30

6K 125 9
                                        

Di sebuah pusat perbelanjaan, Sania sedang berada di toko perlengkapan bayi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di sebuah pusat perbelanjaan, Sania sedang berada di toko perlengkapan bayi. Ia sibuk memilih baju untuk calon bayinya. Sebenarnya, Sania sudah membeli beberapa pakaian, namun belum banyak. Kali ini ia ingin menambah lagi. Uang yang ia gunakan adalah hasil pinjaman dari Rendy, dan ia berjanji akan mengembalikannya setelah anaknya lahir, karena Sania berencana untuk bekerja setelah persalinan.

Untuk jenis kelamin anaknya adalah  perempuan, sesuatu yang sudah ia ketahui sejak USG di usia kandungan empat bulan.

"Sania, kayaknya ini bagus deh buat keponakanku," ujar Bella sambil menunjukan berbagai macam bandana berwarna pink yang terlihat sangat cantik.

"Hei, itu dipakai nanti saja, kalau sudah agak besar. Bayi baru lahir biasanya nggak suka dipakaikan begituan," sahut Sania.

"Nggak apa-apa dong, disimpan aja. Aku beliin buat kamu."

"Ya udah, terserah kamu."

Sania kembali melihat-lihat. Saat hendak mengambil sebuah baju cantik, tiba-tiba ada tangan lain yang juga ingin meraihnya.

"Um, maaf," ujar Sania lalu menatap orang itu. Namun seketika wajahnya terkejut.

"Sania," panggil orang itu.

"Kamu Sania kan?" ia memastikan, seolah tak percaya bisa bertemu Sania di sini.

Sania tersenyum haru.

"Kak Vanya..." ucapnya lirih sambil memeluk Vanya.

Namun pelukan itu tak bisa erat karena perut keduanya sama-sama menonjol. Sania baru sadar Vanya juga sedang hamil.

"Sania, bagaimana kabarmu? Dari mana saja kamu selama ini?" tanya Vanya, terlihat begitu senang.

"Kakak sedang apa di sini? Apa lagi baby moon?" Sania balik bertanya sambil melirik perut Vanya yang tampak sekitar 4–5 bulan.

Ekspresi Vanya langsung berubah sendu.

"Sania, ayo kita bayar terus pulang," ajak Bella.

"Oke. Kak Vanya, aku pamit dulu ya," ucap Sania.

"Tunggu Sania! Aku ingin bicara sebentar."

"Em baiklah. Bella, kamu pulang duluan ya. Aku menyusul nanti."

"Oke, tapi hati-hati pulangnya."

"Iya."

Bella pun meninggalkan mereka.

"Ayo kita ke restoran dekat sini," ajak Vanya.

"Baik, Kak. Tapi sebentar ya, aku mau bayar dulu belanjaanku."

____

Di restoran, mereka memiliki tempat duduk di luar karena di dalam sangat ramai dan berisik.

"Kak, pesan makan dulu aja ya. Nggak enak ngobrol tanpa makan," ucap Sania, mereka baru saja pesan minum namun Sania sebenarnya merasa lapar.

 Father In LawCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang