28. Kisah panjang Shua...

227 20 8
                                        

Waktu terus berjalan, dan sebulan lebih berlalu sejak Vashua membuka matanya kembali dari masa koma yang panjang. Perlahan tapi pasti, anak itu mulai bangkit dari keterpurukan. Ada hari di mana semangatnya menggebu-gebu, ada juga hari di mana rasa sakit dan lelah membuatnya ingin menyerah. Namun, di antara pasang surut itu, satu hal yang pasti, Vashua memilih untuk bertahan.

Ruangan rumah sakit yang dulu terasa dingin dan menakutkan kini benar-benar berubah menjadi rumah kedua yang hangat. Bau obat-obatan yang menyengat tak lagi terasa mengganggu, justru menjadi aroma yang menandakan proses penyembuhan.

Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah tirai, menyoroti debu-debu halus yang menari-nari di udara. Suasana pagi itu terasa lebih hidup dari biasanya.

"Geser sedikit ke kiri, Ka Ry. Nanti kena selang infus atau NGT kak Shua!" seru Jeca, si bungsu, yang sedang sibuk membantu Henry memasang hiasan dinding berupa ribuan origami burung bangau yang mereka buat semalaman.

"Oke, oke. Ini juga udah hati-hati kok, tanganku gemetar nih," jawab Henry sambil tertawa kecil, jemarinya yang biasanya sigap kini bergerak sangat pelan dan hati-hati agar tidak menimbulkan suara berisik.

Di sisi lain kamar, Jeima duduk di kursi goyang, memetik senar gitarnya dengan lembut. Lagu-lagu lama yang menenangkan mengalun pelan, menjadi latar suara yang menyejukkan hati.

Kini, dengan kembalinya aset keluarga, mereka tidak lagi perlu pusing memikirkan biaya. Vashua mendapatkan perawatan terbaik, fasilitas paling lengkap. Namun, kini yang menjadi beban pikiran ketujuh bersaudara itu bukanlah uang, melainkan bagaimana cara memulihkan jiwa dan raga Vashua yang hancur.

Sen, sang kakak sulung, duduk tegak di sofa mewah di sudut ruangan. Matanya yang tajam namun teduh tak pernah lepas memandang adik bungsunya itu. Sebagai yang paling tertua, dialah yang menopang segalanya, memastikan tidak ada satu pun kekurangan yang menyentuh Vashua.

Vashua sendiri berbaring, ditopang oleh tumpukan bantal yang disusun sedemikian rupa agar posisinya nyaman. Napasnya kadang masih terasa sesak tiba-tiba, membuat keenam kakaknya selalu waspada, siap siaga setiap detik. Wajahnya masih pucat dan tubuhnya masih sangat kurus, selang NGT transparan masih tergantung dari hidung menuju kerongkongan, menjadi satu-satunya jalan bagi nutrisi masuk saat ia belum bisa menelan dengan normal.

Tapi hari itu, matanya berbeda. Ada cahaya yang kembali menyala di sana. Ia menyaksikan keramaian kecil itu dengan senyum tipis yang tak pernah lepas dari bibirnya. Hatinya terasa penuh, berbeda jauh dengan Vashua setahun lalu yang penuh luka dan kesepian. Kini, ada kebahagiaan, meski masih ada ruang kosong di hatinya yang perlahan mulai terisi kembali oleh kasih sayang.

"Kalian ini, di rumah sakit harusnya tenang ini malah heboh seperti mau pesta." celetuk Vashua. Suaranya masih lemah dan serak, terdengar berat setiap kali ia harus menarik napas di sela-sela kalimat.

Jeima menghentikan petikan gitarnya, lalu menoleh dengan senyum lebar. "Kan kata dokter, suasana hati yang baik itu obat paling ampuh, Shua. Jadi kita lagi nyediain obat alami buat kamu. Gratis lagi tuh kita kasih untuk kamu!"

"Nah bener tuh," sahut Jeca cepat, melompat kecil lalu segera duduk pelan di tepi kasur. "Lagipula rumah besar kita sepi banget kalau nggak ada suara Kak Shua. Jadi kita pindahan aja dulu kesini. Soalnya... di mana ada Kak Shua, di situ lah rumah kita."

Sen tersenyum tipis mendengar celoteh Jeca, lalu angkat bicara dengan suara berat dan tenang khasnya, "Biar Shua semangat, suasana harus cerah. Tapi jangan terlalu berisik ya, nanti Shua pusing dan sesak napas kaya kemarin."

Black Hole Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang