Pagi setelah malam demam dan sesak pertama itu, kamar Vashua terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.
Origami bangau dari Henry dan Jeca masih menggantung diam di dinding, tiga bunga matahari di gelas plastik masih segar, namun di meja kecil samping ranjang ada tambahan baru yaitu alat nebulizer, baskom kecil berisi air hangat, dan termometer digital yang masih menampilkan angka terakhir semalam, 37,2 derajat.
Di atas tempat tidur, Vashua sudah duduk bersandar sejak pukul enam pagi. Selimut biru rumah sakit sudah ia rapikan sendiri. Baju pasiennya sudah diganti dengan yang baru oleh Yoza dini hari tadi setelah ia berkeringat banyak, selang NGT masih terpasang rapi, dan oksigen nasal yang semalam terpasang 2 liter, pagi ini sudah dilepas karena saturasinya sudah stabil kembali.
Di papan tulis kecil yang biasanya berisi jadwal terapi dengan tulisan semangat, hari ini tertulis dengan spidol hitam oleh Perawat Hani:
07.00 - Nutrisi NGT 200cc + observasi
09.00 - LIBUR STANDING FRAME - Istirahat total
11.00 - Fisioterapi napas ringan saja
Tulisan "LIBUR STANDING FRAME" dengan huruf kapital itu yang membuat wajah Vashua cemberut sejak pagi.
"Kenapa libur, Kak?" tanya Vashua pelan kepada Sen yang sedang duduk di sofa sambil memeriksa catatan suhu dan saturasi semalam.
Sen tidak langsung menjawab. Ia melirik monitor yang semalam sempat menampilkan angka 92 persen dan berbunyi pelan.
"Kata Dokter Rizky, hari ini kamu harus istirahat total. Semalam kamu demam 38,9 derajat dan saturasi turun sampai 92 persen disertai sesak. Tubuhmu butuh pemulihan. Kalau dipaksa berdiri lagi hari ini dengan standing frame, kamu bisa pingsan lagi karena darah turun lagi ke kaki," jawab Sen dengan nada tenang, namun tegas.
Vashua mengerutkan keningnya. Tangannya meremas ujung selimut.
"Tapi demamnya sudah turun, Kak. Tadi pagi 36,8. Sesaknya juga sudah hilang. Saturasinya 97 tanpa oksigen. Aku sudah tidak pusing lagi. Aku sudah janji sama Kak Lani mau coba dua menit lagi hari ini. Kemarin tiga menit dua puluh detik, hari ini dua menit saja," ujar Vashua dengan nada memaksa.
"Janji bisa diundur besok, Shua," sahut Yoza dari arah wastafel sambil mencuci botol minum. Suaranya terdengar lelah karena semalam ia tidak tidur sama sekali. "Kemarin saja kamu demam, sesak, sampai harus pakai oksigen dan uap. Kalau hari ini kamu paksa lagi, nanti yang ada kamu masuk ruang intensif lagi. Mau?"
Ucapan Yoza yang keceplosan itu membuat suasana langsung dingin. Kata "ruang intensif" adalah kata yang paling dihindari semua orang di kamar itu sejak Vashua koma selama berbulan-bulan.
Vashua langsung diam. Bibirnya mengerucut, matanya menatap ke jendela. Ia tidak menangis, ia hanya diam. Diam yang mengambek, diam yang penuh kecewa.
Itulah yang terjadi sepanjang pagi. Vashua menolak diajak bicara banyak. Ketika Nirzam datang jam tujuh pagi membawakan kursi roda yang sudah dilap bersih untuk mengajaknya ke taman seperti biasanya agar tidak bosan, Vashua menggeleng pelan.
"Tidak mau."
"Kenapa? Tadi katanya mau ke taman lihat bunga matahari yang besar di taman bawah yang kemarin belum sempat dilihat? Udara pagi bagus untuk paru-paru kamu yang semalam sesak," tanya Nirzam bingung.
"Kalau ke taman tidak boleh latihan, buat apa? Hanya duduk saja, sama saja seperti di kamar. Aku mau latihan, bukan duduk-duduk," jawab Vashua ketus, namun suaranya masih lemah dan serak sisa nebulizer semalam. Ia menarik selimutnya dengan tangannya hingga menutupi setengah wajahnya, menyisakan selang NGT yang masih terlihat.
Nirzam dan Yoza saling berpandangan. Ini adalah pertama kalinya setelah sadar, Vashua benar-benar mengambek seperti anak kecil, bukan karena manja, tapi karena ia merasa rencananya berantakan dan tubuhnya mengecewakannya lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Black Hole
Fanfictionini cuman kisah tentang Senandia, Yoza,Nirzam,Henry,Jeima, Vashua juga Jeca yang harus berjuang melawan perihnya kehidupan dunia.
