, Heeseung?" Namun suara itu terdengar ringan seperti biasa. Tanpa gataran apapun. Seakan tidak ada hal salah sama sekali.

Heeseung melihat Jaeyun tersenyum sambil menopang kepalanya dan bersandar pada sofa. Sangat santai dan nyaman. Dengan mata yang menyipit manis.

"hm?" dengungan itu seperti sebuah tanya- juga kekaguman yang berbunyi kaku.

Heeseung terpaku pada kerlingan dan bibir tebal Jaeyun yang terkekeh di hadapannya.

"Lo itu terlalu bacot, Anjing" lalu Jaeyun tertawa.

Semua ketakutan Heeseung sebelumnya mendadak runtuh. Tak berbekas. Kekalutan dan rasa tidak nyaman. Heeseung pikir ini akan menjadi pembicaraan berat yang mingkin membuat suasananya jadi buruk. Namun yang tersisa kini malah tawa ringan dari Jaeyun yang mengisi ruangan kosong diantara mereka.

Itu aneh, tapi juga melegakan. Heeseung mendesah lucu, lalu ikut terkekeh.

"Lo selalu ngerusak suasana, Sialan" ujar Heeseung.

"Jangan melow melow kalo sama gw. Gw lebih suka liat lo ketawa dari pada murung,-" Jaeyun bangkit, mendekat lalu mengusap rambut Heeseung gemas, seperti kakak yang tengah menggoda adiknya.

Jaeyun sangat suka dengan senyum Heeseung. Itu seperti kelegaan untuknya. Melihat pria Lee itu ada di depannya saat ini rasanya lebih baik. Seperti, tidak ada yang perlu dia khawatirkan.

"-ya, minimal muka bangsat lo pas ciuman, itu lebih asik. Gw suka" sambungnya, Jaeyun berbisik sambil mengerling nakal di depan wajah Heeseung.

Lagi lagi, Jaeyun berhasil membuat Heeseung meledak gila.

"Sialan"













































































"btw, soal nyokap dan kakak gw? Maksudnya apa? Gw gk ngerti"







































....

.

.

.

Return (Antagonis)
By Js


Ini adalah hari kepulangan Jaeyun. Tuan Shim sudah membereskan semuanya, termasuk dengan Nyonya rumah dan sulungnya yang sudah dia pindahkan dari sana. Rumah itu tampak sama, ada pengawal yang biasa berjaga dan pelayan yang menyambut mereka.

Return (Antagonis) || HEEJAKECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang