Kevin, Vanya, dan Rendy kini dalam perjalanan menuju apartemen. Kevin duduk di belakang bersama Sania yang masih belum sadarkan diri.
“Ini Sania benar-benar nggak apa-apa kan, Vanya? Kok dia belum sadar juga?” tanya Kevin dengan cemas.
“Nggak apa-apa, Kevin. Sebentar lagi juga siuman,” jawab Vanya tenang. Sebagai dokter, ia sudah tahu kondisi Sania dengan baik. Tapi entah kenapa, Kevin tetap saja meragukannya.
“Bangun, sayang. Papah ingin sekali melihat mata indahmu terbuka,” ucap Kevin lembut sambil menggenggam tangan Sania, mengecupnya berkali-kali.
Tak sampai tiga menit, mobil mereka tiba di apartemen. Jarak mal dengan apartemen memang tidak terlalu jauh — Sania pun sebelumnya hanya berjalan kaki ke sana.
“Yang paling aku takutkan ya begini. Kalau Sania tahu aku koma, pasti dia akan shock,” gumam Kevin sambil menggendong Sania menuju lift untuk naik ke lantai dua puluh — unit apartemen milik Rendy.
“Papah sudah bilang sama kamu kan, Rendy? Kalau papah kenapa-kenapa, jangan pernah bilang ke Sania. Dia lagi hamil, pasti akan kaget dan bisa berpengaruh ke kandungannya,” ujar Kevin menasihati Rendy sambil terus melangkah.
Mereka tiba dan langsung masuk ke dalam apartemen. Kevin merebahkan tubuh Sania di atas ranjang dengan hati-hati.
“Aku nggak bilang apa-apa ke Sania, pah. Aku jalankan semua pesan papah. Tapi... kak Vanya tuh yang cerita semuanya,” ujar Rendy.
Vanya melirik Rendy dengan kesal. Kenapa jadi aku yang disalahkan? Aku cuma ingin membela Kevin, supaya Sania sadar bahwa Kevin nggak bersalah, batin Vanya.
“Kevin, kamu dan Rendy sebenarnya kerja sama ya? Untuk apa semua ini?” tanya Vanya dengan curiga.
“Nanti akan aku ceritakan. Semua ini aku lakukan demi kebaikan Sania.”
Saat itu, Kevin merasakan jari-jari Sania bergerak dalam genggamannya. Sania perlahan membuka mata. Penglihatannya masih buram.
“Sayang,” panggil Kevin lembut.
Begitu mendengar suara yang sangat ia rindukan, mata Sania terbuka sempurna.
“Papah...” lirihnya, tak percaya Kevin benar-benar ada di hadapannya.
“Papah... hikss...” Air matanya jatuh deras.
“Hey, kok malah nangis?” Kevin mengecup kening Sania lembut.
“Ini beneran papah kan? Aku nggak lagi mimpi, kan pah?” tanya Sania intens menatap wajah Kevin.
Kevin hanya tersenyum, lalu mencium setiap inci wajah Sania.
“Kamu bisa ngerasain ciuman papah, kan?”
Sania mengangguk sambil tersenyum di tengah tangisnya. Ia lalu melingkarkan tangan di leher Kevin dan memeluknya erat.
“Hiks... maafin aku, pah... maaf.”
“Kamu nggak salah kok. Udah ya, berhenti nangis.” Kevin melepaskan pelukan karena takut menindih perut Sania.
“Bisa tinggalkan aku berdua dengan Sania?” pinta Kevin pada Vanya dan Rendy.
“Baiklah, kami keluar dulu,” jawab Vanya.
“Rendy, kamu jaga Vanya. Jangan biarkan dia keluar dari apartemen,” perintah Kevin.
“Baik, pah.”
Vanya hanya menghela napas pasrah. Setelah ini, aku pasti akan disidang, pikirnya.
Kini di kamar hanya tersisa Kevin dan Sania.
