_____
“Tapi aku…”
Kalimat itu terhenti.
Menggantung di udara yang mulai terasa lebih berat dari biasanya.
Taman belakang istana tampak tenang seperti biasa. Angin berhembus pelan, menggoyangkan dedaunan yang mulai menguning. Cahaya senja jatuh di antara cabang-cabang pohon, menciptakan bayangan panjang di tanah.
Namun di antara ketenangan itu ada sesuatu yang berubah.
Park Sunghoon terdiam.
Matanya tidak lagi menghindar.
Tidak lagi ragu.
Sunoo berdiri di hadapannya.
Menunggu.
Tanpa menyadari bahwa dalam beberapa detik
hidupnya akan berubah.
Tiba-tiba sunghoon melangkah mendekat.
Tangannya terangkat.
Menggenggam tangan Sunoo.
Dingin.
Seperti biasanya.
Namun kali ini ia tidak melepaskannya.
Perlahan ia menarik tangan itu.
Membawanya ke arah dadanya.
Dan menempelkannya di sana.
Degup.
Jantungnya berdetak.
Kuat.
Nyata.
Sunoo membeku.
“Aku akan menikah denganmu.”
Kalimat itu jatuh begitu saja.
Tanpa hiasan.
Tanpa ragu.
Sunoo mengangkat wajahnya.
Matanya melebar.
“Apa…?”
Sunghoon menatapnya.
Tenang.
“Aku menolak perjodohan itu.”
Sunyi.
“Aku mengatakan kepada mereka—”
ia berhenti sejenak,
“—jika aku harus menikah…”
Tatapannya semakin dalam.
“…maka aku akan menikah. Tetapi denganmu.”
Sunoo tidak bergerak.
Tidak bernapas.
Seolah dunia di sekitarnya berhenti.
Ini tidak masuk akal.
Tidak seharusnya terjadi.
Manusia tidak seperti ini.
Mereka mengambil.
Mereka memanfaatkan.
Mereka meninggalkan.
Itu yang ia tahu.
Itu yang ia yakini.
Namun pria ini—
“…kenapa?”
Suara Sunoo lirih.
Nyaris tidak terdengar.
Sunghoon tidak langsung menjawab.
Ia menunduk sedikit.
Namun genggamannya tidak melemah.
“Karena aku mempercayaimu.”
Sederhana.
Namun cukup untuk menghancurkan segalanya.
Sunoo terdiam.
“Selama ini… aku menyadari kedekatan kita,” lanjut Sunghoon pelan.
“Namun aku tidak berani memperjelasnya.”
Ia menarik napas.
“Aku tidak ingin memberikan sesuatu yang tidak bisa kupertanggungjawabkan.”
Matanya kembali menatap Sunoo.
“Tapi sekarang… aku sudah memilih.”
Sunyi.
“Aku tidak memilihmu karena kecantikanmu.”
Sunoo berkedip.
“Bukan karena kau berbeda.”
Jantungnya berdegup lebih cepat.
“Tapi karena… hanya di dekatmu aku merasa aman.”
Degup itu semakin kuat.
“Di dunia ini… aku bisa mati kapan saja.”
Sunoo menahan napas.
“Namun saat bersamamu—”
Sunghoon tersenyum kecil.
“—aku bisa bernapas dengan tenang.”
Hening.
Dan untuk pertama kalinya Sunoo tidak bisa menyangkal apa pun.
Semua yang ia yakini…
perlahan runtuh.
Tidak ada yang pernah memilihnya.
Tidak ada yang pernah benar-benar ingin tinggal.
Semua yang datang pada akhirnya pergi.
Atau mati.
Namun pria ini Air mata jatuh.
Tanpa ia sadari.
Sunoo menunduk.
Bahunya bergetar.
Tangis itu pecah.
Bukan tangis yang ditahan.
Bukan tangis yang dibuat.
Tapi tangis yang terlalu lama terkubur.
Untuk pertama kalinya ia merasa…
diinginkan.
Bukan sebagai alat.
Bukan sebagai makhluk.
Tapi sebagai dirinya.
Sunghoon terdiam.
Ia tidak mengerti sepenuhnya.
Namun ia tidak melepaskan tangan itu.
Ia hanya berdiri di sana.
Menunggu.
Memberi waktu.
Dan itu lebih berarti dari apa pun.
“Aku…”
suara Sunoo terputus di antara isakan.
Ia mengangkat wajahnya.
Matanya basah.
Namun tidak lagi kosong.
“…tidak pernah ada yang seperti ini.”
Sunghoon tidak berkata apa-apa.
Namun genggamannya menguat.
Dan itu cukup.
Perlahan Sunoo menenangkan dirinya.
Tangisnya mereda.
Namun perasaannya tidak.
Ia menatap pria di hadapannya.
Lebih dalam dari sebelumnya.
Dan untuk pertama kalinya ia membuat keputusan.
KAMU SEDANG MEMBACA
RED ROSE (Sunoo Harem)
Cerita PendekKim sunoo sub All member enhypen dom #sungsun #sunjay #yangsun #sunjake #heesun One shoot bxb Bukan untuk homophobic 🔞🔞
