Chapter 39

466 30 9
                                        

Ali kaget melihat Leo yang terpeleset di lantai, ia berlari kemudian berjongkok dengan cepat membantu anaknya untuk berdiri. "Hati-hati dong sayang"






Sementara Prilly sedari tadi meracau di balik ponselnya, berkali-kali memanggil suaminya itu, dia saat ini sudah marah.. Oh! Bukan saja marah tapi sudah sangat murka. Sungguh, dia sangat cemas bukan main, penasaran dengan apa yang terjadi dengan anaknya.


"Ya tuhan! Kenapa sedari tadi aku bertanya tidak sedikitpun menjelaskan, kenapa dengan anakku? Aku tidak main-main, ya, kalau terjadi apa-apa dengan anakku tidak ada maaf untukmu! " Prilly marah, benar-benar marah suara lembutnya kini sudah hilang digantikan dengan teriakan-teriakan.


Ali mulai takut, rasanya ia ingin mengakhiri semuanya, tapi sudah kepalang, rencananya sedikit lagi akan berhasil.



"Tidak apa-apa, Leo hanya hampir saja terjatuh" Kata Ali kikuk, tidak tau harus menjelaskan apa kepada istrinya, sungguh sejauh ini ia baru mengetahui bagaimana mengerikannya kalau istrinya ini sedang sangat marah, oh ya ampun! Dia bahkan berbohong, padahal Leo sudah terjatuh bukan hampir.


"Apa kamu bilang?!, hampir terjatuh?!, kamu kira aku tidak tau kalau kamu berbohong! Memang dasar pembohong! Awas saja kalau ketemu abis kamu!" Prilly kesal, nafasnya sudah tersengal-sengal. "Dimana kalian sekarang? katakan padaku! Kesabaranku sudah habis! " Katanya menggebu-gebu. Kalau saja bisa digambarkan saat ini kepala Prilly sudah berapi-api, wajahnya sudah merah menahan emosi.


Ali gemetaran, badannya panas dingin, tidak menyangka kalau istrinya ternyata bisa sangat murka. Ia menatap Leo dengan dahi penuh keringat. Matanya menyipit seakan meminta tolong kepada anaknya, Leo mengangkat bahu dan menggeleng merasa bingung.

"Sayang... "

"Tidak ada sayang-sayangan! Cepat katakan dimana kalian! " Prilly menyanggah ucapan Ali, dia tidak sabar dan sungguh dia saat ini tidak ingin lagi berbasa-basi.


Ali menghela nafas, menenangkan perasaannya. "Kita berada di gedung Delima"


Tut... Tut.. Tut...

Ponsel langsung dimatikan oleh Prilly secara sepihak. Ali kemudin menatap Leo, ia tersenyun "Mommymu ternyata kalau marah induk singa pun kalah. Daddy sampai takut sekali" Katanya sambil terkekeh.


Leo tertawa, dilingkarkannya lengan mungilnya pada leher Ali, diberinya kecupan sayang pada pipinya. "Apakah kita berhasil Dadd? " Katanya senang.



Ali mengangguk, "Sedikit lagi, Daddy akan telpon pak Norman untuk lebih cepat mempersiapkan semuanya, karena Mommymu saat ini pasti sedang menuju ke gedung Delima, rencana kita dipercepat dari perkiraan"


Kemuadian Ali memencet tombol di ponselnya menghubungi seseorangvyabg ditujunya, tidak perlu waktu lamu saat deringan pertama sudah terjawab.


"Tolong dalan waktu 5 menit semuanya harus sudah siap"  Kemudian tanpa menunggu jawaban si penerima telpon ia langsung mematikan ponselnya.


"Ayo kita siapkan diri kita" Ali membawa Leo kedalam gendongannya, ia kemudian mengecup pipi anaknya dengan penus semangat.


"Ayo daddy!!!!!! " Soraknya gembira.



*******



Selama diperjalanan tidak henti-hentinya mulut Prilly mengomel, ia kesal sekali, ia bahkan sudah merencanakan akan memberikan cubitan, pukulan atau... Ah! Tamparan mungkin untuk menghadihi suaminya yang membuat ia sungguh sangat kesal. Rasanya sudah tidak sabar. Dan... Kenapa sedari tadi ia tidak sampai-sampai, rasanya lama sekali, oh.. Sungguh ketika kita sedang tidak sabar kenapa semuanya terasa sangatlah lambat.


Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 16 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

CRY WEDDINGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang