_____________
istana terasa berbeda, tidak ada suara langkah pelayan. Tidak ada bisikan para penjaga.
Semua telah disiapkan, Semua telah ditinggalkan. Kamar itu dihias indah, Lilin-lilin menyala di setiap sudut, memantulkan cahaya hangat di dinding yang tertutup kain tipis berwarna lembut. Aroma bunga memenuhi udara, halus… hampir memabukkan.
Dan di tengah semua itu—dua insan berdiri dalam diam.
Sunoo Dan Sunghoon.
Mereka akhirnya sampai di titik ini. Namun anehnya tidak ada yang bergerak lebih dulu.
Sunghoon berdiri tidak jauh.
Tangannya sedikit menegang, tatapannya tertahan. Ia belum pernah melewati batas itu.
Belum pernah sedekat ini dengan siapa pun.
Dan untuk pertama kalinya ia tidak tahu harus melakukan apa.
Sunoo memperhatikannya.
Diam.
Namun matanya lembut, ia bisa merasakan itu.
Keraguan.
Kehati-hatian.
Dan sesuatu yang lain, ketulusan.
Senyum kecil muncul di bibirnya.
“Ada hal yang ingin aku tunjukkan padamu.”
Suara itu lembut namun pasti.
Tanpa menunggu jawaban sunoo berbalik.
Langkahnya mengarah ke bagian dalam ruangan. Kamar mandi pribadi, Asap hangat mengepul dari kolam kecil di dalamnya. Airnya jernih, memantulkan cahaya lilin yang mengelilinginya. Kain-kain transparan menggantung di sekitarnya, bergerak pelan mengikuti hembusan angin malam.
Cahaya bulan masuk melalui jendela terbuka.
Putih.
Tenang.
Sunghoon mengikuti, Langkahnya lebih pelan.
Ia berhenti di tepi kolam. Menatap punggung Sunoo. Wanita itu berdiri di sana, Dalam balutan gaun tipis yang jatuh lembut mengikuti lekuk tubuhnya.
Indah.
Namun malam ini bukan itu yang ingin ia tunjukkan, Sunoo berbalik.
Matanya bertemu dengan mata Sunghoon.
Tanpa kata ia mendekat, tangannya terangkat.
Perlahan melepas jubah yang dikenakan pria itu.
Gerakannya hati-hati, namun tidak tergesa,
Seolah ia memberi waktu untuk memahami.
Lalu ia meraih tangan Sunghoon.
Dingin.
Seperti biasa, Dan menuntunnya masuk ke dalam kolam.
Air hangat menyentuh kulit mereka.
Riak kecil terbentuk di antara langkah-langkah pelan itu, Mereka berhenti di tengah.
Berhadapan.
Sangat dekat.
“Setelah ini…”
suara Sunoo hampir seperti bisikan,
“…jika kau membenciku pun, aku tidak akan menyesal.”
Sunghoon tidak langsung menjawab.
Namun ia tidak mundur, saat sunoo mendekat sedikit lagi, kening mereka bersentuhan.
Napas mereka beradu, Hangat, Berbeda.
Tangannya naik, Menyentuh dada Sunghoon.
Merasakan detak jantung itu yang selalu ia dengar menenangkan. Lalu tangan nya semakin naik ke leher.
Dan saat itu cahaya bulan jatuh tepat pada tubuhnya.
Perlahan sesuatu berubah, Rambut hitam panjangnya memudar, Menjadi putih.
Bersinar lembut seperti cahaya itu sendiri.
Matanya, berubah, dari gelap menjadi biru terang.
Hidup.
Dalam.
Ekor-ekor putih itu perlahan muncul satu persatu.
Satu…
dua…
hingga delapan.
Bergerak perlahan di belakangnya, Seperti bagian dari malam itu sendiri.
Sunoo berdiri di sana, tanpa menyembunyikan apa pun.
Tanpa topeng nya lagi.
“Aku bukan manusia… ya mulia.”
Sunyi.
Air di sekitar mereka nyaris tidak bergerak.
Sunoo menatapnya, jelas ada ketakutan di matanya.
“Aku adalah… monster.”
Hening.
Tidak ada jawaban, detik terasa lebih lama.
Sunoo menunduk sedikit, Ia sudah tahu ini akan terjadi.
Ia sudah siap untuk melihat kebencian itu.
Namun tetap saja dadanya terasa sesak.
Sampai akhirnya riak air terdengar.
KAMU SEDANG MEMBACA
RED ROSE (Sunoo Harem)
Short StoryKim sunoo sub All member enhypen dom #sungsun #sunjay #yangsun #sunjake #heesun One shoot bxb Bukan untuk homophobic 🔞🔞
