30. Hal yang baik-baik.

133 19 2
                                        

Pagi setelah dari taman kemarin, kamar Vashua sudah tidak seperti kamar pasien lagi. Origami bangau dari Henry dan Jeca masih menggantung, bunga matahari dari Jeca kemarin masih di gelas plastik di meja. Selang NGT masih ada, monitor masih bip pelan, tapi selimutnya sudah tidak berantakan.

Vashua bangun lebih pagi dari biasanya. Duduk bersandar, menatap kakinya sendiri yang ditutupi selimut.

"Bangun jam berapa kamu?" Sen datang bawa dua map, satu map laporan perusahaan, satu map dari rehab. Bajunya sudah rapi, tapi mata masih sembab, karena kurang tidur.

"Jam enam, Kak," jawab Vashua pelan. "Nggak bisa tidur lagi."

Sen duduk di tepi ranjang, membenarkan posisi bantal di punggung Vashua. "Kenapa? Sesak lagi?" dia bertanya sebab, jam lima subuh sen pulang ke rumah untuk menyiapkan berkas-berkas yang akan di bawa Henry.

"Nggak. Cuma, udah gak sabar pengen mulai terapi lagi." Vashua ngelirik map di kedua tangan Sen. "Itu jadwal baru ya?"

Sen tersenyum tipis. "Dokter Rizky sama tim rehabilitasi mau mulai program aktif hari ini. Katanya kalau kemarin kamu sudah berhasil keluar kamar, hari ini kita coba yang lebih berat sedikit."

Belum selesai Sen bicara, pintu terbuka dengan berisik.

"PROGRAM AKTIF APA? SIAPA YANG BILANG SUDAH BOLEH?" Yoza masuk dengan nampan bubur saring dan botol air, Rambutnya masih berantakan. Di belakangnya Nirzam menyusul membawa kursi roda yang sudah dilap tiga kali pagi ini.

"Astaga Kak Za, pelan-pelan." Nirzam protes. "Baru jam 7, udah pada heboh."

"Justru itu. Harusnya istirahat dulu, kemarin habis dari luar kan capek, pasti." Yoza menaruh nampan dengan keras, hampir tumpah kalau tidak di tahan Nirzam.

"Shua gimana tadi malam? Muntah lagi nggak? Pusing nggak?" Nirzam mulai bertanya panjang, semalam dia tidak menginap di rumah sakit karena harus lembur mengerjakan tugas kuliah di rumah teman nya.

Vashua hanya bisa tertawa kecil. Napasnya masih berat kalau tertawa kelamaan.

"Aman, Kak Za. Cuma... NGT-nya gatel."

Itu seperti kode untuk Yoza yang langsung cek hidungnya, Sen cek selangnya takut kelipat, Nirzam cek kantong nutrisinya.

Dari dekat jendela, suara datar terdengar.

"Lebay."

Jeima sudah pakai seragam sekolah, dasi masih di tangan, bersandar di dinding sambil memperhatikan mereka bertiga rebutan satu selang.

"Orangnya bilang gatel, bukan minta dibongkar pasang. Kenapa si kalian selalu lebay gitu."

Yoza mendelik. "Kamu tau apa, anak kemarin sore."

"Biarin aja, Kak," Jeca muncul dari balik pintu membawa tas sekolah dan satu bunga matahari lagi yang lebih kecil. "Kak Jeima itu kalau khawatir emang gitu. Tadi malem aja dia yang ingetin aku jangan lupa bawa bunga buat Kak Shua."

"Mana ada!" Muka Jeima langsung merah. "Aku cuma bilang kalau bunganya layu buang aja, bau!"

"Oh ya? Terus yang nyiram bunga tadi subuh siapa?" Jeca nggak mau kalah.

"Berisik," potong Sen, tapi senyumnya nggak bisa ditahan. "Shua, hari ini kamu di temenin sama kita ber lima dulunya, Henry nggak ikut dulu mau ke kantor sama Pak Adam ngurus berkas."

Vashua mengangguk. Matanya ngelirik ke bunga matahari baru di tangan Jeca.

"Buat Aku lagi?"

Jeca mengangguk semangat, terus masang bunganya di sebelah bunga yang kemarin. "Biar ada temennya. Katanya kalau satu aja nanti dia kesepian."

Black Hole Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang