28

3.8K 78 3
                                        

Satu bulan berlalu. Pernikahan Sania dan Kevin tinggal menghitung hari. Persiapan sudah setengah jalan, hanya tinggal memilih dekorasi dan menu. Urusan undangan, Erin sudah menyelesaikannya dengan rapi.

Perceraian Kevin pun sedang dipercepat. Ia ingin semua beres sebelum hari sakral itu tiba.

Hari ini, Sania berencana melihat gaun pengantinnya yang sedang disiapkan desainer. Ia duduk di depan meja rias, namun wajahnya termenung.

Sejak satu minggu terakhir, Kevin berubah. Jika dulu Kevin selalu menyempatkan waktu datang hanya untuk membuatkan segelas susu hangat, kini sehari pun kadang ia tak memberi kabar. Seminggu ini Kevin hanya mengunjunginya sekali saja.

Hati Sania resah. Benarkah Kevin sibuk? Atau… ada perempuan lain? Pertanyaan itu terus menyesakkan dadanya.

Sania…” suara Erin memecah lamunannya.

“Iya, Mah?” Sania buru-buru menghapus senyum getirnya.

“Kamu sudah siap?”

“Sudah, Mah.”

“Apa Papah sudah sampai?” tanyanya penuh harap.

Erin menunduk. “Tadi Kevin bilang ada meeting mendadak. Dia bilang ganti hari esok karena besok Kevin benar-benar selesai bekerja dan akan mengambil cuti."

Senyum Sania seketika pudar. Dadanya terasa sesak.

"Papah kenapa berubah ya mah, dia jarang datang seminggu ini bahkan menanyai kabarku juga hanya malam hari itu pun sudah larut malam," keluh Sania.

Erin meraih tangannya. “Nak, jangan salah paham. Kevin jarang pulang kesini bukan karena dia berubah. Dia sedang menyelesaikan semua pekerjaannya supaya nanti setelah menikah, kalian bisa tenang.”

"Jangan berpikir yang tidak-tidak ya nak, nggak baik buat baby.".

Sania memaksa senyum.

"Mah sepertinya aku akan ke butik sendiri tidak apa-apa, karena hari ini aku sudah buat janji dengan desainernya, aku nggak enak kalau membatalkan."

"Mamah temenin ya."

Sania menggeleng. "Nggak usah mah, aku akan berangkat sama supir."

"Baiklah hati-hati tapi ya nak, tapi saran mama kamu ijin ke Kevin ya."

"Oke mah nanti aku mampir ke kantor papah sebelum ke butik."

Erin mengangguk.

_____
Di kantor Kevin, langkah Sania terasa berat. Ia sudah menyiapkan senyum, tapi hatinya dicekam rindu dan rasa curiga. Otaknya sudah membayangkan hal-hal yang seharusnya tidak perlu ia pikirkan.

“Pak Kevin ada?” tanyanya pada resepsionis.

“Ada, Bu. Tapi sedang menerima tamu.”

Sania memilih menunggu duduk di sofa yang tersedia di lobby dengan gelisah.

Namun baru tiga menit duduk akhirnya ia berdiri. “Aku cuma mau izin sebentar. Nggak akan lama," ucapnya pada resepsionis.

Resepsionis itu mengangguk, karena tahu Sania adalah orang Kevin.

Saat sedang melangkah menuju ruangan Kevin, langkah Sania terhenti ketika Vanya muncul.

“Kamu mau ketemu Kevin, San?”

“Iya kak.”

“Bareng yuk, aku juga ada perlu sama dia.”

Di dalam ruang kerja, Kevin sedang berhadapan dengan Maria.

“Kevin… aku belum ikhlas kalau kamu menceraikanku. Aku janji akan berubah. Beri aku kesempatan sekali lagi,” suara Maria parau, matanya basah.

Kevin tersenyum miring, dingin. “Lebih baik aku mati daripada rujuk sama perempuan rendah seperti kamu.”

 Father In LawTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang