Kamar itu kini tak lagi terasa seperti kamar seorang remaja. Bau aromaterapi lili yang biasanya Lisa sukai, kini kalah telak oleh bau tajam antiseptik dan mesin oxygen concentrator yang mendengung rendah.
Di atas ranjang, Lisa tampak seperti boneka porselen yang retak—tak bergerak, pucat, dan seolah jiwanya sudah pergi lebih dulu meninggalkan raga yang rusak itu.
Jennie duduk di tepi ranjang, tangannya tak berhenti mengusap jemari Lisa yang bebas dari gips. Setiap gerakan kecil Lisa, meski hanya kerutan dahi karena rasa sakit yang menembus obat bius, membuat jantung Jennie mencelos.
"Adek... makan sedikit ya? Mommy suapin cake kesukaan Adek," bisik Jennie lirih.
Lisa hanya menatap lurus ke arah jendela yang tertutup gorden. Matanya kosong. Tidak ada binar, tidak ada protes, bahkan tidak ada air mata.
"Nggak mau, Mom. Buang-buang waktu," suara Lisa nyaris tak terdengar, dingin dan datar.
"Kok ngomongnya gitu? Ini biar Adek cepat pulih, biar bisa main basket lagi sama Kak Rose," sela Kai yang baru masuk membawa nampan air hangat. Ia berusaha memasang wajah tegar, meski kantung matanya menghitam karena tak tidur semalaman.
Lisa akhirnya menoleh, menatap Daddynya dengan tatapan yang membuat Kai ingin berteriak karena hancur.
"Buat apa sembuh, Dad? Nanti kalau Adek sudah bisa jalan, ada lagi kan yang mau pukul Adek? Ada lagi kan yang mau hancurin jantung Adek? Capek... Adek mau berhenti di sini aja."
"Lisa!" Suara Rose pecah di ambang pintu. Ia masuk dengan mata sembab, membawa tumpukan komik kesukaan mereka.
"Jangan egois! Kamu pikir cuma kamu yang sakit? Kita semua di sini mati-matian buat jaga kamu!"
"Kak, jangan keras-keras..." tegur Jennie lembut.
"Nggak, Mom! Adek harus tahu!" Rose duduk di kursi samping ranjang, menggenggam tangan Lisa yang terbalut gips.
"Dek, lihat Kakak. Kakak putusin udah nggak main basket lagi sekarang. Kakak nggak akan sentuh bola itu sampai kamu yang lempar bolanya ke Kakak. Kalau kamu nyerah, berarti kamu juga bunuh Kakak pelan-pelan!"
Lisa memalingkan wajahnya kembali ke tembok.
"Ya udah, jangan main basket lagi. Buang aja bolanya. Adek udah nggak peduli."
Kalimat itu seperti sembilu yang menyayat hati mereka semua. Lisa yang ceria, Lisa yang pantang menyerah saat operasi jantung dulu, kini benar-benar telah padam. Ia tidak hanya sedang sakit fisik; jiwanya sedang melakukan aksi mogok hidup.
"Kenapa jantung ini masih detak?" bisik Lisa pada kegelapan. Suaranya serak, penuh kebencian pada dirinya sendiri.
"Adek..."lirih Jennie merasakan hatinya mencelos.
Lisa tidak menoleh. "Mom, boleh nggak... jantung ini berhenti aja? Adek capek jagainnya. Adek capek minum obat terus, capek disuntik terus, capek dipukulin terus..."
Lisa akhirnya menoleh, matanya merah dan bengkak. "Sinb bener, Mom. Adek ini beban. Adek cuma bikin Mommy nangis tiap hari. Kalau Adek nggak ada, Mommy sama Daddy nggak perlu takut lagi kan? Nggak perlu lapor polisi, nggak perlu bayar rumah sakit mahal-mahal..."
"LISA! CUKUP!" Jennie tak terima menjatuhkan nampan obatnya hingga botol-botol kecil itu terguling di lantai. Dia memeluk Lisa dengan protektif, meskipun Lisa berusaha berontak dengan sisa tenaganya yang lemah.
"Lepas, Mom! Sakit! Semuanya sakit!" teriak Lisa histeris.
"Adek benci badan ini! Adek benci jadi Lisa!"
KAMU SEDANG MEMBACA
My Little Light
Novela Juvenil"Pelan-pelan de" "Sus mana Mom?" Jennie menuntun anaknya untuk duduk bareng bersama suami juga putri sulungnya. "Mommy sus mana~" rengek Lisa yang tadi dihiraukan Jennie. "Sus resign de, katanya gamau lagi ngurusin bayi gedenya"
