Kevin dan Sania berjalan perlahan keluar dari kamar. Tangan Kevin tak lepas dari pinggang kekasihnya itu, seolah takut Sania akan jatuh bila dilepas sedikit saja.
Begitu sampai di ruang tamu, Vanya dan Rendy langsung berdiri. Vanya tampak sedikit gugup, sedangkan Rendy menunduk tanpa berani menatap Kevin.
“Kamu sudah baik-baik saja Sania?" tanya Rendy pelan. Sania mengangguk sambil tersenyum manis, wajah wanita itu benar-benar cerah tidak seperti kemarin-kemarin.
Kevin lalu menuntun Sania duduk di sofa sebelum dirinya ikut duduk di sebelahnya. Tangannya masih menggenggam erat tangan Sania. Rendy dan Vanya juga ikutan duduk.
“Vanya, aku ingin bicara sebentar,” ujar Kevin datar namun tegas.
Vanya menatap Kevin ragu. “Kalau soal tadi, Kevin... aku cuma—”
Kevin mengangkat tangan, menghentikan ucapan Vanya. “Aku tahu niatmu baik, tapi kamu tahu sendiri risikonya kalau Sania tahu aku koma, kan? Kamu dokter, kamu paham betul apa dampaknya bagi wanita hamil.”
Vanya menunduk. “Aku tahu... maaf, Kevin. Aku cuma ingin bantu. Aku nggak sanggup lihat Sania terus menyalahkanmu tanpa tahu kebenarannya.”
Sania yang sejak tadi diam, menatap Vanya lembut. “Nggak papa, Kak. Aku justru berterima kasih karena Kak Vanya sudah jujur. Kalau bukan karena itu, mungkin aku masih terus salah paham sama papah.”
Kevin melirik Sania, lalu tersenyum kecil. “Kamu memang berhati lembut, sayang. Tapi papah tetap harus tegur mereka. Ini soal keselamatan kamu.”
Rendy akhirnya angkat bicara. “Papah jangan marah ke Kak Vanya. Kalau bukan dia yang bilang, mungkin aku juga nggak kuat lagi nyembunyiin semuanya dari Sania. Aku cuma menjalankan perintah papah, tapi jujur... rasanya berat banget harus bohong tiap hari.”
Kevin terdiam sejenak, lalu menepuk bahu Rendy pelan. “Aku tahu kamu anak baik, Ren. Kamu sudah jagain Sania sesuai janjimu. Papah berterima kasih.”
Rendy tersenyum tipis. “Papah... aku cuma lakuin yang seharusnya.”
Suasana sejenak hening. Sania menatap ketiganya dengan perasaan haru. Ia menyandarkan kepala di bahu Kevin.
“Papah, aku bahagia banget sekarang. Semua orang yang aku sayang ada di sini. Aku nggak mau kehilangan siapa pun lagi.”
Kevin membelai rambut Sania lembut. “Nggak akan ada yang pergi lagi, sayang. Sekarang semuanya sudah berakhir. Nggak ada Maria, nggak ada kebohongan. Cuma ada kita — keluarga kecil yang sebentar lagi lengkap.”
Air mata Sania kembali menetes, tapi kali ini bukan karena sedih — melainkan bahagia.
Rendy tersenyum melihat mereka. “Akhinya kalian bersatu lagi, setelah ini hidup kalian akan bahagia selamanya."
Kevin mengangguk. “Tentu saja, apa lagi jika anakku lahir nanti kebahagiaan ku akan semakin lengkap,” ujarnya sambil mengelus perut Sania dengan mata berbinar.
Sania tertawa kecil. “Iya, anakmu yang aktif banget.”
Tiba-tiba Kevin berujar pelan tapi serius, “Mulai sekarang, aku nggak mau ada rahasia lagi di antara kita. Baik itu aku, kamu, Vanya, atau Rendy. Kita jujur dalam hal apa pun. Setuju?”
Sania dan Rendy mengangguk setuju namun tidak dengan Vanya.
Kevin melirik ke arah Vanya yang sedang tertunduk sambil memainkan jari-jemarinya terlihat gelisah.
"Ada apa Vanya?" tanya Kevin tersenyum miring.
Vanya mengangkat kepalanya menatap Kevin.
"Tidak apa-apa, em aku pulang duluan ya aku ada urusan penting."ujarnya buru-buru berdiri.
Kevin hanya menatapnya dengan senyum miring. "Mau kabur, hm? Duduk. Kamu harus menjelaskan padaku, siapa yang sudah menghamilimu."
