31. Tahap satu, aman?

86 16 0
                                        

Malam harinya setelah latihan standing frame pertama itu, kamar Vashua sudah tidak lagi seperti kamar pasien biasa. Origami bangau dari Henry dan Jeca masih menggantung diam di dinding, tiga bunga matahari di gelas plastik masih segar. Monitor masih berbunyi pelan dengan irama yang teratur, selang NGT masih terpasang rapi di hidungnya. Semua tampak normal.

Hanya saja, Vashua mulai tidur dengan gelisah.

Sejak pukul sepuluh malam, tubuhnya mulai gelisah. Tangan kanannya bergerak menarik ujung selimut yang menutupi dadanya. Napasnya terdengar lebih cepat dari biasanya, lebih berat dan pendek-pendek, juga keringat mulai muncul di pelipisnya meskipun pendingin ruangan menyala cukup dingin pada suhu 18 derajat.

Sen yang berjaga malam itu menyadarinya pertama kali. Sebagai kakak tertua, tidurnya tidak pernah benar-benar lelap sejak Vashua mengalami koma. Bahkan desahan napas yang sedikit berbeda saja bisa membangunkannya.

"Shua?" Sen mendekat dengan langkah pelan, lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi adiknya yang berkeringat.

Panas. Sangat panas. Dan napasnya tidak beraturan, seperti orang yang baru saja berlari.

"Yoza, Nirzam, bangun," panggil Sen dengan suara tertahan, namun cukup untuk membuat Yoza yang tidur di sofa langsung terduduk dengan napas memburu, selimutnya jatuh berantakan karena terkejut.

"Ada apa, Kak Sen?"

"Badan Shua panas sekali, dan napasnya sesak."

Yoza berlari, hampir tersandung selimutnya sendiri yang jatuh di lantai. Ia memegang dahi Vashua, lalu lehernya yang juga panas, lalu melihat ke monitor di samping ranjang dengan mata membelalak.

Di monitor, angka saturasi oksigen yang biasanya stabil di 97-98 persen, kini turun menjadi 93 persen, lalu berkedip menjadi 92 persen dengan warna kuning peringatan.

"Ya Tuhan... panas sekali saturasinya juga turun. Tadi sore perasaan masih baik-baik aja, padahal. Malah sore tadi masih bisa ketawa gara-gara kedutan," ujar Yoza panik. Tangannya gemetar mengambil termometer digital di meja samping yang hampir terjatuh karena gugup.

Nirzam yang baru saja tertidur di kursi setelah lembur mengerjakan tugas kuliah selama dua hari tidak tidur, langsung berdiri dengan mata merah. "Demam? Berapa, Kak? Saturasinya berapa? Panggil dokter!"

Termometer berbunyi pelan. 38,9 derajat. Di monitor, alarm pelan berbunyi. Tiit... tiit... saturasi 92%.

Angka itu membuat ruangan yang tenang dan hangat sebelumnya langsung berubah menjadi ruang gawat darurat kecil.

"38,9 dan 92?!" Jeca yang ternyata belum tidur dan hanya bersandar di sudut sambil memeluk boneka beruang milik Vashua. "Tadi siang kan tidak apa-apa, Kak! Apa karena berdiri tadi? Atau karena selangnya infeksi? Apakah lambungnya berdarah lagi seperti dulu? Apakah karena polipnya?"

"Jangan asal bicara!" potong Jeima yang juga terbangun, wajahnya pucat karena kurang tidur beberapa hari ini karena sedang banyak pikiran.

Meskipun mulutnya selalu terdengar ketus dan judes, tangannya paling cepat bergerak mengambil handuk kecil dan baskom berisi air hangat dari kamar mandi. Gerakannya cekatan. "Ambilkan selimut tipis, jangan yang tebal! Yang tebal malah membuat panasnya terperangkap dan sesaknya makin parah! Dan buka sedikit jendelanya, biar ada udara!"

Henry yang baru datang dari luar setelah berbicara dengan Pak Adam di telepon di koridor, masuk dan langsung melihat kepanikan itu. Wajahnya yang biasanya tenang langsung tegang.

"Kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa alarmnya bunyi?"

"Shua demam tinggi dan sesak, Kak Ry. Saturasinya turun sampai 92," jawab Nirzam dengan suara bergetar, sambil terus memegang tangan Vashua yang terasa panas tapi telapak tangannya terasa dingin, sebuah kombinasi yang membuat semua orang semakin takut.

Black Hole Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang