Sampai sini dulu guys 😊
Beberapa bulan telah berlalu sejak Sania pergi meninggalkan Kevin. Waktu berjalan begitu lambat baginya, seakan setiap hari hanya diisi oleh kerinduan yang tak berjawab.
Di kamar apartemen kecil tempat Sania tinggal sekarang, ia berdiri menatap keluar dari jendela. Langit malam itu mendung, hujan rintik-rintik jatuh seakan ikut merasakan kepedihannya. Tangannya meraba layar ponsel, membuka kontak dengan nama Kevin.
Nomor itu sebenarnya sudah lama ia blokir, tepat di hari ia memutuskan meninggalkan pria yang sangat dicintainya. Namun pesan-pesan Kevin masih tersimpan dengan baik. Malam demi malam, ia selalu membacanya berulang-ulang. Pesan sederhana seperti “jangan lupa sarapan ya sayang” atau “aku pulang agak malam, tunggu aku” kini menjadi racun yang membuat dadanya semakin sesak.
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Sania menggigit bibir, mencoba menahan isak, tapi tangis itu terlalu kuat.
"Sebenarnya aku sangat merindukanmu, pah… tapi kenapa sampai sekarang kamu tidak mencariku? Ini sudah tujuh bulan aku pergi, tidak sekalipun aku mendengar kabar kamu sedang mencariku."
Pikiran Sania terus berperang. “Apa dia juga merindukanku seperti aku merindukannya sekarang? Atau justru dia lega aku pergi? Atau… mungkin papah sudah kembali rujuk dengan mamah Maria?”
Pertanyaan itu menusuk hatinya seperti sembilu.
Sania tersentak ketika tiba-tiba merasakan ada seseorang yang menyelimuti tubuhnya dengan jaket hangat dari belakang.
“Astaga, bumil satu ini sulit sekali dinasihati. Di luar sedang hujan, angin malam nggak bagus buat baby,” ucap suara berat itu.
Sania menoleh, mendapati Rendy berdiri di sana dengan wajah cemas. Pria yang dulu pernah terikat dengannya dalam ikatan pernikahan, kini hadir lagi dalam kehidupannya dengan peran berbeda, menjadi penjaga sekaligus penopang di kala ia rapuh.
Sania hanya tersenyum tipis mendengarnya. “Maafkan aku, Mas. Aku hanya ingin merasakan udara segar.”
“Sepertinya itu terus alasanmu,” sahut Rendy, matanya menatap dalam seakan bisa membaca isi hati Sania. “Aku tahu kamu merindukan papah, kan?”
Sania terdiam. Ia menunduk, mencoba menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.
“Apa ini tidak terlalu lama kamu meninggalkan papah?” tanya Rendy lagi dengan nada lembut, tapi tegas.
“Aku tidak mau membahas itu. Lebih baik kamu keluar, aku ingin tidur,” elak Sania, berusaha menghindar.
“Aku hanya mengingatkan saja, jangan sampai kamu menyesal nantinya.” Setelah mengatakan itu, Rendy melangkah pergi meninggalkan kamar Sania.
Begitu pintu menutup, air mata Sania kembali mengalir. “Tidak, aku tidak mungkin menyesal. Dia pasti sedang bermain-main dengan wanita lain… atau sudah hidup bahagia bersama mamah Maria lagi.” Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri, meski hatinya terus menjerit menyangkal.
Keesokan harinya.
Sania berkutat dengan bahan masakan di dapur apartemen. Sudah menjadi kebiasaannya untuk memasak setiap pagi, meski yang menikmati hasil masakannya sering kali hanya dirinya sendiri. Rendy jarang berada di apartemen, pria itu lebih sering menginap di asrama karena kampusnya memang menyediakan asrama untuk mahasiswanya. Di apartemen ini ia hanya ditemani oleh seorang asisten rumah tangga yang datang siang hari untuk membersihkan apartemennya lalu pulang kembali pada sore harinya.
Saat ia sedang mengiris sayuran, suara langkah kaki terdengar dari arah ruang makan.
“Sania, kamu masak?” tanya Rendy sambil duduk di kursi, menatapnya dengan alis terangkat.
