42.revisi

5 1 0
                                        

Sesampainya mereka berempat di pinggir lapangan, suasana langsung terasa berbeda. Riuh sorak penonton bercampur dengan suara sepatu yang berdecit tajam di lantai. Ketegangan itu nyaris bisa disentuh.

Chandra tidak membuang waktu. Ia langsung menghampiri anak-anak basket yang sejak tadi berdiri di tepi lapangan dengan wajah tegang. Begitu melihat Chandra mendekat, mereka sontak berdiri dan serempak menunjuk ke arah tengah lapangan.

"Chan, lo liat itu?" Sandi bicara cepat, nadanya kesal.

"Rago mainnya gak pernah bener," sambung Farel, rahangnya mengeras.

"Dia nyerempet Arka terus dari tadi," Harsa menimpali. "Tiap ada celah dikit langsung nyerang!"

Arsha sudah melangkah setengah badan ke depan, matanya tajam mengarah ke lapangan. "Ini keterlaluan. Gue hentiin sekarang."

Reska buru-buru menahan lengannya. "Jangan," katanya cepat. "Kalo lo masuk sekarang, bisa makin ribet. Banyak yang nonton di tribun, takutnya ntar malah dibilang OSIS ikut campur."

Arsha mengepalkan tangan, jelas menahan diri.

Amara tidak ikut bicara. Sejak tadi matanya terpaku ke tengah lapangan. Fokusnya penuh, wajahnya tegang. Ia melihat permainan itu tidak berjalan santai-terlalu banyak benturan kecil, terlalu banyak jarak yang dipersempit dengan sengaja.

Di dalam area, kedua lawan itu seolah terpisah dari dunia di sekeliling mereka.

Tidak ada sorakan. Tidak ada teriakan. Hanya bola, lantai, dan dua tubuh yang terus saling mendekat.

Berkali-kali Arka menerima benturan dari Rago. Bahu, dada, lengan-semuanya datang cepat, tepat, dan selalu di batas tipis peraturan. Arka tidak membalas. Ia menghindar, memutar badan, memilih jalur aman, tetap menggiring bola dengan tenang.

Permainan itu bisa dibilang bersih. Hanya saja, Rago selalu menemukan celah-sentuhan kecil yang tampak tak sengaja, tekanan yang terlalu dekat, dorongan yang sulit dibuktikan sebagai pelanggaran.

Dan Arka menahan semuanya.

Kini mereka kembali berhadapan.

Arka berdiri di depannya tanpa ragu. Tidak ada tanda ingin mundur. Tidak ada emosi yang tumpah. Nafasnya stabil. Matanya jernih.

Rago menangkap itu semua.

Baru sekarang ia mengerti. Semua benturan tadi-semua dorongan kecil itu-hanyalah cara Rago memancing. Ia ingin melihat Arka terpancing emosi, ingin tahu apakah kapten itu akan kehilangan kendali seperti yang lain.

Tapi semua itu sia-sia. Arka tidak tersentuh.

Kesadaran itu membuat sesuatu di dada Rago mereda. Perlahan, ia melepaskan benci yang sejak tadi menekan dadanya. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum kecil yang hampir tak terlihat.

Sekarang ia tahu.

Ia tidak perlu kasar. Ia tidak perlu curang.

Sekarang, Rago akan bermain rapi. Bermain jujur. Bermain sepenuhnya dengan kemampuan yang ia miliki-seperti yang seharusnya, dan seperti yang ingin ia buktikan.

Bola kembali dipantulkan.

Dan permainan berubah arah.

Permainan kembali berlangsung-kali ini terasa berbeda.
Lebih terlatih. Lebih rapi. Lebih panas.

Tidak ada lagi benturan tersembunyi, tidak ada dorongan yang sengaja diselipkan. Semua mengalir murni dari teknik dan insting. Gerak kaki mereka presisi, perpindahan arah cepat, dan jarak dijaga ketat. Setiap pantulan bola terdengar tegas, seolah menandai keseriusan yang kini benar-benar hadir.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 4 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

TAK BERHARGA, TAPI SAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang