gumiho bab 1

530 30 0
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.












_________

















Tidak semua monster lahir dari kegelapan.
Beberapa… diciptakan oleh manusia.
Desa di kaki gunung itu selalu menutup pintu sebelum matahari tenggelam. Bukan karena dingin. Bukan karena takut pencuri.
Tapi karena sesuatu yang lebih buruk dari kematian… berkeliaran di malam hari.
“Jangan keluar malam ini,” bisik seorang ibu pada anaknya.
“Ada rubah itu lagi.”
Anak kecil itu memeluk selimutnya erat.

Sang ibu tidak menjawab.
Ia hanya menutup jendela lebih rapat.
Malam turun.Dan bersama itu—dia datang.
Langkahnya pelan di antara pepohonan.
Hanbok putihnya bersih… terlalu bersih untuk seseorang yang hidup dari kematian. Rambut hitam panjangnya jatuh tanpa hiasan.
Wajahnya—sempurna.

Indah.
Memikat.
Mematikan.
Di balik bayangan bulan—sesuatu bergerak.
Satu… dua…delapan ekor putih perlahan terbuka. Dan satu ruang kosong… yang tampak seperti luka yang tidak pernah sembuh.
Sunny tersenyum tipis.

“Manusia…”
bisiknya pelan.

Ia tidak perlu berburu lama. Selalu ada pria bodoh yang berjalan sendirian di malam hari.
Seorang pemuda muncul di jalan setapak.
Mabuk.
Langkahnya goyah.Dan saat ia melihat Sunny—
ia berhenti.
“Ah… nona…”
Senyumnya melebar.

Seperti semua pria lainnya. Sunny menunduk sedikit, pura-pura takut.
“Aku… tersesat,” ucapnya lirih.

Suara itu lembut, Rapuh, Diciptakan untuk menipu. Pemuda itu langsung mendekat.
“Tersesat? Malam-malam begini?”
Ia tertawa kecil. “Berbahaya sekali… kalau sendirian.”
Sunny mengangkat wajahnya perlahan.
Mata mereka bertemu.
Dan saat itu—semuanya sudah terlambat.
“Kalau begitu…”
bisiknya.
“…temani aku sebentar.”
Ia menyentuh tangan pria itu.

Pelan.
Hangat.
Lalu—sesuatu berubah. Mata Sunny meredup.
Kilatan merah muncul di balik irisnya.
Udara di sekitar mereka menjadi berat.
Pemuda itu membeku.
Senyumnya hilang.
Digantikan ketakutan yang terlambat.
“A-apa… kau—”
Terlambat.

Energi hidupnya mengalir. Seperti ditarik keluar dari tubuhnya.
Pelan.
Menyakitkan.
Tak terhindarkan.

Ia mencoba berteriak, Tidak bisa. Tubuhnya melemah. Kulitnya memucat, Dan Sunnydai—
menutup matanya.

Menikmati.
Hangat.
Kuat.
Hidup.

Beberapa detik kemudian tubuh itu jatuh ke tanah, kosong, Tak bernyawa, sunny membuka mata.
Menatapnya tanpa emosi.
“Lemah.”
Ia berbalik.

Meninggalkan mayat itu begitu saja. Seperti yang selalu ia lakukan. Dan seperti yang selalu terjadi—besok pagi, desa akan gempar.


____

RED ROSE (Sunoo Harem) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang