27

4.4K 79 4
                                        

Selamat membaca besti 🤗
Cerita ini nggak selesai-selesai udah lama bangett aku sampai lupa alurnya dan harus baca ulang dari awal😭





Di kediaman orang tua Kevin malam itu diadakan makan malam bersama. Erin, Hardi, dan Sania sedang menunggu Kevin pulang dari kantor. Kevin sempat mengabari Sania lewat telepon, katanya sepuluh menit lagi ia sampai rumah. Mereka pun sepakat menunggu sebentar.

"Sania, kamu makan dulu saja nggak apa-apa. Kamu lagi hamil, jangan sampai telat makan. Kasihan bayimu nanti kelaparan," ujar Erin lembut.

Sania tersenyum. "Nggak, Mah. Kita makan bareng-bareng aja nanti," jawabnya.

Erin hanya mengangguk.

Tak lama kemudian terdengar langkah kaki mendekat ke ruang makan.

"Selamat malam semuanya," sapa Kevin. Ia langsung meletakkan jas di kursi, lalu berjalan ke arah Sania dengan niat mencium sang pujaan hati.

"Ehem!" deheman Erin membuat Kevin sontak berhenti tepat sebelum bibirnya menyentuh Sania.

"Belum sah, ingat! Kamu nggak boleh sentuh Sania. Pegangan tangan saja sudah cukup," tegur Erin tegas.

"Masa cium aja nggak boleh?" protes Kevin dengan wajah kesal, merasa diperlakukan tidak adil.

"Ya nggak boleh lah! Kalian belum mengucap sumpah di hadapan Tuhan. Apalagi Sania sedang hamil, kamu harus bisa tahan diri. Jadi laki-laki kok mesum banget," sindir Erin sambil melirik tajam.

Kevin hanya memutar bola matanya, lalu duduk di samping Sania. Melawan ibunya percuma, karena pasti kalah.

"Entah meniru siapa sifat brengsekmu itu. Padahal papahmu laki-laki baik-baik, nggak pernah bikin ulah," lanjut Erin.

Hardi menoleh pada Kevin sambil tersenyum puas. Ia bangga dipuji istrinya.

"Sepertinya sifat Kevin itu keturunan dari opanya, Mah. Dulu opa juga kelakuannya mirip Kevin," celetuk Hardi.

Erin mengangguk, "Papah benar juga."

"Ya sudah, ayo kita makan. Dari tadi ngomong terus. Sania, kamu harus makan banyak ya, biar cucu Mamah lahir gemoy," ujar Erin.

Sania mengangguk. Memang akhir-akhir ini nafsu makannya meningkat sejak hamil.

"Oh ya, nanti kamu pulang ya, Kevin. Jangan nginep di sini. Mamah nggak percaya kalau Sania aman kalau ada kamu," kata Erin.

"Mah, ini udah malam. Aku nginep aja ya di kamar tamu. Aku janji nggak bakal ganggu Sania," bujuk Kevin. Ia rindu bisa tidur dekat kekasihnya.

Erin terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Baiklah, kamu boleh nginep. Tapi kamu tidur sama Papah. Mamah tidur sama Sania."

Senyum Kevin yang sempat merekah kembali pudar.

Tak lama kemudian Kevin mulai merengek manja. "Sayang, suapin aku."

Sania terdiam sejenak, lalu menatap Kevin yang sudah mendorong piringnya ke arahnya. Ia menghela napas pasrah, tahu Kevin sedang dalam mode manja.

"Kaya anak kecil aja kamu, Vin. Minta disuapin segala," sindir Erin.

"Biarin,"

Akhirnya Sania pun menyuapi Kevin dengan telaten, lalu melanjutkan makanannya sendiri.

___
Keesokan harinya...

Pukul sembilan pagi, Sania sedang bersiap-siap untuk cek kandungan. Kevin sudah membuat janji dengan dokter Vanya pukul sepuluh nanti.

"Sayang, udah siap belum?" tanya Kevin begitu masuk kamar.

 Father In LawTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang