gumiho bab 2

235 18 0
                                        














___________










Malam semakin larut.
Hujan turun perlahan di luar penginapan tua itu, mengetuk atap kayu dengan irama yang tenang… hampir menenangkan.
Di dalam—cahaya lampu minyak bergoyang pelan.
Dan dua orang yang seharusnya tidak pernah bertemu…
terjebak dalam satu ruang yang sama.

Sunoo duduk di tepi ranjang kayu.
Lukanya telah dibersihkan, dibalut dengan kain putih yang rapi. Semua itu dilakukan oleh tangan seorang pangeran… sesuatu yang tidak masuk akal bahkan bagi dunia manusia.
Namun yang lebih tidak masuk akal—
adalah sikap pria itu sendiri.
Park Sunghoon tidak pernah sekalipun memandangnya dengan cara yang sama seperti pria lain.

Tidak ada keinginan.
Tidak ada keserakahan.
Tidak ada niat tersembunyi.
Dan itu—mengusik.
“Apakah masih terasa nyeri?”
Suara Sunghoon memecah keheningan.
Ia berdiri tidak jauh dari sana, tangannya sibuk merapikan kain yang tersisa. Gerakannya tenang, teratur… seolah ia sudah terbiasa merawat seseorang.

Sunoo menatapnya.
Lama.
“Tidak lagi, Yang Mulia.”
Ia tersenyum tipis.
Senyum yang telah menelan begitu banyak nyawa.

Biasanya—
itu cukup.
Namun Sunghoon hanya mengangguk pelan.
“Syukurlah.”
…itu saja.

Sunoo menyipitkan mata.
Ada sesuatu yang salah.
Ia bangkit perlahan dari tempat duduknya.
Langkahnya ringan, nyaris tanpa suara. Ia mendekat… hingga jarak di antara mereka hanya tersisa satu hembusan napas.

“Yang Mulia…”
suaranya merendah.
Lembut.
Menarik.
Sunghoon terdiam.
Namun ia tidak mundur.

“Bukankah aneh…” lanjut Sunoo, menatap langsung ke matanya,
“…seorang pangeran mengurus seorang wanita asing seperti ini?”
Hening sejenak.
Sunghoon menatapnya balik.
Dalam.
Tapi tetap tenang.

“Apakah membantu seseorang kini menjadi hal yang aneh?”
Sunoo terdiam.
Jawaban itu—terlalu lurus.
Terlalu bersih.
Ia mengangkat tangan.
Pelan.
Menyentuh kerah hanbok Sunghoon.
“Jika aku berkata…” bisiknya,
“…bahwa aku bukan orang baik…”
Jarak mereka semakin dekat.
“Apakah Yang Mulia masih akan memperlakukanku seperti ini?”

Sunghoon tidak langsung menjawab.
Tatapannya tidak goyah.
Tidak berubah.
“Aku tidak mengenalmu cukup dalam untuk menilai,” ucapnya akhirnya.
“Namun seseorang yang terluka di hadapanku… tetap seseorang yang harus ditolong.”
Sunoo membeku.
Untuk sepersekian detik—ia kehilangan ritme.
Tangannya perlahan turun.

“…kau aneh.”
Sunghoon tersenyum tipis.
“Banyak yang mengatakan hal yang sama.”
Sunoo memalingkan wajah.

Kesal.

Ini tidak berjalan seperti biasanya.
Ia kembali duduk, menyilangkan kaki dengan santai.
Namun matanya tidak pernah lepas dari pria itu.
Mengamati.
Menghitung.
Mencari celah.

“Yang Mulia belum menjawab pertanyaanku.”
Sunghoon mengangkat alis tipis.

“Pertanyaan yang mana?”

“Apakah Yang Mulia tidak takut padaku?”
Hening.

Hanya suara hujan yang terdengar.
Sunghoon berjalan mendekat.
Namun kali ini ia berhenti menjaga jarak.
“Aku tidak melihat alasan untuk takut.”

“Bagaimana jika aku berbahaya?”

“sudah ku bilang Semua orang bisa berbahaya.”
Jawaban itu lagi.

Sunoo menghela napas pelan.
“Tidak menyenangkan berbicara dengan seseorang yang terlalu masuk akal.”
Sunghoon terkekeh kecil.
“Dan tidak mudah memahami seseorang yang terus menghindari jawaban.”
Sunoo menatapnya tajam.

RED ROSE (Sunoo Harem) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang