Pagi itu suasana kamar rawat terasa berbeda. Sejak subuh Yoza sudah mondar-mandir di depan pintu kamar.
Bahkan Nirzam beberapa kali menyuruhnya duduk karena langkahnya membuat semua orang ikut gugup.
"Ka, coba tenang sedikit."
"Aku cuma takut dia kenapa-kenapa, Zam."
"Tapi kalau Kak Yoza terus muter begitu, yang pusing malah kita."
Sen yang baru datang dari ruang dokter hanya menggeleng kecil melihat tingkah kedua adiknya.
"Sudah siap?"
Semua langsung menoleh, Di belakang Sen berdiri dokter spesialis rehabilitasi bersama dokter bedah digestif dan seorang terapis wicara.
Vashua yang sedang duduk di kursi roda ikut menatap mereka dengan jantung berdebar.
Dokter tersenyum ramah.
"Hari ini kita akan melakukan evaluasi dan mencoba langkah baru."
"Apa maksudnya, Dok?" tanya Yoza mewakili yang lain.
"Kita akan mencoba latihan menelan secara langsung. Jika refleks otot dan kemampuan paru-parunya sudah cukup stabil, kita bisa mulai mengurangi ketergantungan pada selang NGT yang selama ini menemaninya."
Ruangan mendadak hening.
Vashua tanpa sadar menyentuh selang NGT yang masih menempel di hidungnya.
Mata Vashua langsung berbinar.
"Benarkah?"
"Iya, tapi kita lakukan perlahan ya.Tubuh butuh waktu untuk terbiasa kembali, jadi tidak bisa kita paksakan."
Beberapa menit kemudian, NGT dilepas dengan hati-hati. Vashua sedikit meringis ketika selang itu perlahan ditarik keluar. Rasa perih dan gatal menjalar di sepanjang hidung hingga tenggorokannya, membuat matanya berkaca-kaca.
Begitu selang itu benar-benar terlepas, ia menarik napas panjang melalui hidungnya.
"Haaaaaaahh...Lega."
Refleks tangannya terangkat menyentuh batang hidungnya perlahan.
Bukan pertama kalinya selang itu dilepas. Selama berbulan-bulan terakhir, NGT memang beberapa kali dilepas dan dipasang kembali menyesuaikan kondisinya.
Namun setelah operasi besar yang membuatnya kembali bergantung penuh pada selang itu, sensasi ringan di wajahnya terasa begitu dirindukan.
Jeca yang melihat ekspresi kakaknya langsung bertepuk tangan kecil.
"Wah Kak Shua kelihatan lebih ganteng!"
Vashua terkekeh pelan.
"Memangnya kemarin jelek?"
Jeca memiringkan kepala sambil berpura-pura berpikir.
"Hmm... Sedikit."
"Jeca!"
Jeima yang sejak tadi bersandar di dekat jendela mendengus pelan.
"Dasar. Orang baru lepas selang juga kamu komentarin."
Jeca hanya menjulurkan lidah.
"Kan memang lebih enak dilihat."
Jeima mengalihkan pandangan, lalu berkata pelan tanpa menatap Vashua,
"Yang penting jangan bikin kami panik lagi." Kalimat itu terdengar ketus seperti biasa, Namun semua orang tahu, itu adalah cara Jeima menyembunyikan rasa khawatirnya.
Vashua tersenyum kecil.
"Iya... aku usahakan."
Suasana yang semula tegang pun perlahan kembali hangat.
Dokter lalu mengambil sebuah sendok kecil. Di atasnya hanya ada sekitar setengah sendok teh air putih yang telah dikentalkan agar lebih aman untuk ditelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Black Hole
Fanfictionini cuman kisah tentang Senandia, Yoza,Nirzam,Henry,Jeima, Vashua juga Jeca yang harus berjuang melawan perihnya kehidupan dunia.
